Sejak...

Sejak aku terkunci di ruang sempit ini
Aku jadi banyak merenung
Bagaimana aku yang dulu pernah jadi putra terbaik bangsa
Sekarang jadi bertetangga dengan perampok pencuri dan pemerkosa
Hanya sementara katanya,
Sebelum aku dipindahken ke ”lubang tikus” lain entah di mana

Dulunya aku aktivis mahasiswa
Berjaket berikatkepala
penuh keyakinan kuteriakkan kata-kata ” Lawan !”
menyumpahi para serdadu bersepatu lars
menyerapahi para birokrat yang ber-monoloyalitas

Kutanggalkan jaketku saat kutinggalkan dunia mahasiswa penuh euphoria
Lalu kuaplikasikan ilmuku untuk mengejar setoran
Takpapa jadi tukang bagi raksasa kapital mancanegara
Yang jelas gaji 8 digit aku dapatkan di tahun ketiga
Buat modal melamar buah hati dari kampus tetangga

Umur 35 aku jadi direktur utama
Rumah tanah mobil semua aku punya
Dan tak lupa , tentu saja, ehm , sekertaris yang jelita

Bahkan sebelum paruh baya aku sudah hampir di puncak dunia
Saat itu sahabatku mengenalkan permainan yang baru
Kau dapat meraih segalanya, katanya, asalkan kau punya kuasa
Lantas aku jadi aktivis parpol ternama
Dan tak lama kemudian aku jadi dirut BUMN terkemuka

Tentu saja aku harus balas jasa pada ”mereka”
Kumainkan semua anggaran, demi mengejar setoran
Tak lupa kusisihkan barang 5-10 M untuk tabungan masa depan
Lantas suatu hari ada proyek raksasa
Dan tentu saja ”mereka ” segera meneriakkan titahnya
”Proyek ini harus jadi milik kita ”
Aku terpaksa menggunakan semua cara
Lobi sini lobi sana, sogok sini sogok sana
Mulai dari karaoke, panti pijat sampai ke Hotel Mulia

Entah siapa yang akhirnya bicara
Saat itu aku hendak setor ke salah satu anggota dewan
Tunai , cek perjalanan lengkap dengan bonus perawan
Tiba-tiba Punggungku ditepuk dari belakang
”Bapak kami tangkap , karena menyalahgunakn uang negara”
Dan besoknya aku jadi foto berita utama
Lengkap dengan seragam biru bertuliskan KaPeKa

Sejak aku terkunci di ruang sempit ini ....
Aku cuma bisa berdoa
Semoga putra dan putriku yang sekarang di Elektro dan Farmasi
tidak bernasib seperti ini....

(lamunanku terbuyar oleh teriakan sipir penjara,
”Pak , ditunggu pengacaranya di muka, katanya vonis bapak akan
dibacakan pukul tiga” )