Cukup banyak kejadian-kejadian yang hadir dari kemarin malam. Awalnya saya membaca status teman-teman di Facebook yang mengharapkan cinta, yah boleh dibilang cinta bertepuk sebelah tangan. Sudah berapa tahun ya dia begitu? Tepat tahun ini berarti 6 tahun..cinta memang gila
Dan mendadak saya dapat ilham, bukan untuk memberi saran kepada teman saya itu, tapi ke diri sendiri. Yaitu, daripada membuat orang lain tersinggung, marah, emosi, tidak senang kepada kita karena perlakuan kita ke orang lain, mengapa tidak kita melakukannya ke diri sendiri? Yah maksudnya mencoba lebih peka, lebih mengutamakan hati, karena memang benar bila laki-laki itu lebih mengutamakan logika, dan hatinya disimpan di kulkas biar dingin (emang es?) :D. Dan melalui semedi yang tidak tuntas karena besoknya mau ikut tes PTN, jadilah saya mendapat ilham, apa yang sebenarnya ingin disampaikan orang-orang sukses, apa yang disampaikan Mario Teguh malam ini. No pain, no gain. Sangat tepat, sangat tepat sekali kata-kata itu. Untuk memperbesar kemampuan kita dalam menampung kebahagiaan, satu-satunya cara hanyalah membuat kita terus bersedih. Karena dengan bersedih, selain kita lebih banyak memohon kepada Tuhan, hati kita lebih terasah, dan lambat laun lebih dewasa, walaupun dalam prosesnya malah dihina-dinakan orang sebagai sikap yang cupu, cengeng, labil. Tapi kelabilan itu sendirilah proses menuju kedewasaan, Jadi kalo banyak teman yang menyebut ABG itu labil saya bukan ABG, untung saja.. :D), coba diganti dengan pake kata childish aja, klo gaolz gitu (haha). Tiap orang punya cara sendiri untuk menjadi dewasa. Ada yang umur 5 tahun sudah berpikir dewasa (Shincan bukan contoh yang tepat, ya :D), ada yang saat di SMA baru dewasa, ada yang bahkan saat menjelang sakaratul maut (sekarat mau mati maksudnya :D) baru dewasa. Dewasa disini beda ya dengan akil baligh, karena akil baligh menurut saya adalah dorongan dari tubuh yang memaksa kita untuk dewasa. Dan saya jadi cukup tercerahkan hari ini, terlepas hari ini agak ngambek karena mendapat kesulitan, tapi yasudahlah. No pain, no gain. Mundur 1 langkah untuk melompat 2 langkah. Mundur 2 langkah lalu berlari marathon setelah itu. Dan semoga Anda yang membaca ini dapat tercerahkan, walaupun hidayah itu bukan datang dari tulisan ini saja. :)
Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan
Harga sebuah Idealisme
Medio, 15 Maret 2006
Dalam sebuah ruang dimana kebebasan bisa didapat tanpa perjuangan
Wajarkah bila sang aku memilih untuk berdiam diri dan termenung?
Wajarkah aku memilih terkurung disaat aku tahu ada mereka yang dikurung?
Wajarkah aku menyalahkan mereka, disaat dengannya sekejap?
Atau wajarkah aku memilih tidak merasa bersalah, ketika aku tahu aku salah?
Demi tuhan yang tahu apa niatku
Tak ada kefakiran yang aku tidak merasa lemah terhadapnya, kecuali waktu
Dan hanya berniat, bila tiba waktuku
Ku mau tak akan seorang pun menghadangku, walau itu aku.
Ketika idealisme dipertanyakan dalam tatanan praktis, dimana sepantasnya kita menampilkannya?
Sebagai gambaran, adakah seorang konseptor yang bertindak sebagai praktisi? Jawabnya ada. Dan pertanyaan tentang hal diatas, akan sangat-sangat jelas ketika dijawab oleh mereka.
Alkisah dalam sebuah negeri antah berantah, saya menyebut negera itu bernama indoensia. Sebuah negara dongeng yang semuanya berlaku selayaknya disurga.
Indonesia, dalam kisah saya ini diibaratkan sebuah kampung kecil terpinggir yang berada didalam pedalaman hutan yang tidak tersentuh oleh siapapun, hingga ada orang-orang bernafsu yang munafik mencoba mengatakan bahwa kampung itu menyimpan emas. Memang entah iya entah tidak, walaupun dongeng sebelum tidur dalam kampung itu selalu bercerita tentang raksasa kecil yang berhajat sebuah emas batangan.
Dan konon orang-orang bernafsu tersebut meminta sebuah pertolongan dengan pembagian 1:3, satu untuknya dan tiga untuk mereka sang orang luar atas emas yang bila nanti ditemukan dalam kampung tersebut. Tetapi orang-orang bernafsu tersebut meminta sebuah syarat tambahan, yakni penguasaan terhadap kampung tersebut. Dan ini pun menjadi syarat konyol menurut orang luar tersebut yang tidak seharusnya diajukan oleh orang-orang yang beranggapan kewarasan pun ada batasnya.
Setelah beberapa tahun setelah itu, emas batangan pun ditemukan. Dan dibagi berdasarkan apa yang sudah disepakati. Dengan tambahan syarat tersebut, penguasaan terhadap yang lain. Ketika waktu terus berjalan, tahun pun berubah menjadi sewindu dan dasawarsa. Orang-orang bernafsu tersebut bingung, penguasaan satu terhadap yang lain hanya bisa dipertahankan dengan memenuhi kebutuhan mereka, sedangkan hasil emas kemarin telah dibagikan, ketika ada sebuah opsi yakni menggunakan emas miliknya, maka sang pengecut itu berkata dalam hati, kenapa kebutuhan mereka harus ia pikirkan. Lalu ia memutuskan untuk tidak jadi berkuasa terhadap yang lain.
Cerita sederhana, tapi telah terlihat bahwa orang pintar akan selalu tampak bodoh tanpa idealisme. Tapi kenapa setiap generasi dalam negara dongeng yang saya sebut indonesia itu, selalu ada orang-orang pintar yang bodoh.
Entahlah, ketika idealisme mulai dipertanyakan dan dijual dengan harga tinggi, itulah harga terendah dari sebuah idealisme. Karena idealisme adalah harta orang-orang miskin untuk merasa kaya, adalah ilmu orang-orang bodoh untuk merasa cerdas, adalah kepuasan orang-orang lapar untuk merasa kenyang, adalah keteguhan orang-orang berkeyakinan untuk merasa kokoh, dan prestise seorang pemuda untuk merasa berharga bahkan lebih.
by Abdullah Arifianto
Dalam sebuah ruang dimana kebebasan bisa didapat tanpa perjuangan
Wajarkah bila sang aku memilih untuk berdiam diri dan termenung?
Wajarkah aku memilih terkurung disaat aku tahu ada mereka yang dikurung?
Wajarkah aku menyalahkan mereka, disaat dengannya sekejap?
Atau wajarkah aku memilih tidak merasa bersalah, ketika aku tahu aku salah?
Demi tuhan yang tahu apa niatku
Tak ada kefakiran yang aku tidak merasa lemah terhadapnya, kecuali waktu
Dan hanya berniat, bila tiba waktuku
Ku mau tak akan seorang pun menghadangku, walau itu aku.
Ketika idealisme dipertanyakan dalam tatanan praktis, dimana sepantasnya kita menampilkannya?
Sebagai gambaran, adakah seorang konseptor yang bertindak sebagai praktisi? Jawabnya ada. Dan pertanyaan tentang hal diatas, akan sangat-sangat jelas ketika dijawab oleh mereka.
Alkisah dalam sebuah negeri antah berantah, saya menyebut negera itu bernama indoensia. Sebuah negara dongeng yang semuanya berlaku selayaknya disurga.
Indonesia, dalam kisah saya ini diibaratkan sebuah kampung kecil terpinggir yang berada didalam pedalaman hutan yang tidak tersentuh oleh siapapun, hingga ada orang-orang bernafsu yang munafik mencoba mengatakan bahwa kampung itu menyimpan emas. Memang entah iya entah tidak, walaupun dongeng sebelum tidur dalam kampung itu selalu bercerita tentang raksasa kecil yang berhajat sebuah emas batangan.
Dan konon orang-orang bernafsu tersebut meminta sebuah pertolongan dengan pembagian 1:3, satu untuknya dan tiga untuk mereka sang orang luar atas emas yang bila nanti ditemukan dalam kampung tersebut. Tetapi orang-orang bernafsu tersebut meminta sebuah syarat tambahan, yakni penguasaan terhadap kampung tersebut. Dan ini pun menjadi syarat konyol menurut orang luar tersebut yang tidak seharusnya diajukan oleh orang-orang yang beranggapan kewarasan pun ada batasnya.
Setelah beberapa tahun setelah itu, emas batangan pun ditemukan. Dan dibagi berdasarkan apa yang sudah disepakati. Dengan tambahan syarat tersebut, penguasaan terhadap yang lain. Ketika waktu terus berjalan, tahun pun berubah menjadi sewindu dan dasawarsa. Orang-orang bernafsu tersebut bingung, penguasaan satu terhadap yang lain hanya bisa dipertahankan dengan memenuhi kebutuhan mereka, sedangkan hasil emas kemarin telah dibagikan, ketika ada sebuah opsi yakni menggunakan emas miliknya, maka sang pengecut itu berkata dalam hati, kenapa kebutuhan mereka harus ia pikirkan. Lalu ia memutuskan untuk tidak jadi berkuasa terhadap yang lain.
Cerita sederhana, tapi telah terlihat bahwa orang pintar akan selalu tampak bodoh tanpa idealisme. Tapi kenapa setiap generasi dalam negara dongeng yang saya sebut indonesia itu, selalu ada orang-orang pintar yang bodoh.
Entahlah, ketika idealisme mulai dipertanyakan dan dijual dengan harga tinggi, itulah harga terendah dari sebuah idealisme. Karena idealisme adalah harta orang-orang miskin untuk merasa kaya, adalah ilmu orang-orang bodoh untuk merasa cerdas, adalah kepuasan orang-orang lapar untuk merasa kenyang, adalah keteguhan orang-orang berkeyakinan untuk merasa kokoh, dan prestise seorang pemuda untuk merasa berharga bahkan lebih.
by Abdullah Arifianto
Mahalnya opoortunity cost untuk sebuah hal
Apakah hal yang saya maksud itu? Tak lain adalah pengalaman, experience kalau orang British sana bilang.
Karena pengalaman selalu mengajarkan banyak hal, menafsirkan makna hakiki dari suatu peristiwa, menjernihkan pikiran kusut, melapangkan dada sesak.
Menjelang umur kepala 2 saya, dan 19 tahun hidup berseni yang telah ditempuh, masih sedikit yang baru saya tahu. Bisa saja saya katakan kalau saya tahu banyak hal, kenyatannya malah menunjukkan kalau saya masih berpangkat rendah dalam berilmu. Di bumi ini, semua manusia bisa berpendapat, berteori bahasa kerennya, tapi berapa banyak yang teorinya itu diakui, lalu diangkat menjadi Postulat atau bahkan Dalil? Tidak banyak, itu jawabannya.
Jadi, orang boleh berteori tentang apa pun, termasuk kepada kita, tapi belum tentu teori mereka benar. Untuk membuktikannya, kita sendirilah yang harus melakukan pembuktian. Film dokumenter "By The People: The Election of Barack Obama" cocok untuk menunjukkan sedikit maksud saya ini.
Dulu, saya jamin pasti banyak orang mencibir Bill Gates, Einstein, Sergey Brin dan Larry Page (pendiri Google) adalah orang-orang gagal karena terkena Drop Out dari kampusnya. Sekarang? Hampir semua orang punya akses ke komputer, dan mayoritas OS adalah Microsoft, karya Bill Gates. Banyak fisikawan mengagumi kejeniusan Einstein, bahkan untuk menginterpretasikan Teori Relativitasnya perlu dibuat satu jilid buku sendiri, dan tiap versi buku-buku itu beda pemahamannya, tergantung siapa penulisnya. Orang yang dulu menghina-dinakan Brin dan Page mungkin banyak yang harus menjilat air liur sendiri karena menganggur dan memanfaatkan Google Adsense untuk mencari uang. Who knows?
Nabi Muhammad SAW dulu pernah dicap gila karena sering "semedi" di gua, pikirannya sinting, dan sekarang? Sudah 1425 (mungkin lebih, lupa juga waktu nulis ini) tahun Hijriyah sejak kepindahannya dari kota Mekah Al Mukarramah karena dianggap gila, tapi apa Al Qur'an dan Hadits serta ajaran perilakunya dianggap gila juga sekarang?
Maka, bersemangatlah kawan! La Tahzan (Jangan Bersedih)! Waktunya untuk menunjukkan kepada mereka siapa kita sebenarnya!
Karena pengalaman selalu mengajarkan banyak hal, menafsirkan makna hakiki dari suatu peristiwa, menjernihkan pikiran kusut, melapangkan dada sesak.
Menjelang umur kepala 2 saya, dan 19 tahun hidup berseni yang telah ditempuh, masih sedikit yang baru saya tahu. Bisa saja saya katakan kalau saya tahu banyak hal, kenyatannya malah menunjukkan kalau saya masih berpangkat rendah dalam berilmu. Di bumi ini, semua manusia bisa berpendapat, berteori bahasa kerennya, tapi berapa banyak yang teorinya itu diakui, lalu diangkat menjadi Postulat atau bahkan Dalil? Tidak banyak, itu jawabannya.
Jadi, orang boleh berteori tentang apa pun, termasuk kepada kita, tapi belum tentu teori mereka benar. Untuk membuktikannya, kita sendirilah yang harus melakukan pembuktian. Film dokumenter "By The People: The Election of Barack Obama" cocok untuk menunjukkan sedikit maksud saya ini.
Dulu, saya jamin pasti banyak orang mencibir Bill Gates, Einstein, Sergey Brin dan Larry Page (pendiri Google) adalah orang-orang gagal karena terkena Drop Out dari kampusnya. Sekarang? Hampir semua orang punya akses ke komputer, dan mayoritas OS adalah Microsoft, karya Bill Gates. Banyak fisikawan mengagumi kejeniusan Einstein, bahkan untuk menginterpretasikan Teori Relativitasnya perlu dibuat satu jilid buku sendiri, dan tiap versi buku-buku itu beda pemahamannya, tergantung siapa penulisnya. Orang yang dulu menghina-dinakan Brin dan Page mungkin banyak yang harus menjilat air liur sendiri karena menganggur dan memanfaatkan Google Adsense untuk mencari uang. Who knows?
Nabi Muhammad SAW dulu pernah dicap gila karena sering "semedi" di gua, pikirannya sinting, dan sekarang? Sudah 1425 (mungkin lebih, lupa juga waktu nulis ini) tahun Hijriyah sejak kepindahannya dari kota Mekah Al Mukarramah karena dianggap gila, tapi apa Al Qur'an dan Hadits serta ajaran perilakunya dianggap gila juga sekarang?
Maka, bersemangatlah kawan! La Tahzan (Jangan Bersedih)! Waktunya untuk menunjukkan kepada mereka siapa kita sebenarnya!
Indonesia yang "unik" dan ironis
Mari kita simak sebuah tulisan dari adik kelas saya, yang kini menempuh studi di Ilmu Politik UI.
tulisan ini saya kutip dari situs Ikatan Alumni Insan Cendekia, www.insancendekia.org
tulisan ini saya kutip dari situs Ikatan Alumni Insan Cendekia, www.insancendekia.org
THE LEGACY, 04 January 2010
Indonesia adalah negara yang ‘unik’. Ketika keran demokrasi ditutup pada masa orde baru, rakyat selalu menggerutu. Rakyat beranggapan hak-hak asasi mereka dalam mengutarakan pendapat tidak dihargai oleh sang penguasa. Rakyat sama sekali tidak diberi ruang untuk mencampuri urusan pemerintahan. Akhirnya, karena tuntutan rakyat pula, rezim pengekang hak rakyat itupun jatuh juga, dan diganti oleh era yang baru, yaitu reformasi.
Pada era reformasi, rakyat diberi kebebasan yang seluas-luasnya untuk bisa mengutarakan pendapatnya, bahkan untuk melayangkan kritik terhadap pemerintah sekalipun. Hal ini tentu tidak akan bisa ditemui pada masa orde baru yang kental dengan istilah ‘untouchable government’. Dengan kebebasan itu, rakyat pun bersorak riang gembira karena hak-haknya—khususnya dalam hal berpendapat—telah mendapat tempat di hati pemerintah. Saking riang gembiranya, ternyata kebebasan berpendapat itu banyak yang kebablasan. Itu bisa kita lihat dari tingkah laku ‘unik’ para elit politik negeri yang juga ‘unik’ ini. Tingkah laku ‘unik’ tersebut semakin marak ditemui di media akhir-akhir ini, terutama setelah terpilihnya SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2009-2014. Dikatakan ‘unik’ karena para elit politik bukannya sibuk memikirkan bagaimana nasib orang miskin, pemulung, pengamen jalanan, pengemis, pengais sampah, tukang sayur, tukang becak, dll, akan tetapi mereka malah sibuk bertengkar, saling fitnah, saling sindir, saling gunjing, saling menyudutkan, dan saling menjatuhkan satu sama lain. Lalu, bagaimana dengan nasib rakyat ???
Politisi Bertengkar, Rakyat pun Terlantar
Setelah reformasi, di negeri ‘unik’ bernama Indonesia ini, telinga kita sering ‘dimanjakan’ dengan pernyataan-pernyataan pedas yang menghujam pemerintah (baca: Presiden dan jajaran kabinetnya). Siapapun Presidennya—apalagi yang incumbent—terus mendapat hujaman penyataan pedas dari lawan-lawan politiknya. Entah pernyataan itu memang sebuah fakta, ataukah hanya sebuah strategi (baca: fitnah) untuk menjatuhkan sang penguasa.
Kalau boleh jujur, sebenarnya rakyat (khususnya rakyat kecil) bingung dengan apa yang sedang terjadi. Mereka seolah tidak diperhatikan oleh para petinggi bangsa yang terus bertengkar satu sama lain. Banyak lawan-lawan politik pemerintah selalu bilang, “kami melakukan ini (kritik-kritik pedas) demi kepentingan rakyat, kami prihatin dengan kondisi rakyat, bla…, bla…, bla…”. Tidakkah mereka berpikir bahwa apa yang sebenarnya mereka lakukan justru membuat para tukang sayur, tukang becak, pedagang asongan, pengemis, dan pengamen merasa bingung dan semakin merasa tidak diperhatikan ?
Akhir-akhir ini, konsentrasi pemerintah banyak tersedot untuk meladeni berbagai macam fitnah dan serangan tajam dari para ‘politisi pengincar jabatan’. Sering kita temui di berbagai kesempatan, pemerintah mencoba menangkal tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah yang terus menghujam—terlepas apakah tuduhan dan fitnah itu merupakan fakta atau bukan. Hal tersebut wajar dilakukan demi menjaga citra dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Karena kalau rakyat sudah mengalami distrust, bukan tidak mungkin pemerintah akan digulingkan oleh rakyat (people power). Tetapi, jika tuduhan dan fitnah itu semakin menjadi-jadi, dan pemerintah pun selalu berusaha untuk menangkalnya, kapan pemerintah melakukan pembangunan ? Kapan pemerintah mencurahkan pikiran untuk rakyat kecil ? Siapa yang paling bertanggung jawab dalam hal ini, para ‘politisi pengincar jabatan’ atau pemerintah ?
Alangkah baiknya dan alangkah bijaknya jika lawan-lawan politik pemerintah juga melakukan tindakan konkret kepada rakyat dan membuat taraf hidup rakyat meningkat. Bukan hanya rajin untuk melancarkan serangan-serangan tajam pada pemerintah yang bersifat provokatif, membat opini publik yang sembarangan, mengelu-elukan “turunkan Presiden beserta jajarannya” atau “kudeta sekarang juga”. Tidakkah ini sebenarnya menunjukkan bahwa lawan-lawan politik pemerintah hanya ingin memperoleh kekuasaan semata ? Bagaimana idealisme ‘demi kepentingan rakyat’ bisa terwujud jika mereka hanya mendewakan kekuasaan dan jabatan ?
Persatuan = Kekuatan
Indonesia yang ‘unik’ ini juga membawa ironi bagi rakyat kecil. Elit-elit politik dan petinggi-petinggi parpol bukannya membuat kebijakan yang jitu untuk peningkatan kesejahteraan rakyat, mereka malah saling sikut, saling gunjing, saling fitnah, dan saling bertengkar satu sama lain demi jabatan dan kekuasaan. Para akademisi lebih mementingkan dirinya sendiri untuk duduk manis di kursi empuk di dalam ruang kelas yang ber-AC, menulis di meja yang halus dengan segala goresan nilai pada kertas ujian, dan menikmati fasilitas di dalam pagar kampus tanpa mau berbaur dengan rakyat miskin, rakyat yang tidak bisa baca-tulis, rakyat yang kikuk dalam menghitung, dan rakyat yang selalu jadi korban pembodohan. Segelintir oknum yang memiliki jabatan sibuk memperkaya diri. Pemerintah sibuk meladeni perlawanan keras dari lawan-lawan politknya, dsb. Itulah fenomena yang terjadi sekarang. Rakyat bingung, rakyat capek, rakyat lelah, rakyat merasa tidak diperhatikan, rakyat gusar dengan semua bualan, fitnah, pergunjingan, dan pertengkaran yang terjadi justru di ‘level atas’. Belum lagi ditambah dengan segelintir mahasiswa yang melakukan aksi-aksi anarkis dengan melakukan pengrusakan massal di beberapa penjuru nusantara. Lengkap sudah penderitaan rakyat. Satu kata yang tepat mewakiliki ini semua, IRONIS.
Coba kita bayangkan, seandainya pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, elit-elit politik (baik yang pro maupun yang kontra terhadap pemerintah), petinggi-petinggi partai politik, dan para akademisi saling bahu-membahu, bertekad bersama untuk membawa negeri ini melesat menjauhi keterpurukan. Pasti hal tersebut akan menjadi sebuah energi yang luar biasa, sangat kuat dan sangat positif, sehingga cita-cita kita bersama untuk menjadi sebuah bangsa yang maju benar-benar bisa terwujud.
Perlu disadari, tanggung jawab membangun bangsa ini bukan hanya terletak di tangan pemerintah. Tanggung jawab membangun bangsa ini terletak di tangan kita semua, Warga Negara Indonesia. Kalangan akademisi (termasuk mahasiswa) dengan intelektualitas yang dimilikinya bisa memberi pendidikan, pemberdayaan, dan pembangungan kecil-kecilan di desa-desa terpencil. Elit-elit politik bisa menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu dan memberdayakan rakyat yang kurang mampu. Perusahaan dengan mekanisme CSR-nya bisa melakukan berbagai hal yang dapat menolong warga sekitarnya. Partai politik dengan segala visi dan misi yang dimilkinya bisa melakukan banyak sekali program kerja konkret untuk membantu rakyat-rakyat kecil. Dan pada akhirnya, pemerintah dengan segala otoritas yang dimilikinya bisa membuat kebijakan-kebijakan yang mengangkat rakyat dari keterpurukan. Poinnya, kita semua bisa melakukan apa saja untuk rakyat dan untuk bangsa ini dalam kapasitas kita masing-masing. Jika hal itu dilakukan, yakinlah dengan sendirinya bangsa ini akan melesat menjadi bangsa yang maju di kemudian hari. Aamiiin…
Belajarlah dari Sejarah, tapi jangan pernah mengikutinya...
Sejarah disini maksudnya adalah kejadian-kejadian yang pernah terjadi di dunia ini oleh manusia, mulai dari zaman Mesopotamia, Babilonia, hingga kini.
Dulu, saat masih SMA, guru Sejarah saya, panggil saja Pak Ipik, pernah bertanya siapa di antara kami yang menganggap pelajaran Sejarah itu tidak penting? Saya, sebagai anak normal IPA, tentu menganggap Sejarah itu gak penting, karena buat apa juga beajar Sejarah lagi (alasan waktu itu :p). Dan hanya saya yang berasumsi seperti itu atau minimal hanya saya yang berani menentang pendapat mainstream (??)
Dengan bijaknya guru hebat ini berkata, "Belajarlah dari Sejarah, karena sebenarnya kita tak akan bisa terlepas dari Sejarah."
Dan barulah saat ini saya bisa memahami dengan baik maksudnya, walaupun tetap dengan pola pikir yang aneh cenderung freak. Dari sejarah, kita bisa mengetahui apa yang terjadi di zaman dulu, mulai dari Mesopotamia, Babilonia, perebutan kekuasaan, suku Barbar, kejayaan Islam, pengkhianatan, seni tingkat tinggi karya sekelas Mozart atau Picasso atau seniman lainnya, penjajahan, hingga zaman Facebook seperti sekarang ini.
Dan kenapa saya bilang jangan mengikutinya? Yang saya maksud adalah jangan mengikuti hal-hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu, seperti perang, perilaku vandal, berkhianat, perzinahan, dan segala macam yang buruk-buruk.
Karena sebenarnya itulah esensi dari tujuan kita belajar sejarah..
Kita mengetahui kejadian di masa lalu, dan dapat mengetahui mana yang pantas diikuti dan mana yang tidak pantas dicontoh.
Bingung ya maksudnya? Yah semoga saja anda mengerti. :D
Dulu, saat masih SMA, guru Sejarah saya, panggil saja Pak Ipik, pernah bertanya siapa di antara kami yang menganggap pelajaran Sejarah itu tidak penting? Saya, sebagai anak normal IPA, tentu menganggap Sejarah itu gak penting, karena buat apa juga beajar Sejarah lagi (alasan waktu itu :p). Dan hanya saya yang berasumsi seperti itu atau minimal hanya saya yang berani menentang pendapat mainstream (??)
Dengan bijaknya guru hebat ini berkata, "Belajarlah dari Sejarah, karena sebenarnya kita tak akan bisa terlepas dari Sejarah."
Dan barulah saat ini saya bisa memahami dengan baik maksudnya, walaupun tetap dengan pola pikir yang aneh cenderung freak. Dari sejarah, kita bisa mengetahui apa yang terjadi di zaman dulu, mulai dari Mesopotamia, Babilonia, perebutan kekuasaan, suku Barbar, kejayaan Islam, pengkhianatan, seni tingkat tinggi karya sekelas Mozart atau Picasso atau seniman lainnya, penjajahan, hingga zaman Facebook seperti sekarang ini.
Dan kenapa saya bilang jangan mengikutinya? Yang saya maksud adalah jangan mengikuti hal-hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu, seperti perang, perilaku vandal, berkhianat, perzinahan, dan segala macam yang buruk-buruk.
Karena sebenarnya itulah esensi dari tujuan kita belajar sejarah..
Kita mengetahui kejadian di masa lalu, dan dapat mengetahui mana yang pantas diikuti dan mana yang tidak pantas dicontoh.
Bingung ya maksudnya? Yah semoga saja anda mengerti. :D
Kenapa ya?
kenapa ya, orang Indonesia kan otaknya canggih2, terbukti dengan mendominasi Olimpiade Internasional.
tapi saat tenaga kerjanya diadu dengan negara lain, bahkan di wilayah ASEAN sekalipun, malah tidak berkutik??
tapi saat tenaga kerjanya diadu dengan negara lain, bahkan di wilayah ASEAN sekalipun, malah tidak berkutik??
Masih seputar ironi
Ironi, apa sih maksudnya?
menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang disediakan http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi, adalah kejadian atau situasi yg bertentangan dng yg diharapkan atau yg seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir.
melihat definisi itu, saya menjadi tergelitik sendiri melihat realita di negeri ini. Walaupun banyak hal yang masih bisa dibanggakan. Mari kita tarik nafas sebelum mulai memberatkan otak dengan tulisan berikut
Mari kita mulai dari pengalaman sehari-hari di jalan, terutama jalanan Jakarta. Lalu lintas yang hiruk pikuk, kendaraan berseliweran, ada yang tertib, ada yang main serobot, ada juga yang berhenti dan parkir sembarangan. Entah dampaknya langsung atau tidak langsung, tapi kehidupan di jalan (termasuk orang yang memang tinggal di jalan), adalah cerminan kehidupan kita, kalau boleh dikatakan peradaban kita walaupun jadi sedikit naif. Selain yang sudah disebutkan, perilaku tidak tertib di jalan atau fasilitas umum lainnya banyak sekali. Dan tentu bukan cuma berdampak kepada diri sendiri, tapi juga berdampak ke orang lain, yah seperti istilah mereka anggota Panitia Khusus di dewan terhormat sana, sistemik sekali dampaknya.
Agak ribet dan susah kalau cuma berteori tanpa dasar, jadi saya beri contoh saja. Dan silahkan dinilai bagaimana pendapat dan nurani Anda berbicara.
Buang sampah sembarangan, bahkan ke sungai seperti rutinitas bagi mereka yang memang tinggal di pinggir (kasarnya bantaran) sungai. Tahukah anda, padahal sudah diberikan fasilitas berupa tempat sampah, yah walaupun memang jauh dari rumah. Maka yang terjadi kemudian adalah perilaku spontan, yaitu balik kanan, terlemparlah sampah ke sungai. Apa yang akan terjadi dengan sampah itu tidak mereka pedulikan, cuma diingat saja saat musim hujan mulai tiba. Tidak tahu kan harus disalahkan atau tidak perlikau itu, kan mereka bertindak spontan? Ya, banyak orang bilang mereka begitu karena tidak diberi penyuluhan (kasarnya tidak berpendidikan). Lantas bagaimana, sudah sifat mereka begitu. Ironis memang...hhmm...
Tarik nafas lagi..
Tanpa disadari, perilaku bermotif "serba spontan" itu berdampak sistemik, lho. Bermacam dampaknya, tapi intinya cuma 1, mencari keuntungan. Lantas keuntungan orang yang buang sampah sembarangan apa? Ya mereka tidak mau capek-capek memikirkan sampah itu. Sampah kan bau, menjijikkan, bernilai rendah, tidak berguna. Dengan mereka buang, selesai sudah pikiran mereka yang "menguras tenaga" tentang si sampah. Dibuang ke sungai, kata mereka, "itu hak saya, kan belakang rumah saya sungai". itu contohnya..
Dengan dicekoki televisi yang memberikan berbagai macam "keindahan", mereka yang dari berawal berprinsip hidup spontan pastinya tergiur. Berbondong-bondonglah mereka ikut ajang pencarian bakat (bahkan untuk masuk kuliah, bakat juga diuji, haha..), ikut casting, ikut sana, ikut sini..yang penting 1, mereka bisa tampil di TV dan dilirik orang, bagaimana orang meliriknya, itu hak masing-masing. Maka dengan mudahnya diprediksi, muncullah orang-orang bayaran. Kenapa mudah diprediksi? Ya wajar saja, dari dulu kita sudah mengenal Jame Bond, kan? Seorang agen rahasia bayaran karangan Ian Fleming. Walaupun tidak disebut bayaran, tapi dengan resiko nyawa seperti di film-filmnya, masak tidak dibayar?
Maka muncullah penonton bayaran, pengemis (bukan bayaran, tapi digerakkan agar mereka dibayar orang yang bersimpati), preman bayaran, bahkan...demonstran bayaran (untuk yang terakhir, bakal di bahas di salah satu acara).
Ya, tidak semua orang tahu hal-hal seperti itu. Menurut saya itu terjadi karena besarnya harapan rakyat kepada pemerintah, ya lapangan pekerjaanlah, kesejahteraanlah, kalau bisa semua digratiskan (kalau bisa..)
Jadilah barisan sakit hati itu mencari celah untuk bekerja. Acara hiburan televisi butuh penggembira agar dikatakan "meriah", terbuka celah para pencari penonton bayaran itu. Dan si pencari sekaligus pengerah penonton itu, asal anda tahu saja, gajinya bisa mengalahkan gaji insinyur atau wisudawan lulusan universitas dan kerja mapan. Dari mana si pengerah penonton itu dapat uang? Dari hasil narik (boleh saya katakan upeti) dari para penonton bayaran acara televisi (layaknya budak) itu yang biasanya dibayar selembar uang berwarna hijau (masih rupiah, bukan Dollar). Orang yang berunjuk rasa, atau apapun itu yang selalu bermodalkan arahan massa juga berubah dan melenceng dari tujuannya, karena ajakan tetangga karena di situ rame (entah melakukan apa) dan BAGI BAGI DUIT, dengan mengerikan ribuan orang langsung bergerak. Luar biasa kekuatan uang itu, padahal nilai mata uang kita itu sebenarnya menyedihkan, boleh dikatakan banci, seperti Andrea Hirata katakan.
Bukan bermaksud merendahkan mereka yang melakukan, tapi itulah realita di kehidupan negara kita. Negara lain? Tidak tahu juga. Mari bertanya kepada rumput yang bergoyang (kalau masih ada rumput).
menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang disediakan http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi, adalah kejadian atau situasi yg bertentangan dng yg diharapkan atau yg seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir.
melihat definisi itu, saya menjadi tergelitik sendiri melihat realita di negeri ini. Walaupun banyak hal yang masih bisa dibanggakan. Mari kita tarik nafas sebelum mulai memberatkan otak dengan tulisan berikut
Mari kita mulai dari pengalaman sehari-hari di jalan, terutama jalanan Jakarta. Lalu lintas yang hiruk pikuk, kendaraan berseliweran, ada yang tertib, ada yang main serobot, ada juga yang berhenti dan parkir sembarangan. Entah dampaknya langsung atau tidak langsung, tapi kehidupan di jalan (termasuk orang yang memang tinggal di jalan), adalah cerminan kehidupan kita, kalau boleh dikatakan peradaban kita walaupun jadi sedikit naif. Selain yang sudah disebutkan, perilaku tidak tertib di jalan atau fasilitas umum lainnya banyak sekali. Dan tentu bukan cuma berdampak kepada diri sendiri, tapi juga berdampak ke orang lain, yah seperti istilah mereka anggota Panitia Khusus di dewan terhormat sana, sistemik sekali dampaknya.
Agak ribet dan susah kalau cuma berteori tanpa dasar, jadi saya beri contoh saja. Dan silahkan dinilai bagaimana pendapat dan nurani Anda berbicara.
Buang sampah sembarangan, bahkan ke sungai seperti rutinitas bagi mereka yang memang tinggal di pinggir (kasarnya bantaran) sungai. Tahukah anda, padahal sudah diberikan fasilitas berupa tempat sampah, yah walaupun memang jauh dari rumah. Maka yang terjadi kemudian adalah perilaku spontan, yaitu balik kanan, terlemparlah sampah ke sungai. Apa yang akan terjadi dengan sampah itu tidak mereka pedulikan, cuma diingat saja saat musim hujan mulai tiba. Tidak tahu kan harus disalahkan atau tidak perlikau itu, kan mereka bertindak spontan? Ya, banyak orang bilang mereka begitu karena tidak diberi penyuluhan (kasarnya tidak berpendidikan). Lantas bagaimana, sudah sifat mereka begitu. Ironis memang...hhmm...
Tarik nafas lagi..
Tanpa disadari, perilaku bermotif "serba spontan" itu berdampak sistemik, lho. Bermacam dampaknya, tapi intinya cuma 1, mencari keuntungan. Lantas keuntungan orang yang buang sampah sembarangan apa? Ya mereka tidak mau capek-capek memikirkan sampah itu. Sampah kan bau, menjijikkan, bernilai rendah, tidak berguna. Dengan mereka buang, selesai sudah pikiran mereka yang "menguras tenaga" tentang si sampah. Dibuang ke sungai, kata mereka, "itu hak saya, kan belakang rumah saya sungai". itu contohnya..
Dengan dicekoki televisi yang memberikan berbagai macam "keindahan", mereka yang dari berawal berprinsip hidup spontan pastinya tergiur. Berbondong-bondonglah mereka ikut ajang pencarian bakat (bahkan untuk masuk kuliah, bakat juga diuji, haha..), ikut casting, ikut sana, ikut sini..yang penting 1, mereka bisa tampil di TV dan dilirik orang, bagaimana orang meliriknya, itu hak masing-masing. Maka dengan mudahnya diprediksi, muncullah orang-orang bayaran. Kenapa mudah diprediksi? Ya wajar saja, dari dulu kita sudah mengenal Jame Bond, kan? Seorang agen rahasia bayaran karangan Ian Fleming. Walaupun tidak disebut bayaran, tapi dengan resiko nyawa seperti di film-filmnya, masak tidak dibayar?
Maka muncullah penonton bayaran, pengemis (bukan bayaran, tapi digerakkan agar mereka dibayar orang yang bersimpati), preman bayaran, bahkan...demonstran bayaran (untuk yang terakhir, bakal di bahas di salah satu acara).
Ya, tidak semua orang tahu hal-hal seperti itu. Menurut saya itu terjadi karena besarnya harapan rakyat kepada pemerintah, ya lapangan pekerjaanlah, kesejahteraanlah, kalau bisa semua digratiskan (kalau bisa..)
Jadilah barisan sakit hati itu mencari celah untuk bekerja. Acara hiburan televisi butuh penggembira agar dikatakan "meriah", terbuka celah para pencari penonton bayaran itu. Dan si pencari sekaligus pengerah penonton itu, asal anda tahu saja, gajinya bisa mengalahkan gaji insinyur atau wisudawan lulusan universitas dan kerja mapan. Dari mana si pengerah penonton itu dapat uang? Dari hasil narik (boleh saya katakan upeti) dari para penonton bayaran acara televisi (layaknya budak) itu yang biasanya dibayar selembar uang berwarna hijau (masih rupiah, bukan Dollar). Orang yang berunjuk rasa, atau apapun itu yang selalu bermodalkan arahan massa juga berubah dan melenceng dari tujuannya, karena ajakan tetangga karena di situ rame (entah melakukan apa) dan BAGI BAGI DUIT, dengan mengerikan ribuan orang langsung bergerak. Luar biasa kekuatan uang itu, padahal nilai mata uang kita itu sebenarnya menyedihkan, boleh dikatakan banci, seperti Andrea Hirata katakan.
Bukan bermaksud merendahkan mereka yang melakukan, tapi itulah realita di kehidupan negara kita. Negara lain? Tidak tahu juga. Mari bertanya kepada rumput yang bergoyang (kalau masih ada rumput).
Sedikit ironisme untuk direnungkan
Ironis...
Disaat banyak anak terancam busung lapar, dengan mudahnya uang sebayak 6,7 triliun rupiah digelontorkan untuk menyelamatkan sebuah bank gagal kelola.
Ironis..
Warga di belahan bumi selatan kelaparan karena ternaknya mati sedangkan warga di belahan bumi utara kelaparan karena untuk keluar mencari makanpun tidak bisa karena ekstremnya cuaca..
Seperti analogi roda, ada saat di atas ada juga saat di bawah
Ada siang dan malam
Ada si kaya dan si miskin
Itu semua hanya sebagian ironisme yang mudah dilihat. Tujuannya hanya 1
Menunjukkan kuasa Sang Pencipta
Sang Maha Segalanya
Si kaya dengan mudahnya bisa saja bernasib seperti si miskin
Si perkasa dengan mudahnya dapat terkapar selamanya di atas pembaringan
Semua telah diatur olehNya
Disaat banyak anak terancam busung lapar, dengan mudahnya uang sebayak 6,7 triliun rupiah digelontorkan untuk menyelamatkan sebuah bank gagal kelola.
Ironis..
Warga di belahan bumi selatan kelaparan karena ternaknya mati sedangkan warga di belahan bumi utara kelaparan karena untuk keluar mencari makanpun tidak bisa karena ekstremnya cuaca..
Seperti analogi roda, ada saat di atas ada juga saat di bawah
Ada siang dan malam
Ada si kaya dan si miskin
Itu semua hanya sebagian ironisme yang mudah dilihat. Tujuannya hanya 1
Menunjukkan kuasa Sang Pencipta
Sang Maha Segalanya
Si kaya dengan mudahnya bisa saja bernasib seperti si miskin
Si perkasa dengan mudahnya dapat terkapar selamanya di atas pembaringan
Semua telah diatur olehNya
Ternyata kita (harusnya) bisa
Melihat judul di atas, pasti udah bisa ditebak kalo posting membahas 1 hal: pemerintah :D
100 tahun (jangan lupakan 5 tahunnya juga) pemerintahan negara kita menyiapkan (kembali) fondasinya untuk 5 tahun ke depan (semoga kesampaian 5 tahun). Tapi saya gak mau ngomentarin orang yang di atas sekarang, tapi orang-orang di bawah mereka tapi di atas garis-garis kemiskinan. Ingat kan kalo bangsa kita pernah dijajah berabad-abad? Secara tidak langsung, hal itu menurut saya membentuk masyarakatnya. Culture stelsel, romusha, dan segala jenis pemerasan tenaga dilakukan penjajah. Hal ini membuat bangsa kita menjadi pekerja keras. Ya, kita jadi bekerja keras kalo DIPAKSA!! Pasti anotasi ini membuat telinga anda panas dan berhasrat mencari penulis posting ini dan ingin segera menggorok lehernya. Tapi itu kenyataan kan? Oke kita cari bahasan lain. Apa ya? Oh, saya ingat
Bangsa kita yang dulu terdiri dari berbagai kerajaan yang berganti-ganti kehadirannya, punya beberapa warisan untuk kita. Bukan warisan fisik seperti candi dan prasasti lho. Tapi adalah warisan sifat. Apa itu? Bangsa kita (seperti sebelumnya), susah diajak untul bekerja oleh masing-masing raja mereka. Bangsa kita menganggap cukup dengan pemberian, atau hadiah, atau sedikit kemewahan yang dibagikan orang kerajaan saja mereka sudah makmur. Ya, memang makmur, tapi tidak sepenuhnya definisi "makmur" itu mereka raih. Karena mereka tetap saja miskin. Lha, kalau makmur kan bisa bikin kerajaan tandingan kan? Nah, kalau mereka merasa gak makmur, pasti akan merasa sangat kesal, tapi tidak pernah diungkapkan, yang pada akhirnya sering kita sebut "dendam kesumat". Emangnya gak boleh ya orang kesal? Ya boleh saja, tapi dendam kesumat itulah yang memudahkan bule-bule sok ramah yang dalam sejarah kita kenal sebagai kompeni itu memprovokasi orang untuk melakukan pemberontakan yang pada akhirnya makin memperpecah bangsa. Makin banyak, dan terus bertambah jumlah kerajaan yang muncul, yang saya jamin juga membuat anda pusing belajar sejarah. Warisan itu masih ada sampai sekarang. Pemerintah selalu dituntut mensejahterakan rakyat, yang jujur saja sulit untuk menyejahterakan SEMUA walaupun harus mengubah Undang-Undang yang membolehkan bule memimpin negeri ini alias mempersilahkan penjajah datang lagi.
Makin tinggi tensinya, ya...
Sesuai judul, coba kita renungkan sifat kita yang pertama, yaitu bekerja keras kalau dipaksa. Cobalah kata "kalau" diganti dengan "tanpa". Harusnya kita sudah makmur tuh dari dulu.
Untuk mencapai inti dari tulisan ini, saya malah menyeret moyang kita ya...maka dari itu maafkan segala kesalahan dalam membuat tulisan ini, karena sesungguhnya cuma bermotif untuk memotivasi diri saya sendiri khususnya dan anda pembaca sekalian pada umumnya (serasa dakwah Jum'at ya :D)
100 tahun (jangan lupakan 5 tahunnya juga) pemerintahan negara kita menyiapkan (kembali) fondasinya untuk 5 tahun ke depan (semoga kesampaian 5 tahun). Tapi saya gak mau ngomentarin orang yang di atas sekarang, tapi orang-orang di bawah mereka tapi di atas garis-garis kemiskinan. Ingat kan kalo bangsa kita pernah dijajah berabad-abad? Secara tidak langsung, hal itu menurut saya membentuk masyarakatnya. Culture stelsel, romusha, dan segala jenis pemerasan tenaga dilakukan penjajah. Hal ini membuat bangsa kita menjadi pekerja keras. Ya, kita jadi bekerja keras kalo DIPAKSA!! Pasti anotasi ini membuat telinga anda panas dan berhasrat mencari penulis posting ini dan ingin segera menggorok lehernya. Tapi itu kenyataan kan? Oke kita cari bahasan lain. Apa ya? Oh, saya ingat
Bangsa kita yang dulu terdiri dari berbagai kerajaan yang berganti-ganti kehadirannya, punya beberapa warisan untuk kita. Bukan warisan fisik seperti candi dan prasasti lho. Tapi adalah warisan sifat. Apa itu? Bangsa kita (seperti sebelumnya), susah diajak untul bekerja oleh masing-masing raja mereka. Bangsa kita menganggap cukup dengan pemberian, atau hadiah, atau sedikit kemewahan yang dibagikan orang kerajaan saja mereka sudah makmur. Ya, memang makmur, tapi tidak sepenuhnya definisi "makmur" itu mereka raih. Karena mereka tetap saja miskin. Lha, kalau makmur kan bisa bikin kerajaan tandingan kan? Nah, kalau mereka merasa gak makmur, pasti akan merasa sangat kesal, tapi tidak pernah diungkapkan, yang pada akhirnya sering kita sebut "dendam kesumat". Emangnya gak boleh ya orang kesal? Ya boleh saja, tapi dendam kesumat itulah yang memudahkan bule-bule sok ramah yang dalam sejarah kita kenal sebagai kompeni itu memprovokasi orang untuk melakukan pemberontakan yang pada akhirnya makin memperpecah bangsa. Makin banyak, dan terus bertambah jumlah kerajaan yang muncul, yang saya jamin juga membuat anda pusing belajar sejarah. Warisan itu masih ada sampai sekarang. Pemerintah selalu dituntut mensejahterakan rakyat, yang jujur saja sulit untuk menyejahterakan SEMUA walaupun harus mengubah Undang-Undang yang membolehkan bule memimpin negeri ini alias mempersilahkan penjajah datang lagi.
Makin tinggi tensinya, ya...
Sesuai judul, coba kita renungkan sifat kita yang pertama, yaitu bekerja keras kalau dipaksa. Cobalah kata "kalau" diganti dengan "tanpa". Harusnya kita sudah makmur tuh dari dulu.
Untuk mencapai inti dari tulisan ini, saya malah menyeret moyang kita ya...maka dari itu maafkan segala kesalahan dalam membuat tulisan ini, karena sesungguhnya cuma bermotif untuk memotivasi diri saya sendiri khususnya dan anda pembaca sekalian pada umumnya (serasa dakwah Jum'at ya :D)
Budi, teruslah bermain bola!

Masih ingatkah anda semua, sebuah iklan dimana Wayne Rooney bersama rekan-rekan satu tim Manchester United belajar bahasa Indonesia...
Ini Budi. Budi bermain bola.
Dengan lidah "inggris" mereka, diejalah 2 kalimat yang tertulis di papan tulis itu. Bagi kita orang Indonesia, hal tersebut terdengar unik dan lucu ketika mereka mengulang ucapan si ibu guru.
Tapi, mereka tersenyum. Seperti ada sesuatu yang aneh ketika mereka mengucapkan kalimat itu. Atau ada sensasi tersendiri yang mereka rasakan. Entahlah..
Dan roda kehidupan pun berputar. Bom mengguncang hotel tempat MU berencana menginap selama di Jakarta (kebetulan Ibrohim, otak pengeboman sendiri telah tewas digerebek Densus 88 di Temanggung). Suasanapun menjadi gelap dan hitam pekat. Tidak jelas lagi.
Tetapi di sana tertulis sebaris huruf yang membentuk kalimat di dasar warna hitam itu.
Budi, teruslah bermain bola.
Lalu siapa yang menulis pesan itu? Rooney? van der Sar? Giggs? atau bahkan Sang bos Sir Alex Ferguson? Who knows? Yang pasti, Rooney dan rekan-rekannya tak lagi berada di ruang kelas untuk membaca. Jangankan ke kelas, ke Indonesia saja tidak mau. Mereka takut Indonesia tidak bisa menjamin keamanan dan keselamatan mereka. Sebuah hal yang wajar. Mereka lebih percaya dengan Malaysia, bahkan mengajak tim Indonesia All-Star untuk bermain di Malaysia saja. Anda sekalian yang mendapat undangan itu, apakah tidak merasa malu? Kalau saya sudah tidak tertahankan malunya dengan mereka-mereka di Malaysia.
Yah, apapun yang terjadi, banyak pesan yang ditinggalkan pada papan iklan di atas.
Pertama, menarik mengapa kreator iklan menggunakan tokoh budi untuk mendapatkan adegan main bola. Mengapa bukan Boas, Bambang atau siapa pemain bola top nasional. Budi memang legendaris. Walaupun sebatas hanya mampu memperkenalkan nama diri sendiri dengan ayah, ibu, kakak dan adiknya saja. Mungkin dengan Budi mulai bermain bola dengan MU maka menjadi langkah awal Indonesia untuk melegenda di pentas dunia.
Kedua, Indonesia teruslah bermain bola saja. Karena memang tak pantas bertanding sepak bola. Kemampuannya hanya sebatas bermain-main bola. Bukan menguasai bola dan mempermainkan si bola bundar hingga menampilkan permainan yang menawan sehingga layak bertanding dengan tim sepak bola dunia. Oleh sebab Indonesia hanya mampu bermain bola, sementara MU maunya bertanding sepak bola. Maka daripada MU terjangkit kelakuan bermain bola hingga menurunkan kualitas mereka, maka pertandingan itu urung dilaksanakan.
Ketiga, hidup terus berlanjut kawan, teruslah semangat. Ini pesan kuat yang saya tangkap, dan semestinya anda juga menangkapnya, bukan menangkap pesan-pesan yang lain di atas. Ada dorongan dan semangat yang dipompakan, agar budi terus bermain bola meskipun bom meneror Indonesia. Tak ada alasan untuk berhenti belajar dan mengasah diri dalam permainan sepak bola. Bahkan bom pun tak semestinya menjadi pemicu patah semangat budi untuk terus maju. Budi, sebagai manifestasi generasi muda Indonesia semestinya segera bangkit dan melanjutkan apa yang menjadi cita-citanya. Karena dengan “terus bermain bola”, terbuka peluang yang lebar, Budi akan menjadi pemain bola top dunia sekelas Wayne Rooney dan pemain MU lainnya.
Kalimat Budi teruslah bermain bola juga semestinya menginspirasi semua orang yang membaca pesan itu, termasuk saya. Bahwa apapun yang terjadi dalam diri kita, semestinya tidak membuat kita patah hati dan kehilangan semangat hidup. Melanjutkan apa yang telah dimulai sampai tujuan akhir perjalanan hidup. Bagi seseorang yang kehilangan bahu yang tak mampu lagi menjadi sandaran atau berbeda dengan sahabatnya. Atau perempuan yang tanpa lelah menunggu senja. Ucok yang yang menanyakan dimana sekolahnya. Atau yang merasakan pahitnya kejujuran. The show must go on! Teruskan hidupmu! Masih banyak cinta dan pengharapan di depan sana.
Harapan di Masa Datang
Hasil perhitungan cepat aka. Quick Count, entah itu independen atau ditunggangi berbagai kepentingan, menempatkan pasangan nomor tengah dari ketiga calon presiden periode mendatang...memang belum final hasilnya, toh hasil dari Event Organizer aka. KPU juga belum keluar...tapi harapan dari saya simpel aja, toh tak didengarkan juga tidak apa-apa..
Pertama, siapapun yang memimpin nanti, entah pro rakyat, atau yang melanjutkan, atau yang lebih cepat, harus kembali mendeklarasikan Gerakan Disiplin Nasional aka. GDN. Memang gerakan itu adalah produk Orde Baru yang (sepertinya) dianggap hina, tapi toh gagasan ini (dulu) sangat bagus, walaupun (lagi-lagi) prakteknya sulit juga..minimal hal-hal kecil bisa diperbaiki, seperti menyeberang jalan di zebra cross atau jembatan penyeberangan, pendisiplinan jalur busway, sikap berkendara, dan lain-lain..intinya, mental masyarakat itu haruslah dibina, tentu bukan lagi dengan tipe doktrinisasi lagi seperti dulu, tapi lebih ke bimbingan yang persuasif, kecuali apabila masih ada yang melanggar ya itu urusan beda lagi, tetap hukum (yang berdasarkan Undang-Undang, bukan berdasarkan Rupiah) yang bertindak.
Kedua, menyambung harapan pertama, galakkan kembali Gerakan Nasional Orang Tua Asuh. Dan tentu gerakan ini bukan cuma terpusat di Jakarta saja, namanya juga nasional. Dalam UUD'45, landasan hukum kita dalam bernegara, memang urusan hidup orang-orang terlantar (fokus ini ke anak-anak saya minta, karena yang berusia kanak-kanak ilegal namanya bila dipekerjakan) dipelihara negara. Melihat bangsa ini yang sudah merdeka 60 tahun lebih, hal ini memang sulit terwujud karena banyak pos-pos belanja negara dari Sabang sampai Merauke. Jadi biarlah para dewasa-dewasa yang sudah mapan dan bahagia tapi masih merasa kurang bahagia dengan kehadiran buah hati yang menjaga anak-anak terlantar itu.
Ketiga, galakkan lagi (segalak-galaknya) program KB, dan bila perlu cara negara China menerapkan hal serupa kita tiru juga, yaitu ditindaknya orang-orang yang masih saja terus memenuhi bumi kita yang makin sempit. Berbagai alasan penolakan pasti ada, seperti melanggar hak oranglah, atau bahkan melanggar hidup mereka yang merasa kedinginan di malam hari sehingga butuh kehangatan (dan selanjutnya terserah anda). Program ini secepatnya harus sukses, karena tidak mungkin pertumbuhan ekonomi yang mengikuti hitungan deret saja harus meladeni kebutuhan manusia-manusia yang terus bertambah bak jamur (bukannya saya menghina makhluk Allah) yang tumbuh mengikuti deret eksponensial. Mengiringi program ini, harus disebarkan juga program Inisiasi Menyusu Dini aka. IMD, yaitu program dimana calon ibu diberi penyuluhan untuk menjadi ibu kelak, seperti ASI Eksklusif misalnya. Program ini (yang belum pernah disebarkan ke masyarakat) jelas sangat menguntungkan.
Biasanya, entah di rumah sakit bersalin atau bidan sekalipun, bayi yang baru lahir langsung dipisahkan dari ibunya, yang katanya (karena saya sendiri belum pernah mengalami punya anak) itu prosedur, seperti dimandikan, ditimbang, di-inkubator. Mulai sekarang, jangan lakukan proedur-prosedur itu dulu! Langsung letakkan bayi anda yang baru lahir ke bumi itu ke tubuh anda, dan biarkan bayi anda mencari jalan untuk menyusu (namanya jug inisiasi). Biasanya butuh 30-60 menit hingga bayi sukses menyusu, dan tentu butuh kesabaran dari sang ibu, tapi hal itu terbayar! Colostrum, zat penting yang hanya keluar dari susu ibu di beberapa menit setelah melahirkan bisa didapatkan bayi (sehingga lebih sehat nantinya), zat oksitosin di tubuh sang ibu pun bisa menghilangkan rasa nyeri setelah melahirkan, resiko kanker payudara sang ibu bisa menurun, si bayi pun mudah "memposisikan" dirinya saat akan menyusu lagi (dari pengalamannya bermenit-menit bergulat di atas tubuh sang ibu) sehingga sang ibu tak perlu repot-repot lagi, dan juga dapat menghemat anggaran sang ibu juga! FYI, apabila seluruh ibu di Indonesia mau menerapkan hal ini juga ASI Eksklusif, yang berarti tidak memberikan susu kemasan sama sekali sekitar 6-12 bulan atau lebih, uang yang dapat dihemat mencapai Rp 2 Triliun lebih! Itu dari anggaran untuk membeli susu saja, anggaran apabila si bayi sakit diare misalnya..tentu uang yang bisa dihemat bisa digunakana ke pos-pos belanja lain, atau bahkan ditabung!
Luar biasa, kan? Dan semua itu hanya sekedar harapan jika pemerintah tidak berinisiatif sama sekali.
dag...dig...dug...
cukup banyak yang terjadi belakangan ini, sobat...
yang terbaru itu ya kembali berubahnya peta koalisi setelah Pileg kemaren...terlihat sekali kepentingan golongan (kewajaran yg makin tak wajar), sampai-sampai hampir lupa posisi mereka sebelumnya...lawan mulai mendekat menjadi kawan, kawan malah menjauh dan mengancam menjadi lawan...ya semua itu kepentingan golongan, kawan...
jika saja saya menjadi capres dgn suara mayoritas, tentu segera menjadi pedagang gula pasir kaya raya (kok pedagang??hehe) yang teramat manis untuk disantap oleh pasukan semut (semut juga punya banyak golongan, lho...hehe)
semua mau jatah masing2, dan saya pasti berupaya adil kan??
nah, tentu saya hanya memberi semut2 itu jatah yg sama rata, dan biar jatah berlebih itu buat istri si pedagang kan??(haha...sedikit sensitif klo topik yang ini dilanjutkan)...
yang jelas, semoga bangsa ini tetap di jalurnya untuk tinggal landas dan mengejar tetangga kita di luar sana...
sekalian deh ah...
sesuai judul nih sekarang...mau curhat (bukan colongan, yang punya blog saya sendiri..hehe)
sudah hampir 4 tahun saya mengenal ilmu campur mencampur ramuan seperti Profesor Severus Snape*halah* alias kimia...jujur aja, pada tahun kedua dan ketiga mempelajari ilmu ini, saya seperti menemukan apa yang saya cari dulu, bahkan sampai sekarang, ya nikmatnya menuntut ilmu, yang sekarang jelas sedang sangat surut parah...(semoga semester esok semanga itu kembali)...kimia juga yang menceburkan saya ke dunia yang digeluti sekarang, apa istilahnya??oh ya...masa persiapan katanya (bagi saya masa buang2 waktu untuk sekarang, entah bagaimana nanti)..
tapi kok seperti terperangkap ke jebakan sendiri ya??entahlah, saya juga bingung, sampai2 analogi barusan tak cocok sama sekali...
teknik, ya benar..ilmu teknik...tentu sangat berkaitan erat seperti rantai dengan namanya fisika, dan hebatnya ilmu satu itu tetap saja selalu merepotkan dan tak pernah gagal menghancurkan nilai saya...bisa dibilang pelajaran ini semacam momok lah buat saya, dan tentu orang lain merasakan yang sama (semestinya...)
tapi ama mau dikata, sudah terlanjur basah, sayang umur kalo ngulang lagi (ngulang di tempat lain...haha)...
di hadapan saya ada 3 jalur nih sekarang (semoga tetap 3 ini aja, jangan tambah 1 lagi...), teknik kimia, teknik industri, dan fisika (ya, anda benar...fisika) teknik...
dan ke-teknik-an yang terakhir disebut sepertinya lebih realistis karena kebodohan saya ini sudah berani melangkah di tempat terangker di Indonesia untuk menuntut ilmu...(kali ini saya jamin analoginya tepat...haha)
semoga saja itu tidak terjadi (terutama jalur ke-4, yang gak perlu diceritakan)...ingin juga rasanya mengulang mata kuliah dasar yang nilainya sih lumayan (parah...), tapi kasian orang tua, tapi lebih kasian lagi dgn nilai saya klo di diamkan saja...haha
Ya Tuhan, semoga jalan yang saya pilih dan saya ambil dan saya jalani tetap di bawah cahaya rahmat-Mu, walaupun prosesnya kacau balau...mantapkan, teguhkan, kuatkan, tebalkan (isi kantong saya*halah)!!
Amin...
Langganan:
Postingan (Atom)