Tampilkan postingan dengan label langkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label langkah. Tampilkan semua postingan

It's time to change, PSSI!

Hari ini, tanggal 26 bulan 12 tahun 2010, tepat 6 tahun setelah bencana alam tsunami yang memporak-porandakan bumi Aceh. Dan hari ini pula, sebuah tragedi di dunia persepakbolaan nasional kembali terjadi, yang mencoreng nama bangsa kita di mata khalayak dunia.

Chaos terjadi di Stadion kebanggaan rakyat Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno. Ribuan orang terlibat kekisruhan saat mengantre untuk membeli tiket kategori 3 di final leg 2 AFF Suzuki Cup, yang mempertemukan 2 musuh bebuyutan, Indonesia dan Malaysia. Menurut saya, jelas emosi para penonton para penonton gampang tersulut, karena mereka terpaksa menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Namun, ketidakmampuan panitia ticketing yang koordinasinya diatur LOC dan juga PSSI jelas merupakan sumber dari semua masalah.

Kekisruhan ini juga jelas merupakan puncak kegagalan kerja PSSI di bawah Nurdin Halid yang memang kian lama desakan untuk mundur semakin membesar. Pemerintah sebagai pemegang aspirasi rakyat sebenarnya tidak diam seribu bahasa melihat masalah di PSSI. Melalui KSN beberapa waktu yang lalu, memang diharapkan ada perubahan yang dilakukan oleh PSSI. Namun, janji mereka untuk berubah hanyalah sekedar hembusan janji surga.

Hal ini mau tidak mau harus kita maklumi, karena bukan kepada pemerintahlah PSSI harus mempertanggungjawabkan kinerjanya, karena apa yang mereka lakukan hanyalah tunduk kepada otoritas sepakbola dunia atau FIFA. Bahkan, FIFA akan memboikot keterlibatan sebuah Negara di ajang internasional bila terbukti pemerintah Negara tersebut turut campur tangan atau melakukan intervensi ke otoritas sepakbola Negara bersangkutan. Maka, tidaklah heran jika SBY (yang bisa saya bilang sangat taat aturan yang jelas-jelas buruk) tidak banyak berkutik untuk mereformasi PSSI.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi masalah ini?
Kuncinya hanya satu. Menurut saya, jelas aturan FIFA diatas tentu harus segera direvisi. Dan semestinya kekisruhan yang terjadi baru-baru ini sudah menjadi alasan yang cukup bagi Sepp Blatter dan jajarannya. Atau, bila FIFA tidak merasa bahwa aturannya harus direvisi, kinerja Nurdin Halid dan jajarannya selama ini bisa menjadi pertimbangan.

Yah, miris memang, karena resikonya adalah kita tidak bisa mengikuti semua event internasional di bawah koordinasi FIFA. Namun, mengingat bahwa kualitas tim nasional kita (yang walaupun saat ini cukup baik dan membangkitkan euphoria masyarakat) kalah dari bangsa lain, ke-tidakterlibat-an kita di ajang internasional rasanya bukan menjadi masalah. Jika sudah begitu, intervensi PSSI langsung untuk direformasi adalah wajib hukumnya. Garuda di dada!!

Mega Factories: Totalitas dalam berkarya

Di zaman sekarang, normalnya tiap orang pasti pernah menonton TV, minimal melihat sekilas saat makan di warteg atau ikut nimbrung nonton pertandingan olahraga di rumah tetangga. Walaupun kini banyak siaran yang tidak mendidik, tapi ada 1 acara yang menarik hati saya. Acara itu adalah Mega Factories, tentang bagaimana sebuah produk hebat dibuat dengan totalitas pekerjanya. Di musim keduanya, sudah beberapa episode yang ditayangkan. Antara lain episode Lamborghini yang membuat Murcielago SV, Rolls-Royce yang membuat Phantom, dan Audi dengan R8.
Fokus saya pada tulisan ini adalah bagaimana mereka yang bekerja di masing-masing pabrik sangat total melakukan pekerjaannya, ditambah mereka membuat mobil-mobil hebat itu dengan tangan (hand-made). Dari urusan mesin, bodi mobil, proses pengecatan, perakitan, inspeksi hingga road test, mereka benar-benar menggunakan standar tinggi dan menolah segala bentuk kekeliruan. Sebuah pembelajaran bagi kita sebenarnya, bahwa kesungguhan dalam berusaha, yang tentu dengan diberlakukannya standar yang tinggi pantas untuk dihargai. Menggelitik juga mengingat banyak produsen mobil di Indonesia yang lebih mengejar profit dan kuantitas tersedianya barang daripada kualitas dan keamanan bagi penggunanya. Tapi mungkin tidak bisa dicompare juga, karena demandnya memang berbeda.

Jadi, bolehlah kita membahas sedikit, karena sepertinya gak asik klo cerita tapi yang membaca gak ngerti :D
Yang pertama kita ngomongin Murcielago SV, dimana arti SV sendiri berarti "Super Veloce" atau "Super Fast." Maha karya ini dibanderol seharga 300.000 euro, tentu makni mahal jika anda mencoba memboyongnya ke Indonesia. Mobil ini dalam pembuatannya melibatkan 130 orang. Kedua adalah Rolls-Royce Phantom, yang diklaim mobil ini sangat berat karena fitur mewah di dalamnya, tapi punya akselarasi lembut. Yang pernah mendengar atau mencoba naik Airbus A380 pasti tahu betapa hebatnya mesin pesawat itu bekerja. Mampu mengangkat pesawat raksasa tapi mengeluarkan suara yang tidak bising seperti pesawat kebanyakan. Dan untuk membuat 1 Phantom, butuh waktu 2 bulan. Bayangkan! Bukan karena kekurangan pekerja, tapi karena prosesnya yang benar-benar buatan tangan itu. Jadi maklum aja. Dan yang terakhir adalah Audi R8. Yang menarik untuk disimak adalah setengah dari pekerja pembuat R8 ini berusia di atas 40, sehingga sering disebut "silverliners" :D. Mereka yang terpilih membangun R8 tentu bukan orang sembarangan di bidangnya. Normalnya, dibutuhkan 70 jam kerja atau 8 hari untuk membuat mobil ini dari bahan aluminium hingga bisa meluncur di jalan. Dibanding Phantom, tentu R8 lebih cepat prosesnya. Tapi keduanya memang punya segmen tersendiri. Phantom mengutamakan kemewahan (tidak pantas menyandingnya dengan BMW atau Mercy :p), sedangkan  R8 mengutamakan kecepatan, sangat pas untuk mereka yang hobi memacu adrenalin.
Dan hanya mimpi saja membayangkan  bisa naik di salah satu mobil ini. Tapi siapa tahu? Sekarang boleh saja bermimpi, tapi kedepannya mungkin ada saat dimana saya punya kesempatan memacu salah satunya. Namanya juga mimpi.
Buat yang masih penasaran silahkan mampir ke http://www.natgeotv.com

Belajarlah dari Sejarah, tapi jangan pernah mengikutinya...

Sejarah disini maksudnya adalah kejadian-kejadian yang pernah terjadi di dunia ini oleh manusia, mulai dari zaman Mesopotamia, Babilonia, hingga kini.
Dulu, saat masih SMA, guru Sejarah saya, panggil saja Pak Ipik, pernah bertanya siapa di antara kami yang menganggap pelajaran Sejarah itu tidak penting? Saya, sebagai anak normal IPA, tentu menganggap Sejarah itu gak penting, karena buat apa juga beajar Sejarah lagi (alasan waktu itu :p). Dan hanya saya yang berasumsi seperti itu atau minimal hanya saya yang berani menentang pendapat mainstream (??)
Dengan bijaknya guru hebat ini berkata, "Belajarlah dari Sejarah, karena sebenarnya kita tak akan bisa terlepas dari Sejarah."
Dan barulah saat ini saya bisa memahami dengan baik maksudnya, walaupun tetap dengan pola pikir yang aneh cenderung freak. Dari sejarah, kita bisa mengetahui apa yang terjadi di zaman dulu, mulai dari Mesopotamia, Babilonia, perebutan kekuasaan, suku Barbar, kejayaan Islam, pengkhianatan, seni tingkat tinggi karya sekelas Mozart atau Picasso atau seniman lainnya, penjajahan, hingga zaman Facebook seperti sekarang ini.
Dan kenapa saya bilang jangan mengikutinya? Yang saya maksud adalah jangan mengikuti hal-hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu, seperti perang, perilaku vandal, berkhianat, perzinahan, dan segala macam yang buruk-buruk.
Karena sebenarnya itulah esensi dari tujuan kita belajar sejarah..
Kita mengetahui kejadian di masa lalu, dan dapat mengetahui mana yang pantas diikuti dan mana yang tidak pantas dicontoh.
Bingung ya maksudnya? Yah semoga saja anda mengerti. :D

Kenapa ya?

kenapa ya, orang Indonesia kan otaknya canggih2, terbukti dengan mendominasi Olimpiade Internasional.
tapi saat tenaga kerjanya diadu dengan negara lain, bahkan di wilayah ASEAN sekalipun, malah tidak berkutik??

Harapan di Masa Datang

Hasil perhitungan cepat aka. Quick Count, entah itu independen atau ditunggangi berbagai kepentingan, menempatkan pasangan nomor tengah dari ketiga calon presiden periode mendatang...memang belum final hasilnya, toh hasil dari Event Organizer aka. KPU juga belum keluar...tapi harapan dari saya simpel aja, toh tak didengarkan juga tidak apa-apa..

Pertama, siapapun yang memimpin nanti, entah pro rakyat, atau yang melanjutkan, atau yang lebih cepat, harus kembali mendeklarasikan Gerakan Disiplin Nasional aka. GDN. Memang gerakan itu adalah produk Orde Baru yang (sepertinya) dianggap hina, tapi toh gagasan ini (dulu) sangat bagus, walaupun (lagi-lagi) prakteknya sulit juga..minimal hal-hal kecil bisa diperbaiki, seperti menyeberang jalan di zebra cross atau jembatan penyeberangan, pendisiplinan jalur busway, sikap berkendara, dan lain-lain..intinya, mental masyarakat itu haruslah dibina, tentu bukan lagi dengan tipe doktrinisasi lagi seperti dulu, tapi lebih ke bimbingan yang persuasif, kecuali apabila masih ada yang melanggar ya itu urusan beda lagi, tetap hukum (yang berdasarkan Undang-Undang, bukan berdasarkan Rupiah) yang bertindak.
Kedua, menyambung harapan pertama, galakkan kembali Gerakan Nasional Orang Tua Asuh. Dan tentu gerakan ini bukan cuma terpusat di Jakarta saja, namanya juga nasional. Dalam UUD'45, landasan hukum kita dalam bernegara, memang urusan hidup orang-orang terlantar (fokus ini ke anak-anak saya minta, karena yang berusia kanak-kanak ilegal namanya bila dipekerjakan) dipelihara negara. Melihat bangsa ini yang sudah merdeka 60 tahun lebih, hal ini memang sulit terwujud karena banyak pos-pos belanja negara dari Sabang sampai Merauke. Jadi biarlah para dewasa-dewasa yang sudah mapan dan bahagia tapi masih merasa kurang bahagia dengan kehadiran buah hati yang menjaga anak-anak terlantar itu.
Ketiga, galakkan lagi (segalak-galaknya) program KB, dan bila perlu cara negara China menerapkan hal serupa kita tiru juga, yaitu ditindaknya orang-orang yang masih saja terus memenuhi bumi kita yang makin sempit. Berbagai alasan penolakan pasti ada, seperti melanggar hak oranglah, atau bahkan melanggar hidup mereka yang merasa kedinginan di malam hari sehingga butuh kehangatan (dan selanjutnya terserah anda). Program ini secepatnya harus sukses, karena tidak mungkin pertumbuhan ekonomi yang mengikuti hitungan deret saja harus meladeni kebutuhan manusia-manusia yang terus bertambah bak jamur (bukannya saya menghina makhluk Allah) yang tumbuh mengikuti deret eksponensial. Mengiringi program ini, harus disebarkan juga program Inisiasi Menyusu Dini aka. IMD, yaitu program dimana calon ibu diberi penyuluhan untuk menjadi ibu kelak, seperti ASI Eksklusif misalnya. Program ini (yang belum pernah disebarkan ke masyarakat) jelas sangat menguntungkan.
Biasanya, entah di rumah sakit bersalin atau bidan sekalipun, bayi yang baru lahir langsung dipisahkan dari ibunya, yang katanya (karena saya sendiri belum pernah mengalami punya anak) itu prosedur, seperti dimandikan, ditimbang, di-inkubator. Mulai sekarang, jangan lakukan proedur-prosedur itu dulu! Langsung letakkan bayi anda yang baru lahir ke bumi itu ke tubuh anda, dan biarkan bayi anda mencari jalan untuk menyusu (namanya jug inisiasi). Biasanya butuh 30-60 menit hingga bayi sukses menyusu, dan tentu butuh kesabaran dari sang ibu, tapi hal itu terbayar! Colostrum, zat penting yang hanya keluar dari susu ibu di beberapa menit setelah melahirkan bisa didapatkan bayi (sehingga lebih sehat nantinya), zat oksitosin di tubuh sang ibu pun bisa menghilangkan rasa nyeri setelah melahirkan, resiko kanker payudara sang ibu bisa menurun, si bayi pun mudah "memposisikan" dirinya saat akan menyusu lagi (dari pengalamannya bermenit-menit bergulat di atas tubuh sang ibu) sehingga sang ibu tak perlu repot-repot lagi, dan juga dapat menghemat anggaran sang ibu juga! FYI, apabila seluruh ibu di Indonesia mau menerapkan hal ini juga ASI Eksklusif, yang berarti tidak memberikan susu kemasan sama sekali sekitar 6-12 bulan atau lebih, uang yang dapat dihemat mencapai Rp 2 Triliun lebih! Itu dari anggaran untuk membeli susu saja, anggaran apabila si bayi sakit diare misalnya..tentu uang yang bisa dihemat bisa digunakana ke pos-pos belanja lain, atau bahkan ditabung!
Luar biasa, kan? Dan semua itu hanya sekedar harapan jika pemerintah tidak berinisiatif sama sekali.

Pohon buatan, serap emisi karbon 1000X lebih banyak dibanding pohon alami..!


Ide brilian bisa datang dari mana saja. Untuk tugas sekolah, sepuluh tahun lalu, Klaus Lackner menyarankan anak perempuannya membuat penyerap debu. Ternyata tugas sekolah sang anak memantik profesor geofisika di Universitas Columbia, Amerika Serikat, itu berpikir lebih jauh.
Dia lantas merancang alat penyerap karbon dioksida dari polusi kendaraan bermotor dan pabrik. Dinamai "pohon sintetis", alat itu bisa menyerap CO2 seribu kali lipat dari pohon alam.

Kini Laboratorium Global Research Technologies, Colorado, mengembangkan pohon sintetis berbahan aluminium. Dan Komisi Energi Amerika telah menyetujuinya. “Tujuan akhir proyek ini adalah menyingkat 100 ribu tahun penyerapan polusi oleh pohon menjadi 30 menit saja," kata Lackner kepada CNN pekan lalu.

Bentuk pohon sintetis mirip antena penyerap sinar ultraviolet--berukuran 30 x 5 meter. Dasar kerjanya sama, yakni menghadang karbon dioksida di udara. Seperti pohon asli, panel Lackner mampu mengembuskan oksigen. Sisa karbon bisa dipakai untuk mesin pengeboran minyak lepas pantai, hidrokarbon, atau avtur. Berikut cara kerjanya:


Satu pohon sintetis bisa menyerap karbon dioksida seluas satu hektare, atau setara dengan 90 ribu ton CO2 (emisi dari 15 ribu mobil) dalam setahun. Jika pohon sintetis bisa diproduksi massal dan efektif bekerja di negara-negara maju, emisi karbon di dunia bisa berkurang setidaknya seperlimanya.

Setiap tahun ada 29 miliar ton karbon dioksida terpompa ke atmosfer: 80 persen berasal dari kendaraan bermotor. Setiap 1 gram bensin menghasilkan 3,14 gram karbon dioksida. Di Indonesia, konsumsi bensin per tahun mencapai 584 juta barel per tahun. Artinya, ada 291,5 juta ton karbon dioksida yang kita hasilkan dalam satu tahun.

dag...dig...dug...

cukup banyak yang terjadi belakangan ini, sobat...
yang terbaru itu ya kembali berubahnya peta koalisi setelah Pileg kemaren...terlihat sekali kepentingan golongan (kewajaran yg makin tak wajar), sampai-sampai hampir lupa posisi mereka sebelumnya...lawan mulai mendekat menjadi kawan, kawan malah menjauh dan mengancam menjadi lawan...ya semua itu kepentingan golongan, kawan...
jika saja saya menjadi capres dgn suara mayoritas, tentu segera menjadi pedagang gula pasir kaya raya (kok pedagang??hehe) yang teramat manis untuk disantap oleh pasukan semut (semut juga punya banyak golongan, lho...hehe)
semua mau jatah masing2, dan saya pasti berupaya adil kan??
nah, tentu saya hanya memberi semut2 itu jatah yg sama rata, dan biar jatah berlebih itu buat istri si pedagang kan??(haha...sedikit sensitif klo topik yang ini dilanjutkan)...
yang jelas, semoga bangsa ini tetap di jalurnya untuk tinggal landas dan mengejar tetangga kita di luar sana...


sekalian deh ah...
sesuai judul nih sekarang...mau curhat (bukan colongan, yang punya blog saya sendiri..hehe)
sudah hampir 4 tahun saya mengenal ilmu campur mencampur ramuan seperti Profesor Severus Snape*halah* alias kimia...jujur aja, pada tahun kedua dan ketiga mempelajari ilmu ini, saya seperti menemukan apa yang saya cari dulu, bahkan sampai sekarang, ya nikmatnya menuntut ilmu, yang sekarang jelas sedang sangat surut parah...(semoga semester esok semanga itu kembali)...kimia juga yang menceburkan saya ke dunia yang digeluti sekarang, apa istilahnya??oh ya...masa persiapan katanya (bagi saya masa buang2 waktu untuk sekarang, entah bagaimana nanti)..
tapi kok seperti terperangkap ke jebakan sendiri ya??entahlah, saya juga bingung, sampai2 analogi barusan tak cocok sama sekali...
teknik, ya benar..ilmu teknik...tentu sangat berkaitan erat seperti rantai dengan namanya fisika, dan hebatnya ilmu satu itu tetap saja selalu merepotkan dan tak pernah gagal menghancurkan nilai saya...bisa dibilang pelajaran ini semacam momok lah buat saya, dan tentu orang lain merasakan yang sama (semestinya...)
tapi ama mau dikata, sudah terlanjur basah, sayang umur kalo ngulang lagi (ngulang di tempat lain...haha)...
di hadapan saya ada 3 jalur nih sekarang (semoga tetap 3 ini aja, jangan tambah 1 lagi...), teknik kimia, teknik industri, dan fisika (ya, anda benar...fisika) teknik...
dan ke-teknik-an yang terakhir disebut sepertinya lebih realistis karena kebodohan saya ini sudah berani melangkah di tempat terangker di Indonesia untuk menuntut ilmu...(kali ini saya jamin analoginya tepat...haha)
semoga saja itu tidak terjadi (terutama jalur ke-4, yang gak perlu diceritakan)...ingin juga rasanya mengulang mata kuliah dasar yang nilainya sih lumayan (parah...), tapi kasian orang tua, tapi lebih kasian lagi dgn nilai saya klo di diamkan saja...haha
Ya Tuhan, semoga jalan yang saya pilih dan saya ambil dan saya jalani tetap di bawah cahaya rahmat-Mu, walaupun prosesnya kacau balau...mantapkan, teguhkan, kuatkan, tebalkan (isi kantong saya*halah)!!
Amin...

Lima Langkah Darurat untuk Menyelamatkan Bumi dari Perubahan Iklim

Bagaimana Kita Dapat Membantu?

Kita mengetahui bahwa untuk menghentikan pemanasan global tidak mungkin dilakukan oleh seorang diri tetapi harus dilakukan melalui kerja sama semua orang. Tetapi walau bagaimanapun, mulailah dari diri kita sendiri, jadilah pahlawan lingkungan dan penyelamat bumi di saat yang kritis ini. Berikut adalah beberapa langkah praktis untuk menghentikan perubahan iklim.

1. Selamatkan Kehidupan dan Planet dengan Menghentikan Konsumsi Daging

Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah membuka mata dunia, industri peternakan merupakan penyebab utama pemanasan global. Industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 18 persen, jumlah ini melebihi gabungan emisi dari seluruh transportasi  di dunia seperti motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter yang menyumbang 13 persen gas rumah kaca atau pembangkit listrik di seluruh dunia yang menyumbangkan 11 persen gas rumah kaca. PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2 saja, padahal industri peternakan juga merupakan salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan melepaskan 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2dalam 20 tahun pertama dan 23 kali lebih kuat dari CO2 dalam 100 tahun). Secara keseluruhan, sekitar 86 juta ton metana dihasilkan dari sistem pencernaan sapi dan kambing, dan 18 juta ton lagi berasal dari kotoran ternak yang menyumbang 65 persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 298 kali lebih kuat dari CO2), serta 64 persen amonia penyebab hujan asam.

Peternakan juga menjadi penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 80 persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, industri peternakan menghasilkan emisi 2,4 miliar ton CO2. Di luar itu, peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak.

Sebuah laporan dari Earth Institute menegaskan bahwa diet berbasis tanaman hanya membutuhkan 25% energi yang dibutuhkan oleh diet yang berbasis daging. Penelitian yang dilakukan Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas Chicago juga memberikan kesimpulan yang sama: mengganti pola makan daging dengan pola makan vegetarian 50% lebih efektif untuk mencegah pemanasan global daripada mengganti sebuah mobil SUV dengan mobil hibrida. Seorang vegetarian dengan standar diet orang Amerika akan menghemat 1,5 ton emisi rumah kaca setiap tahunnya! Seorang vegetarian yang mengendarai SUV Hummer masih lebih bersahabat dengan lingkungan daripada seorang pemakan daging yang mengendarai sepeda!

2. Hemat Energi dan Hemat Sumber Daya Alam

Bila memungkinkan, carilah sumber-sumber energi alternatif yang tidak menghasilkan emisi CO2 seperti tenaga matahari, air, angin, nuklir, dan lain-lain. Bila terpaksa harus menggunakan bahan bakar fosil (yang mana akan menghasilkan emisi CO2), gunakanlah dengan bijak dan efisien. Hal ini termasuk menghemat listrik dan energi, apalagi Indonesia termasuk negara yang banyak menggunakan bahan bakar fosil (minyak, batubara) untuk pembangkit listriknya.

Matikan alat elektronik dari sumbernya atau tekan steker sampai lampunya mati, jangan biarkan alat elektronik dalam keadaan standby. Jangan biarkan kran, tempat penampungan air, tabung toilet mengalami kebocoran, sehingga air menetes keluar terus selama 24 jam, selain memboroskan sumber air yang berharga juga memboroskan uang Anda. Pergunakan peralatan listrik yang hemat energi, seperti lampu, rice cooker, TV, AC, dan peralatan listrik lainnya. Matikan lampu apabila pencahayaan dari luar masih terang, atau saat kita sedang tidak berada di dalam ruangan, maksimalkan pencahayaan dari matahari, buka tirai jendela, pergunakan cat berwarna cerah di dalam rumah. Jangan membuka pintu lemari es terlalu lama karena setiap kali pintu lemari es dibuka maka diperlukan tarikan listrik yang tinggi untuk mendinginkan kembali suhunya, potong makanan dalam ukuran yang lebih kecil, karena ukuran makanan yang kecil akan cepat matang dan menggunakan energi lebih sedikit. Gunakan kertas secara bolak-balik untuk mengurangi pembabatan hutan. Dan yang terpenting, hindari kantong plastik, bawa tas sendiri.

3. Menanam Pohon dapat Memberi Manfaat bagi Bumi Kita

Tanaman hijau menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya dalam jaringannya. Tetapi setelah mati mereka akan melepaskan kembali CO2 ke udara. Lingkungan dengan banyak tanaman akan mengikat CO2 dengan baik, dan harus dipertahankan oleh generasi mendatang. Jika tidak, maka karbon yang sudah tersimpan dalam tanaman akan kembali terlepas ke udara sebagai CO2.

Dua tahun setelah menanam pohon muda yang berkayu keras, ilmuawan Universitas Lousiana Tech, menemukan bahwa pada setiap 4050 m2 dari hutan yang ditanami dapat menyerap cukup banyak karbon dari mobil yang berjalan selama satu tahun.

Sebuah studi oleh Dinas Kehutanan AS memperlihatkan bahwa dengan menanam 95.000 pohon pada dua wilayah bagian di ibukota Chicago telah memberikan udara yang lebih bersih dan akan menghemat $38 juta selama lebih dari 30 tahun sesuai untuk penurunan panas dan biaya pendingin.

Hutan mempunyai peranan yang sangat penting. Jika kita mempunyai hutan, maka itu berarti kita mempunyai senjata ekstra untuk memerangi perubahan iklim.

4. Kurangi Emisi Transportasi dan Beralih ke Energi Alternatif

Usahakan menggunakan transportasi massa daripada memiliki mobil sendiri yang selain boros biaya BBM, juga menghindari kemacetan di jalan, biaya parkir, asuransi, dan biaya pemeliharaan mobil. Berangkat atau pulang kerja secara berbarengan dengan rekan-rekan sekantor dalam satu mobil yang searah, sehingga bisa berbagi biaya perjalanan dengan mereka.

Apabila jarak rumah ke kantor atau tempat kerja dekat dan bisa ditempuh dengan naik sepeda, lebih baik menggunakan sepeda yang selain menghemat biaya perjalanan juga baik untuk menjaga kebugaran tubuh.

“Saya berusaha untuk menggunakan sepeda untuk pergi ke tempat kerja sesering yang saya bisa untuk menghemat energi.” - Margot Wallstrom, Wakil Presiden dari Komisi Uni Eropa.

Apabila memakai mobil sendiri, pergunakan mobil yang hemat bahan bakar atau bahkan beli mobil hibrida jika Anda mampu.

5. Daur Ulang dapat Membawa Perubahan

Kalifornia memperkirakan bahwa daur ulang pada setiap negara bagian akan menghemat penyaluran energi untuk 1,4 juta rumah, dan mengurangi 27.047 ton polusi pada air, menyelamatkan 14 juta pohon, dan mengurangi efek emisi gas rumah kaca yang setara dengan 3,8 juta mobil.

Universitas Teknik di Denmark menemukan bahwa aluminium yang didaur ulang menggunakan 95% lebih sedikit energi dibanding alumunium yang tidak didaur ulang, 70% lebih hemat energi untuk plastik, dan 40% lebih untuk kertas.

Dan yang terpenting:

Berubahlah!

Satu hal yang sangat penting di samping lima hal yang dapat kita lakukan di atas adalah keinginan dan motivasi kita sendiri untuk berubah.

Saran-saran di atas tidak akan berarti jika hanya menjadi bahan bacaan tanpa tindakan yang nyata. Kita harus benar-benar mulai mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu mengambil langkah ekstrim untuk langsung berubah hanya dalam semalam bila hal itu terlalu berat bagi kita. Lakukanlah secara bertahap tapi konsisten dengan komitmen kita.

Jadilah contoh nyata bagi lingkungan dan orang-orang di sekitar kita. Contoh dan praktik yang kita berikan sangat penting untuk menginspirasi banyak orang lainnya untuk berubah pula. Bersuaralah dan beritahu kepada pemerintah, media, keluarga, kerabat, tetangga, sahabat, teman sekolah, rekan kerja, dan masyarakat sekitar untuk menyelamatkan Bumi dari ancaman pemanasan global dan perubahan iklim. Berilah mereka dorongan untuk mencoba pola hidup mulia yang akan menyelamatkan planet kita tercinta ini.