Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

It's time to change, PSSI!

Hari ini, tanggal 26 bulan 12 tahun 2010, tepat 6 tahun setelah bencana alam tsunami yang memporak-porandakan bumi Aceh. Dan hari ini pula, sebuah tragedi di dunia persepakbolaan nasional kembali terjadi, yang mencoreng nama bangsa kita di mata khalayak dunia.

Chaos terjadi di Stadion kebanggaan rakyat Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno. Ribuan orang terlibat kekisruhan saat mengantre untuk membeli tiket kategori 3 di final leg 2 AFF Suzuki Cup, yang mempertemukan 2 musuh bebuyutan, Indonesia dan Malaysia. Menurut saya, jelas emosi para penonton para penonton gampang tersulut, karena mereka terpaksa menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Namun, ketidakmampuan panitia ticketing yang koordinasinya diatur LOC dan juga PSSI jelas merupakan sumber dari semua masalah.

Kekisruhan ini juga jelas merupakan puncak kegagalan kerja PSSI di bawah Nurdin Halid yang memang kian lama desakan untuk mundur semakin membesar. Pemerintah sebagai pemegang aspirasi rakyat sebenarnya tidak diam seribu bahasa melihat masalah di PSSI. Melalui KSN beberapa waktu yang lalu, memang diharapkan ada perubahan yang dilakukan oleh PSSI. Namun, janji mereka untuk berubah hanyalah sekedar hembusan janji surga.

Hal ini mau tidak mau harus kita maklumi, karena bukan kepada pemerintahlah PSSI harus mempertanggungjawabkan kinerjanya, karena apa yang mereka lakukan hanyalah tunduk kepada otoritas sepakbola dunia atau FIFA. Bahkan, FIFA akan memboikot keterlibatan sebuah Negara di ajang internasional bila terbukti pemerintah Negara tersebut turut campur tangan atau melakukan intervensi ke otoritas sepakbola Negara bersangkutan. Maka, tidaklah heran jika SBY (yang bisa saya bilang sangat taat aturan yang jelas-jelas buruk) tidak banyak berkutik untuk mereformasi PSSI.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi masalah ini?
Kuncinya hanya satu. Menurut saya, jelas aturan FIFA diatas tentu harus segera direvisi. Dan semestinya kekisruhan yang terjadi baru-baru ini sudah menjadi alasan yang cukup bagi Sepp Blatter dan jajarannya. Atau, bila FIFA tidak merasa bahwa aturannya harus direvisi, kinerja Nurdin Halid dan jajarannya selama ini bisa menjadi pertimbangan.

Yah, miris memang, karena resikonya adalah kita tidak bisa mengikuti semua event internasional di bawah koordinasi FIFA. Namun, mengingat bahwa kualitas tim nasional kita (yang walaupun saat ini cukup baik dan membangkitkan euphoria masyarakat) kalah dari bangsa lain, ke-tidakterlibat-an kita di ajang internasional rasanya bukan menjadi masalah. Jika sudah begitu, intervensi PSSI langsung untuk direformasi adalah wajib hukumnya. Garuda di dada!!

'If', by Joseph Rudyard Kipling

If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you;
(Jika kau bisa bertahan kala semua yang kau miliki hilang dan meninggalkanmu;)
If you can trust yourself when all men doubt you,
(Jika kau dapat memercayai dirimu ketika semua orang meragukanmu,)
But make allowance for their doubting too;
(Sekaligus menghargai keraguan mereka;)
If you can wait and not be tired by waiting,
(Jika kau bisa menunggu dan tak pernah lelah menunggu,)
Or, being lied about, don't deal in lies,
(Atau dibohongi, jangan pernah berbohong,)
Or, being hated, don't give way to hating,
(Atau dibenci, jangan beri jalan untuk kebencian,)
And yet don't look too good, nor talk too wise;
(Jangan pula terlihat terlalu baik, atau berbicara terlalu bijak;)

If you can dream - and not make dreams your master;
(Jika kau bisa bermimpi-dan tidak menjadikan  impian sebagai majikanmu;)
If you can think - and not make thoughts your aim;
(Jika kau bisa berpikir-dan tidak menjadikan pikiran sebagai tujuanmu;)
If you can meet with triumph and disaster
(Jika kau bisa menghadapi kejayaan dan bencana)
And treat those two imposters just the same;
(Dan bersikap sama saat menghadapi keduanya;)
If you can bear to hear the truth you've spoken
(Jika kau bisa mendengar kebenaran dalam kata-katamu)
Twisted by knaves to make a trap for fools,
(Diputarbalikkan untuk menjebak si bodoh,)
Or watch the things you gave your life to broken,
(Atau melihat hal-hal yang kau perjuangkan hancur,)
And stoop and build 'em up with wornout tools;
(Namun kau masih bisa membangunnya kembali;)

If you can make one heap of all your winnings
(Jika kau masih bisa menumpuk semua kemenanganmu)
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
(Dan mempertaruhkannya habis-habisan,)
And lose, and start again at your beginnings
(Lalu kalah, dan memulai dari awal lagi)
And never breath a word about your loss;
(Tanpa pernah menyebut kekalahanmu;)
If you can force your heart and nerve and sinew
(Jika kau bisa memaksa hati, keberanian, dan ototmu)
To serve your turn long after they are gone,
(Untuk tetap berjuang setelah kekalahan,)
And so hold on when there is nothing in you
(Dan untuk bertahn ketika kau tak lagi memiliki apa pun)
Except the Will which says to them: "Hold on";
(Kecuali niat yang berkata, "Bertahanlah";)

If you can talk with crowds and keep your virtue,
(Jika kau bisa berbicara pada banyak orang dan tetap bersikap baik,)
Or walk with kings - nor lose the common touch;
(Atau berjalan bersama sang raja - tanpa kehilangan kerendahan hati;)
If neither foes nor loving friends can hurt you;
(Jika musuh atau teman tidak bisa menyakitimu;)
If all men count with you, but none too much;
(Jika semua orang mengandalkanmu, dengan cara yang tidak berlebihan;)
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds' worth of distance run -(Jika kau tetap bisa memenuhi satu menit penuh kemarahan dengan enam puluh detik ketenangan - )

Yours is the Earth and everything that's in it,
(Maka Bumi dan segala isinya adalah milikmu,)
And - which is more - you'll be a Man my son!
(Dan - lebih dari itu - kau akan menjadi seseorang yang berguna, anakku!)

Pelajaran Hari Ini

Cukup banyak kejadian-kejadian yang hadir dari kemarin malam. Awalnya saya membaca status teman-teman di Facebook yang mengharapkan cinta, yah boleh dibilang cinta bertepuk sebelah tangan. Sudah berapa tahun ya dia begitu? Tepat tahun ini berarti 6 tahun..cinta memang gila

Dan mendadak saya dapat ilham, bukan untuk memberi saran kepada teman saya itu, tapi ke diri sendiri. Yaitu, daripada membuat orang lain tersinggung, marah, emosi, tidak senang kepada kita karena perlakuan kita ke orang lain, mengapa tidak kita melakukannya ke diri sendiri? Yah maksudnya mencoba lebih peka, lebih mengutamakan hati, karena memang benar bila laki-laki itu lebih mengutamakan logika, dan hatinya disimpan di kulkas biar dingin (emang es?) :D. Dan melalui semedi yang tidak tuntas karena besoknya mau ikut tes PTN, jadilah saya mendapat ilham, apa yang sebenarnya ingin disampaikan orang-orang sukses, apa yang disampaikan Mario Teguh malam ini. No pain, no gain. Sangat tepat, sangat tepat sekali kata-kata itu. Untuk memperbesar kemampuan kita dalam menampung kebahagiaan, satu-satunya cara hanyalah membuat kita terus bersedih. Karena dengan bersedih, selain kita lebih banyak memohon kepada Tuhan, hati kita lebih terasah, dan lambat laun lebih dewasa, walaupun dalam prosesnya malah dihina-dinakan orang sebagai sikap yang cupu, cengeng, labil. Tapi kelabilan itu sendirilah proses menuju kedewasaan, Jadi kalo banyak teman yang menyebut ABG itu labil saya bukan ABG, untung saja.. :D), coba diganti dengan pake kata childish aja, klo gaolz gitu (haha). Tiap orang punya cara sendiri untuk menjadi dewasa. Ada yang umur 5 tahun sudah berpikir dewasa (Shincan bukan contoh yang tepat, ya :D), ada yang saat di SMA baru dewasa, ada yang bahkan saat menjelang sakaratul maut (sekarat mau mati maksudnya :D) baru dewasa. Dewasa disini beda ya dengan akil baligh, karena akil baligh menurut saya adalah dorongan dari tubuh yang memaksa kita untuk dewasa. Dan saya jadi cukup tercerahkan hari ini, terlepas hari ini agak ngambek karena mendapat kesulitan, tapi yasudahlah. No pain, no gain. Mundur 1 langkah untuk melompat 2 langkah. Mundur 2 langkah lalu berlari marathon setelah itu. Dan semoga Anda yang membaca ini dapat tercerahkan, walaupun hidayah itu bukan datang dari tulisan ini saja. :)

Mahalnya opoortunity cost untuk sebuah hal

Apakah hal yang saya maksud itu? Tak lain adalah pengalaman, experience kalau orang British sana bilang.
Karena pengalaman selalu mengajarkan banyak hal, menafsirkan makna hakiki dari suatu peristiwa, menjernihkan pikiran kusut, melapangkan dada sesak.
Menjelang umur kepala 2 saya, dan 19 tahun hidup berseni yang telah ditempuh, masih sedikit yang baru saya tahu. Bisa saja saya katakan kalau saya tahu banyak hal, kenyatannya malah menunjukkan kalau saya masih berpangkat rendah dalam berilmu. Di bumi ini, semua manusia bisa berpendapat, berteori bahasa kerennya, tapi berapa banyak yang teorinya itu diakui, lalu diangkat menjadi Postulat atau bahkan Dalil? Tidak banyak, itu jawabannya.
Jadi, orang boleh berteori tentang apa pun, termasuk kepada kita, tapi belum tentu teori mereka benar. Untuk membuktikannya, kita sendirilah yang harus melakukan pembuktian. Film dokumenter "By The People: The Election of Barack Obama" cocok untuk menunjukkan sedikit maksud saya ini.
Dulu, saya jamin pasti banyak orang mencibir Bill Gates, Einstein, Sergey Brin dan Larry Page (pendiri Google) adalah orang-orang gagal karena terkena Drop Out dari kampusnya. Sekarang? Hampir semua orang punya akses ke komputer, dan mayoritas OS adalah Microsoft, karya Bill Gates. Banyak fisikawan mengagumi kejeniusan Einstein, bahkan untuk menginterpretasikan Teori Relativitasnya perlu dibuat satu jilid buku sendiri, dan tiap versi buku-buku itu beda pemahamannya, tergantung siapa penulisnya. Orang yang dulu menghina-dinakan Brin dan Page mungkin banyak yang harus menjilat air liur sendiri karena menganggur dan memanfaatkan Google Adsense untuk mencari uang. Who knows?
Nabi Muhammad SAW dulu pernah dicap gila karena sering "semedi" di gua, pikirannya sinting, dan sekarang? Sudah 1425 (mungkin lebih, lupa juga waktu nulis ini) tahun Hijriyah sejak kepindahannya dari kota Mekah Al Mukarramah karena dianggap gila, tapi apa Al Qur'an dan Hadits serta ajaran perilakunya dianggap gila juga sekarang?
Maka, bersemangatlah kawan! La Tahzan (Jangan Bersedih)! Waktunya untuk menunjukkan kepada mereka siapa kita sebenarnya!

Lupakan saja semuanya!

“Pejabat negara ini pengkhianat semua! Bakar saja semua penghargaan itu, Bu!” itulah telefon dari Bapak Antasar, seorang mantan pejuang bangsa, yang ditayangkan acara Metro Pagi dan ditujukan untuk saudara senasibnya, Ibu Soetarti Soekarno, janda pejuang R. Soekarno..

Beberapa dari kita pasti tidak akan melupakan istilah yang dikobarkan Bung Karno, yakni “Jas Merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Entah dengan motif apa yang diusung oleh mereka yang menuntut rumah pemberian Negara itu (yang akhirnya diakui sebagai rumah dinas milik Perum Pegadaian)
Kemanakah otak mereka? Saya juga tidak tahu. Memang makin lama yang namanya hati nurani makin tidak terdengar suaranya. Dan entah apa lagi bencana yang menimpa bangsa ini karenanya.

Just Do It!

Just Do It, sebuah moto, juga pesan yang diungkapkan oleh Nike, perusahaan ambisius asal Amerika, ya Amerika Serikat yang lebih sering kita hujat karena permainan kotornya.
Menurut anda, anehkah saya membahas Nike, disaat semua orang heboh bahas Century, sebuah permasalahan di dunia moneter yang diseret-seret ke ranah politik? Saya pilih iya, dan juga tidak. Pilihan "ya" dipilih karena saya mencoba melawan arus pemikiran di masyarakat, entah itu doktrinisasi, atau buah pemikiran yg dilakukan para provokator, atau juga manusia-manusia oportunis. Kenapa hal itu saya katakan? Karena sekarang sudah jaman edan, dimana mungkin kejujuran masih ada, tapi mudah tenggelam dan hilang entah ke mana karena berbagai macam kepentingan. Dan saya berani mengatakan bahwa saya tidak ikut campur dengan mereka. Mendengar nama Century aja baru saat beritanya heboh. Lagipula untuk apa lagi ikut campur? Saya ini cuma rakyat biasa.
Pilihan "tidak" dipilih karena tentu kita bosan akan kasus itu, yg entah dirancang oleh siapa sehinga prosesnya menjadi lama. Dan mulailah tulisan ini semakin menyimpang dari tujuan saya menulis sekarang.
Nike, sebelumnya bernama Blue Ribbon Sport itu terinspirasi dari perjuangan keras seorang pelari terkenal di jaman 70'an bernama Steve Prefontaine, yang akhirnya difilmkan pada tahun 1998 dengan judul Without Limits. Yang dikisahkan tentang masa hidupnya saat masih muda di Oregon, lalu belajar di University of Oregon dimana ia terus mengasah kemampuannya bersama pelatih legendaris Bill Bowerman, dimana orang yang disebut terakhir tadi bersama Philip Knight mendirikan Blue Ribbon Sports pada 25 Januari 1964, yang terinspirasi oleh perjuangan Steve Prefontaine, dan kebetulan sepatu terakhir yang digunakannya untuk cross country adalah sepatu pertama yang dibuat oleh Bowerman.
Bila anda masih bingung dengan film ini, saya sarankan cobalah menontonnya. And please learn how American people achieve and appreciate the others.
Semoga kita dapat menemukan pesan dan ilmu dari tulisan tak jelas yang satu ini. Dan mari kita simak dua quotes berikut:

"I don't want to win unless I know I've done my best, and the only way I know how to do that is to run out front, flat out until I have nothing left. Winning any other way is chicken-shit." -Steve Prefontaine.

"Running, one might say, is basically an absurd past-time upon which to be exhausting ourselves. But if you can find meaning, in the kind of running you have to do to stay on this team, chances are you will be able to find meaning in another absurd past-time: LIFE." - Bill Bowerman.

Kenapa ya?

kenapa ya, orang Indonesia kan otaknya canggih2, terbukti dengan mendominasi Olimpiade Internasional.
tapi saat tenaga kerjanya diadu dengan negara lain, bahkan di wilayah ASEAN sekalipun, malah tidak berkutik??

Masih seputar ironi

Ironi, apa sih maksudnya?
menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang disediakan http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi, adalah kejadian atau situasi yg bertentangan dng yg diharapkan atau yg seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir.
melihat definisi itu, saya menjadi tergelitik sendiri melihat realita di negeri ini. Walaupun banyak hal yang masih bisa dibanggakan. Mari kita tarik nafas sebelum mulai memberatkan otak dengan tulisan berikut
Mari kita mulai dari pengalaman sehari-hari di jalan, terutama jalanan Jakarta. Lalu lintas yang hiruk pikuk, kendaraan berseliweran, ada yang tertib, ada yang main serobot, ada juga yang berhenti dan parkir sembarangan. Entah dampaknya langsung atau tidak langsung, tapi kehidupan di jalan (termasuk orang yang memang tinggal di jalan), adalah cerminan kehidupan kita, kalau boleh dikatakan peradaban kita walaupun jadi sedikit naif. Selain yang sudah disebutkan, perilaku tidak tertib di jalan atau fasilitas umum lainnya banyak sekali. Dan tentu bukan cuma berdampak kepada diri sendiri, tapi juga berdampak ke orang lain, yah seperti istilah mereka anggota Panitia Khusus di dewan terhormat sana, sistemik sekali dampaknya.
Agak ribet dan susah kalau cuma berteori tanpa dasar, jadi saya beri contoh saja. Dan silahkan dinilai bagaimana pendapat dan nurani Anda berbicara.
Buang sampah sembarangan, bahkan ke sungai seperti rutinitas bagi mereka yang memang tinggal di pinggir (kasarnya bantaran) sungai. Tahukah anda, padahal sudah diberikan fasilitas berupa tempat sampah, yah walaupun memang jauh dari rumah. Maka yang terjadi kemudian adalah perilaku spontan, yaitu balik kanan, terlemparlah sampah ke sungai. Apa yang akan terjadi dengan sampah itu tidak mereka pedulikan, cuma diingat saja saat musim hujan mulai tiba. Tidak tahu kan harus disalahkan atau tidak perlikau itu, kan mereka bertindak spontan? Ya, banyak orang bilang mereka begitu karena tidak diberi penyuluhan (kasarnya tidak berpendidikan). Lantas bagaimana, sudah sifat mereka begitu. Ironis memang...hhmm...
Tarik nafas lagi..
Tanpa disadari, perilaku bermotif "serba spontan" itu berdampak sistemik, lho. Bermacam dampaknya, tapi intinya cuma 1, mencari keuntungan. Lantas keuntungan orang yang buang sampah sembarangan apa? Ya mereka tidak mau capek-capek memikirkan sampah itu. Sampah kan bau, menjijikkan, bernilai rendah, tidak berguna. Dengan mereka buang, selesai sudah pikiran mereka yang "menguras tenaga" tentang si sampah. Dibuang ke sungai, kata mereka, "itu hak saya, kan belakang rumah saya sungai". itu contohnya..
Dengan dicekoki televisi yang memberikan berbagai macam "keindahan", mereka yang dari berawal berprinsip hidup spontan pastinya tergiur. Berbondong-bondonglah mereka ikut ajang pencarian bakat (bahkan untuk masuk kuliah, bakat juga diuji, haha..), ikut casting, ikut sana, ikut sini..yang penting 1, mereka bisa tampil di TV dan dilirik orang, bagaimana orang meliriknya, itu hak masing-masing. Maka dengan mudahnya diprediksi, muncullah orang-orang bayaran. Kenapa mudah diprediksi? Ya wajar saja, dari dulu kita sudah mengenal Jame Bond, kan? Seorang agen rahasia bayaran karangan Ian Fleming. Walaupun tidak disebut bayaran, tapi dengan resiko nyawa seperti di film-filmnya, masak tidak dibayar?
Maka muncullah penonton bayaran, pengemis (bukan bayaran, tapi digerakkan agar mereka dibayar orang yang bersimpati), preman bayaran, bahkan...demonstran bayaran (untuk yang terakhir, bakal di bahas di salah satu acara).
Ya, tidak semua orang tahu hal-hal seperti itu. Menurut saya itu terjadi karena besarnya harapan rakyat kepada pemerintah, ya lapangan pekerjaanlah, kesejahteraanlah, kalau bisa semua digratiskan (kalau bisa..)
Jadilah barisan sakit hati itu mencari celah untuk bekerja. Acara hiburan televisi butuh penggembira agar dikatakan "meriah", terbuka celah para pencari penonton bayaran itu. Dan si pencari sekaligus pengerah penonton itu, asal anda tahu saja, gajinya bisa mengalahkan gaji insinyur atau wisudawan lulusan universitas dan kerja mapan. Dari mana si pengerah penonton itu dapat uang? Dari hasil narik (boleh saya katakan upeti) dari para penonton bayaran acara televisi (layaknya budak) itu yang biasanya dibayar selembar uang berwarna hijau (masih rupiah, bukan Dollar). Orang yang berunjuk rasa, atau apapun itu yang selalu bermodalkan arahan massa juga berubah dan melenceng dari tujuannya, karena ajakan tetangga karena di situ rame (entah melakukan apa) dan BAGI BAGI DUIT, dengan mengerikan ribuan orang langsung bergerak. Luar biasa kekuatan uang itu, padahal nilai mata uang kita itu sebenarnya menyedihkan, boleh dikatakan banci, seperti Andrea Hirata katakan.
Bukan bermaksud merendahkan mereka yang melakukan, tapi itulah realita di kehidupan negara kita. Negara lain? Tidak tahu juga. Mari bertanya kepada rumput yang bergoyang (kalau masih ada rumput).

Sedikit ironisme untuk direnungkan

Ironis...
Disaat banyak anak terancam busung lapar, dengan mudahnya uang sebayak 6,7 triliun rupiah digelontorkan untuk menyelamatkan sebuah bank gagal kelola.
Ironis..
Warga di belahan bumi selatan kelaparan karena ternaknya mati sedangkan warga di belahan bumi utara kelaparan karena untuk keluar mencari makanpun tidak bisa karena ekstremnya cuaca..
Seperti analogi roda, ada saat di atas ada juga saat di bawah
Ada siang dan malam
Ada si kaya dan si miskin
Itu semua hanya sebagian ironisme yang mudah dilihat. Tujuannya hanya 1
Menunjukkan kuasa Sang Pencipta
Sang Maha Segalanya
Si kaya dengan mudahnya bisa saja bernasib seperti si miskin
Si perkasa dengan mudahnya dapat terkapar selamanya di atas pembaringan
Semua telah diatur olehNya

Orkes Sakit Hati - Slank


jangan kau kecewakan aku lagi
aku gak mau menderita lagi
kalau ingkari janji
aku gak mau kebawa emosi
jangan biarkan aku sakit hati
karna ingkari janji

cinta dan kepercayaan yang kuberikan


jangan sampai kau sia-siakan
jangan ingkari janji

jangan, jangan kau bohongi aku lagi
banyak bicara cuma basa-basi
coba ingkari janji
semua yang kau inginkan selalu kuberi


kulakukan semua walau sampai mati
jangan ingkari janji

kebebasan yang kamu dapatkan


bukan jadikan boleh sembarangan
kamu sudah berjanji

jangan ingkari janji


mending jangan berjanji

Ternyata kita (harusnya) bisa

Melihat judul di atas, pasti udah bisa ditebak kalo posting membahas 1 hal: pemerintah :D
100 tahun (jangan lupakan 5 tahunnya juga) pemerintahan negara kita menyiapkan (kembali) fondasinya untuk 5 tahun ke depan (semoga kesampaian 5 tahun). Tapi saya gak mau ngomentarin orang yang di atas sekarang, tapi orang-orang di bawah mereka tapi di atas garis-garis kemiskinan. Ingat kan kalo bangsa kita pernah dijajah berabad-abad? Secara tidak langsung, hal itu menurut saya membentuk masyarakatnya. Culture stelsel, romusha, dan segala jenis pemerasan tenaga dilakukan penjajah. Hal ini membuat bangsa kita menjadi pekerja keras. Ya, kita jadi bekerja keras kalo DIPAKSA!! Pasti anotasi ini membuat telinga anda panas dan berhasrat mencari penulis posting ini dan ingin segera menggorok lehernya. Tapi itu kenyataan kan?  Oke kita cari bahasan lain. Apa ya? Oh, saya ingat
Bangsa kita yang dulu terdiri dari berbagai kerajaan yang berganti-ganti kehadirannya, punya beberapa warisan untuk kita. Bukan warisan fisik seperti candi dan prasasti lho. Tapi adalah warisan sifat. Apa itu? Bangsa kita (seperti sebelumnya), susah diajak untul bekerja oleh masing-masing raja mereka. Bangsa kita menganggap cukup dengan pemberian, atau hadiah, atau sedikit kemewahan yang dibagikan orang kerajaan saja mereka sudah makmur. Ya, memang makmur, tapi tidak sepenuhnya definisi "makmur" itu mereka raih. Karena mereka tetap saja miskin. Lha, kalau makmur kan bisa bikin kerajaan tandingan kan? Nah, kalau mereka merasa gak makmur, pasti akan merasa sangat kesal, tapi tidak pernah diungkapkan, yang pada akhirnya sering kita sebut "dendam kesumat". Emangnya gak boleh ya orang kesal? Ya boleh  saja, tapi dendam kesumat itulah yang memudahkan bule-bule sok ramah yang dalam sejarah kita kenal sebagai kompeni itu memprovokasi orang untuk melakukan pemberontakan yang pada akhirnya makin memperpecah bangsa. Makin banyak, dan terus bertambah jumlah kerajaan yang muncul, yang saya jamin juga membuat anda pusing belajar sejarah. Warisan itu masih ada sampai sekarang. Pemerintah selalu dituntut mensejahterakan rakyat, yang jujur saja sulit untuk menyejahterakan SEMUA walaupun harus mengubah Undang-Undang yang membolehkan bule memimpin negeri ini alias mempersilahkan penjajah datang lagi.
Makin tinggi tensinya, ya...
Sesuai judul, coba kita renungkan sifat kita yang pertama, yaitu bekerja keras kalau dipaksa. Cobalah kata "kalau" diganti dengan "tanpa". Harusnya kita sudah makmur tuh dari dulu.
Untuk mencapai inti dari tulisan ini, saya malah menyeret moyang kita ya...maka dari itu maafkan segala kesalahan dalam membuat tulisan ini, karena sesungguhnya cuma bermotif untuk memotivasi diri saya sendiri khususnya dan anda pembaca sekalian pada umumnya (serasa dakwah Jum'at ya :D)

Uthlubul ilma walau bishshin

Melihat perjalanan hidup rekan saya yang tengah berada di bagian terbawah siklus roda berputar, sebenarnya menggelitik keinginan untuk menulis di sini lagi. Haha
Dalam memandang sebuah kegagalan, tidak semua orang kan bisa menerima dengan baik kegagalan itu? Ilustrasinya begini, ada seorang anak SMP yang dengan hebatnya bisa masuk di SMA favorit semua orang di Indonesia. Tentunya siapapun yang mengenalnya pasti bangga kan? Nah, dalam perjalanannya mengarungi dunia SMA (halah), dia tergelincir dari arus persaingan manusia-manusia lebih cerdas, dan tahukah apa yang terjadi? Anak itu tidak naik kelas!! Si anak itu sendiri tahu dia sedang menghadapi marabahaya putus sekolah, tapi dia berusaha sekuatnya agar tidak tertinggal jauh, tapi nyatanya kembali gagal. Jika melihat fenomena yang sedang terjadi di masyarakat sekarang ini, normalnya dia sudah terjun payung (tanpa pakai parasut). Tapi dengan sikap ksatrianya, akhirnya dia mengibarkan bendera putih dan mencari lahan baru untuk "berperang". Sadar akan kapasitasnya, tentu dia kapok dengan sebutan "SMA favorit". Dia lebih memilih SMA yang biasa saja tapi bisa memberikan dia peluang untuk meniti sukses lagi. Tapi ya itulah masalahnya, lingkungan dia tetap memaksa untuk masuk SMA favorit lain, alasannya sederhana "biar kamu bisa masuk PTN yang top, kalau yang paling terfavorit bisa masa' yang terfavorit kedua gak bisa?". Luar biasa tidak menghargai posisi dia sekarang pikir dia. Dan pergemulan pikiran ini akan terus menyiksa dirinya, ya sampai dia dapat tempat lain. Atau bahkan malah masuk liang tanah 2x1 meter itu.
Sesuai dengan judul di atas, yang kalau boleh ditafsirkan berarti "tuntutlah ilmu walau ke negeri China". Rekan saya ini sudah mengadopsinya ke arah pemikiran yang menurut saya cukup bijak, tapi radikal dengan keinginan lingkungannya. "tidak apa saya melanjutkan belajar ke China walaupun saya gak suka sama lingkungannya, daripada membuang waktu belajar di Harvard atau MIT sana, yang walaupun dicintai dan dipuja banyak orang tapi tidak memikat hati saya lagi."
Lantas, bagaimana menurut anda?

Boleh tutup mata, tapi bukalah Hatimu!!

Asia Tenggara terkoyak...setelah badai Ketsana (dilanjutkan Badai Parma) di Filipina, Vietnam, dan lainnya, dasar bumi menggetarkan kerak bumi Sumatera bagian barat akhir September lalu...seketika banyak bantuan datang dari berbagai belahan dunia..bukan bermaksud apa-apa, tapi semua bantuan itu terkadang terbuang, tapi apadaya, masalah teknis kan? Tentu rekan-rekan yang sedang bertugas di sana berjuang seoptimal mungkin agar bantuan yang datang benar-benar diberikan kepada yang berhak..
Kawan, mari kita buka lagi hati kita..walaupun sedang hidup susah karena ekonomi yang makin sulit, tetaplah tegar, dan lihatlah saudara kita yang lebih membutuhkan...kita boleh menutup mata, tapi tutuplah mata ketika menekan tombol ENTER di mesin ATM saat mengirim dana kepada saudara-saudara kita. Boleh menutup mata ketika memberikan sebagian pakaian kita kepada mereka untuk dipakai. Boleh menutup mata setelah memberdayakan seluruh tenaga untuk mengevakuasi saudara kita yang terjebak di reruntuhan. Boleh menutup mata saat merasakan perihnya mendonor darah untuk saudara kita. Boleh menutup mata untuk sama-sama merasakan penderitaan yang telah dialami saudara kita.

Budi, teruslah bermain bola!



Masih ingatkah anda semua, sebuah iklan dimana Wayne Rooney bersama rekan-rekan satu tim Manchester United belajar bahasa Indonesia...
Ini Budi. Budi bermain bola.

Dengan lidah "inggris" mereka, diejalah 2 kalimat yang tertulis di papan tulis itu. Bagi kita orang Indonesia, hal tersebut terdengar unik dan lucu ketika mereka mengulang ucapan si ibu guru.
Tapi, mereka tersenyum. Seperti ada sesuatu yang aneh ketika mereka mengucapkan kalimat itu. Atau ada sensasi tersendiri yang mereka rasakan. Entahlah..

Dan roda kehidupan pun berputar. Bom mengguncang hotel tempat MU berencana menginap selama di Jakarta (kebetulan Ibrohim, otak pengeboman sendiri telah tewas digerebek Densus 88 di Temanggung). Suasanapun menjadi gelap dan hitam pekat. Tidak jelas lagi.
Tetapi di sana tertulis sebaris huruf yang membentuk kalimat di dasar warna hitam itu.
Budi, teruslah bermain bola.


Lalu siapa yang menulis pesan itu? Rooney? van der Sar? Giggs? atau bahkan Sang bos Sir Alex Ferguson? Who knows? Yang pasti, Rooney dan rekan-rekannya tak lagi berada di ruang kelas untuk membaca. Jangankan ke kelas, ke Indonesia saja tidak mau. Mereka takut Indonesia tidak bisa menjamin keamanan dan keselamatan mereka. Sebuah hal yang wajar. Mereka lebih percaya dengan Malaysia, bahkan mengajak tim Indonesia All-Star untuk bermain di Malaysia saja. Anda sekalian yang mendapat undangan itu, apakah tidak merasa malu? Kalau saya sudah tidak tertahankan malunya dengan mereka-mereka di Malaysia.

Yah, apapun yang terjadi, banyak pesan yang ditinggalkan pada papan iklan di atas.

Pertama, menarik mengapa kreator iklan menggunakan tokoh budi untuk mendapatkan adegan main bola. Mengapa bukan Boas, Bambang atau siapa pemain bola top nasional. Budi memang legendaris. Walaupun sebatas hanya mampu memperkenalkan nama diri sendiri dengan ayah, ibu, kakak dan adiknya saja. Mungkin dengan Budi mulai bermain bola dengan MU maka menjadi langkah awal Indonesia untuk melegenda di pentas dunia.

Kedua, Indonesia teruslah bermain bola saja. Karena memang tak pantas bertanding sepak bola. Kemampuannya hanya sebatas bermain-main bola. Bukan menguasai bola dan mempermainkan si bola bundar hingga menampilkan permainan yang menawan sehingga layak bertanding dengan tim sepak bola dunia. Oleh sebab Indonesia hanya mampu bermain bola, sementara MU maunya bertanding sepak bola. Maka daripada MU terjangkit kelakuan bermain bola hingga menurunkan kualitas mereka, maka pertandingan itu urung dilaksanakan.

Ketiga, hidup terus berlanjut kawan, teruslah semangat. Ini pesan kuat yang saya tangkap, dan semestinya anda juga menangkapnya, bukan menangkap pesan-pesan yang lain di atas. Ada dorongan dan semangat yang dipompakan, agar budi terus bermain bola meskipun bom meneror Indonesia. Tak ada alasan untuk berhenti belajar dan mengasah diri dalam permainan sepak bola. Bahkan bom pun tak semestinya menjadi pemicu patah semangat budi untuk terus maju. Budi, sebagai manifestasi generasi muda Indonesia semestinya segera bangkit dan melanjutkan apa yang menjadi cita-citanya. Karena dengan “terus bermain bola”, terbuka peluang yang lebar, Budi akan menjadi pemain bola top dunia sekelas Wayne Rooney dan pemain MU lainnya.

Kalimat Budi teruslah bermain bola juga semestinya menginspirasi semua orang yang membaca pesan itu, termasuk saya. Bahwa apapun yang terjadi dalam diri kita, semestinya tidak membuat kita patah hati dan kehilangan semangat hidup. Melanjutkan apa yang telah dimulai sampai tujuan akhir perjalanan hidup. Bagi seseorang yang kehilangan bahu yang tak mampu lagi menjadi sandaran atau berbeda dengan sahabatnya. Atau perempuan yang tanpa lelah menunggu senja. Ucok yang yang menanyakan dimana sekolahnya. Atau yang merasakan pahitnya kejujuran. The show must go on! Teruskan hidupmu! Masih banyak cinta dan pengharapan di depan sana.

Standar Hidup Islam

Islam bukan hanya bicara masalah ibadah, bukan Cuma bicara masalah iman dan amal soleh. Namun Islam adalah ajaran hidup yang lengkap dan sempurna. Termasuk dalam hal ekonomi dan keuangan pun Islam memberikan solusi. Dan ada banyak sekali pelajaran mengelola keuangan yang bisa kita ambil dari ajaran Islam. Dan salah satunya yang akan kita bahas kali ini adalah tips menabung dari Rasulullah Muhammad saw.

Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya. [HR Muslim & Ahmad]

Menyisihkan kelebihan atau menabung, dalam hadits ini dijelaskan maksudnya yaitu untuk berjaga-jaga pada saat miskin dan membutuhkan. Memang sudah menjadi hukum alam bahwa roda perekonomian terus berputar seperti roda pedati. Terkadang kita berada di atas, namun roda yang terus berputar bisa menempatkan kita pada posisi yang paling bawah.

Dan kalau lebih cermat lagi, ternyata ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari hadits ini. Yaitu rumus menabung ala Rasulullah saw, dimana dijelaskan bahwa orang yang mendapatkan rahmat Allah bisa menyisihkan kelebihan, yaitu orang yang berusaha dengan usaha yang baik dan membelanjakan uang secara sederhana. Ada dua syarat untuk bisa menabung, yaitu sumber penghasilan dari usaha yang baik, dan mengelola pengeluaran dengan sederhana.

Mari kita bahas satu-persatu syarat untuk menabung dengan baik ini. Syarat pertama, adalah sumber penghasilannya dari usaha yang baik. Percaya atau tidak hanya uang halal yang bisa ditabung. Sedangkan untuk yang haram tidak bisa atau sangat sulit sekali untuk diinvestasikan. Tidak percaya?

Coba simak pemberitaan di media masa, kemana para koruptornya menyimpan uang hasil korupsinya? Mereka tentunya tidak akan berani menyimpan aset atas namanya sendiri, bisa terlacak aparat nanti. Mereka ternyata menyimpan uangnya di luar negeri agar tidak mudah terlacak, kalupun disimpan di dalam negeri asetnya bukanlah atas nama sendiri, melainkan dibuat atas nama saudara atau orang lain agar tidak ketahuan. Intinya, uang haram sulit untuk disimpan.

Simak juga cerita kriminal yang bisa kita baca di surat kabar. Bagaimana dengan mudahnya polisi menciduk para pelaku kriminal seperti perampokan atau penjambretan. Yaitu dengan melacaknya di tempat mereka biasa minum atau bersenang-senang. Karena harta haram cenderung mudah sekali dihabiskan dengan berfoya-foya. Itulah kenapa para perampok ini tidak pernah kaya walaupun sudah mendapatkan mangsa besar, dan mereka juga harus terus merampok untuk mempertahankan hidupnya. Karena mereka tidak bisa menyimpan harta haram yang diperolehnya.

Itu kesimpulan kita pertama, bahwa hanya harta halal yang bisa disimpan atau diinvestasikan. Syarat kedua untuk bisa menabung dengan baik yaitu pengeluaran yang sederhana.

Pengertian sederhana mungkin sulit untuk ditentukan batasan rupiahnya. Seperti apa sih hidup yang sederhana itu? Katakanlah A memiliki penghasilan Rp 10 juta per bulan dan pengeluarannya Rp 8 juta, sedangkan B berpenghasilan Rp 3 juta dan semua penghasilannya dihabiskan bulan itu juga. Mana yang lebih sederhana, A atau B?

Lalu bagaimana dengan seorang komlomerat yang penghasilannya terus mengalir bukan cuma dalam hitungan bulan namun dalam hitungan hari. Apakah ia dikatakan sederhana atau mewah jika menggunakan mobil Jaguar yang tak sampai 1% dari total asetnya.

Ada sebuah kisah menarik berkaitan dengan hidup sederhana ini. Alkisah suatu hari pada masa kejayaan Islam, di bawah pemerintahan yang bijaksana, penduduk hidup dengan sejahtera. Bahkan konon dikabarkan dana zakat yang terkumpul demikian besarnya, dan sulit sekali mencari seseorang yang berhak untuk menerima zakat karena bisa dikatakan pada saat itu sulit untuk mencari orang miskin.

Standar hidup miskin pada saat itu pun demikian tingginya bahkan seseorang bisa dikatakan miskin jika ia hanya memiliki rumah, kuda, dan seorang pembantu rumah tangga tanpa harta lain yang berarti. Rumah adalah harta yang wajib dimiliki untuk tempat berteduh, kuda adalah alat transportasi utama yang semua orang membutuhkannya. Dan pembantu rumah tangga penting peranannya dalam sebuah keluarga. Ketiga komponen ini bisa dikatakan sebagai standar hidup sederhana karena semuanya adalah hal yang perlu dimiliki oleh semua keluarga.

Jika kita analogikan hal ini pada kehidupan sekarang di sekitar kita. Apakah pantas kita katakan bahwa standar hidup sederhana adalah memiliki rumah sendiri, mobil atau setidaknya sepeda motor sendiri, dan mampu menggaji seorang pembantu rumah tangga.

Sulit memang untuk menilai kesederhanaan. Dalam hal ini, pada umumnya ada dua batasan yang biasanya digunakan masyarakat dalam menilai seseorang itu hidup sederhana atau mewah.

Batasan pertama yaitu kemampuannya sendiri. Seseorang dikatakan hidup sederhana jika ia bisa hidup dalam batasan kemampuannya sendiri. Sebaliknya, seseorang akan dikatakan hidup mewah jika ia memaksakan diri dengan gaya hidup di luar batas kemampuannya.

Batasan kedua yang bisa kita katakan sebagai hidup sederhana adalah lingkungan. Walaupun seseorang mampu untuk membeli mobil merk apa saja berapapun yang ia mau, namun jika hal itu menimbulkan kesenjangan terhadap lingkungannya, maka bisa dikatakan itu bukanlah hidup sederhana.

Menyalahkan sebenarnya tidaklah penting

Disadur dari suatu sumber yang tidaklah penting, karena yang penting adalah isinya...semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya...
Saat itu, aku baru masuk kuliah saat bertemu dengan Keluarga White.

Mereka sangat berbeda dengan keluargaku, namun aku langsung
merasa betah bersama mereka.

Aku dan Jane White berteman di sekolah, dan keluarganya
menyambutku, yang notabene orang luar, layaknya sepupu jauh.

Dalam keluargaku, jika ada masalah, menyalahkan orang itu selalu penting.

'Siapa yang melakukan ini?' ibuku membentak melihat
dapur berantakan.

'lni semua salahmu, Katharine,' ayahku berkeras
jika kucing berhasil keluar rumah atau mesin cuci piring rusak.

Sejak kami kecil, aku dan saudara-saudaraku saling mengadu.
Kami menyiapkan kursi untuk si Terdakwa di meja makan.

Tapi Keluarga White tidak mencemaskan siapa berbuat apa.
Mereka merapikan yang berantakan dan melanjutkan hidup mereka.

lndahnya hal ini kusadari penuh pada musim panas ketika Jane meninggal.



Keluarga White memiliki enam anak: tiga lelaki, tiga
perempuan. Satu putranya meninggal saat masih kecil, mungkin karena
itulah kelima yang tersisa menjadi dekat.

Di bulan Juli, aku dan tiga putri White memutuskan
berjalan-jalan naik mobil dari rumah mereka di Florida ke New York .

Dua yang tertua, Sarah dan Jane, adalah mahasiswa, dan yang
terkecil, Amy, baru menginjak enam belas tahun.

Sebagai pemilik SIM baru yang bangga, Amy gembira ingin
melatih keterampilan mengemudinya selama perjalanan itu.
Dengan tawanya yang lucu, ia memamerkan SIM-nya kepada
siapa saja yang ditemuinya.

Kedua kakaknya ikut mengemudikan mobil pada bagian pertama perjalanan,
tapi saat mereka tiba di daerah yang berpenduduk jarang, mereka
membolehkan Amy mengemudi.

Di suatu tempat di South Carolina , kami keluar dari jalan
tol untuk makan.
Setelah makan, Amy mengemudi lagi. Ia tiba di perempatan
dengan tanda stop untuk mobil dari arah kami. Entah ia gugup atau tidak
memperhatikan atau tidak melihat tandanya tak akan ada yang tahu. 
Amy terus menerjang perempatan tanpa berhenti.
Pengemudi trailer semi-traktor besar itu tak mampu mengerem
pada waktunya, dan menabrak kendaraan kami.
Jane langsung meninggal. Aku selamat hanya dengan sedikit memar.

Hal tersulit yang kulakukan adalah menelepon Keluarga White
dan memberitakan kecelakaan itu dan bahwa Jane meninggal.

Sesakit apa pun perasaanku kehilangan seorang sahabat, aku
tahu bagi mereka jauh lebih pedih kehilangan anak.

Saat suami-istri White tiba di rumah sakit, mereka
mendapatkan dua putri mereka di sebuah kamar.
Kepala dibalut perban; kaki Amy digips.
Mereka memeluk kami semua dan menitikkan air mata duka dan
bahagia saat melihat putri mereka.

Mereka menghapus air mata kedua putrinya dan menggoda Amy
hingga tertawa sementara ia belajar menggunakan kruknya.

Kepada kedua putri mereka, dan terutama kepada Amy,
berulang-ulang mereka hanya berkata, 'Kami gembira kalian masih hidup.'

Aku tercengang.

Tak ada tuduhan.

Tak ada tudingan.

Kemudian, aku menanyakan Keluarga White mengapa mereka tak
pernah membicarakan fakta bahwa Amy yang mengemudi dan melanggar
rambu-rambu lalu lintas.

Bu White berkata, 'Jane sudah tiada, dan kami sangat merindukannya.
Tak ada yang dapat kami katakan atau perbuat yang dapat
menghidupkannya kembali.

Tapi hidup Amy masih panjang. Bagaimana ia bisa menjalani
hidup yang nyaman dan bahagia jika ia merasa kami menyalahkannya atas
kematian kakaknya?'

Mereka benar. Amy lulus kuliah dan menikah beberapa tahun
yang lalu. Ia bekerja sebagai guru sekolah anak luar biasa.
Putrinya sendiri sudah dua, yang tertua bernama Jane.

Aku belajar dari Keluarga White bahwa menyalahkan
sebenarnya tidak penting.

Bahkan, kadang-kadang, tak ada gunanya sama sekali.

Tuhan menciptakan kejahatan???

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal itu menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “
Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.


Profesor itu menjawab, “
Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.


Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si Profesor


Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “
Profesor, apakah dingin itu ada?

Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.
Kamu tidak pernah sakit flu?
” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “
Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
"


Mahasiswa itu melanjutkan, “
Profesor, apakah gelap itu ada?
Profesor itu menjawab, “
Tentu saja itu ada.

Mahasiswa itu menjawab, “
Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap."

"
Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya diruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.



Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “
Profesor, apakah kejahatan itu ada?
Dengan bimbang professor itu menjawab, “
Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.


Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,
“S
ekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan.

Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.
Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.




Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Kalau boleh

Saya ada satu kisah menarik sumbernya dari email, tentang "Kalau boleh 
berkata jujur (versi orang Singapore)": 

Met Pagee Kawan q semua ada bahan renungan neh, sampaikan pada 
teman-teman Indonesia yang laen, 

mari kita bangun negeri ini, Indonesia menjadi negeri kebanggaan 
internasional. . !!!!! 

nih buktinya!!

Suatu pagi di Bandar Lampung, menjemput seseorang di bandara. 
Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si Bapak. 
Si Bapak adalah pengusaha asal Singapura, dengan logat bicara gaya 
Melayu, English, (atau Singlish?). Beliau menceritakan pengalaman2 
hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis, 
spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe.. 

"Your country is so rich!" 

Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu.. 

"Indonesia doesn't need d world, but d world need Indonesia" 

"Everything can be found here in Indonesia, u dont need d world" 

"Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di 
Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia!" 

"Singapore is nothing, we can't be rich without Indonesia. 500.000 
orang indonesia berlibur ke Singapura setiap bulan. Bisa terbayang 
uang yang masuk ke kami? apartemen2 dan condo terbaru kami yang 
membeli pun orang2 indonesia, ga peduli harga yang selangit, laku 
keras. Lihatlah rumah sakit kami, orang indonesia semua yang berobat." 

"Kalian tahu bagaimana kalapnya Pemerintah kami ketika asap hutan 
indonesia masuk? ya benar2 panik. sangat berasa, we are nothing." 

"Kalian ga tau kan klo Agustus kemarin dunia krisis beras. 
termasuk di Singapura dan Malaysia? kalian di indonesia dengan mudah 
dapat beras" 

"Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2.. lihatlah negara 
kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya pernah ke 
Kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata. Terlihat glitter 
(gemerlap) kalo ada matahari bersinar. Petani di sana menjual 
Rp3000/kg ke sebuah pabrik China. Dan si pabrik menjualnya kembali 
seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya sendiri" 

"Kalian sadar tidak klo negara2 lain selalu takut meng-embargo 
Indonesia? Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut 
klo kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. harusnya 
KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Beli lah dari petani2 
kita sendiri, beli lah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri. Tak perlu 
kalian impor klo bisa produksi sendiri."