Tampilkan postingan dengan label konspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konspirasi. Tampilkan semua postingan

Tahan diri

Gayus Tambunan, seorang pegawai pajak yang bisa dibilang "menyakiti" hati masyarakat akibat perilakunya, menumpuk uang sebanyak 30 miliar rupiah (3 juta dollar Amerika lebih). Dari rata-rata gaji pegawai pajak yg memang sudah lebih dari cukup, mencapai nilai sebesar itu tentu mustahil bila baru bekerja 5 tahun. Ternyata oh ternyata, dia punya profesi lain, "makelar" namanya. Dari berbagai sumber, sebelum jabatannya diturunkan menjadi pegawai pajak biasa, ia sempat menjadi pegawai di bagian keberatan pajak. Bagian atau subseksi ini tempat dimana berkumpulnya individu atau perusahaan wajib pajak merasa keberatan membayar pajak yang terlalu besar, entah salah hitung atau apalah alasan lainnya. Jadi bisa dibilang lahan ini "lahan basah", selain orang-orang yang mengurusi bea cukai sana. Kenapa disebut lahan "basah"? Menurut ilmu ekonomi yaitu opportunity cost, terkadang untuk memuluskan tujuan, harus ada sedikit pengorbanan yang dikeluarkan. "Pengorbanan" itu dikeluarkan oleh para keberatan pajak, dan pastinya Gayus serta "Gayus-Gayus" lain kecipratan.
Lalu, benarkah ada "Gayus-Gayus" lain di luar sana? Entahlah, mestinya sudah jadi rahasia umum hal-hal yang baru sedikit dikorek ini. Tunggu saja, dan untuk mereka yang kesal sama Gayus, tahan dulu, karena ia menjadi "pemegang kunci" dari rantai panjang makelar di bidang perpajakan.

Ribetnya....

Barusan terpikirkan suatu keganjilan..
Pajak itu kan uang kas negara, diatur Dirjen Pajak dibawah Departemen Keuangan.
Lalu kenapa BPK gak pernah menyentuh dan memeriksa pajak?
Birokrasi oh birokrasi

Masih seputar ironi

Ironi, apa sih maksudnya?
menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang disediakan http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi, adalah kejadian atau situasi yg bertentangan dng yg diharapkan atau yg seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir.
melihat definisi itu, saya menjadi tergelitik sendiri melihat realita di negeri ini. Walaupun banyak hal yang masih bisa dibanggakan. Mari kita tarik nafas sebelum mulai memberatkan otak dengan tulisan berikut
Mari kita mulai dari pengalaman sehari-hari di jalan, terutama jalanan Jakarta. Lalu lintas yang hiruk pikuk, kendaraan berseliweran, ada yang tertib, ada yang main serobot, ada juga yang berhenti dan parkir sembarangan. Entah dampaknya langsung atau tidak langsung, tapi kehidupan di jalan (termasuk orang yang memang tinggal di jalan), adalah cerminan kehidupan kita, kalau boleh dikatakan peradaban kita walaupun jadi sedikit naif. Selain yang sudah disebutkan, perilaku tidak tertib di jalan atau fasilitas umum lainnya banyak sekali. Dan tentu bukan cuma berdampak kepada diri sendiri, tapi juga berdampak ke orang lain, yah seperti istilah mereka anggota Panitia Khusus di dewan terhormat sana, sistemik sekali dampaknya.
Agak ribet dan susah kalau cuma berteori tanpa dasar, jadi saya beri contoh saja. Dan silahkan dinilai bagaimana pendapat dan nurani Anda berbicara.
Buang sampah sembarangan, bahkan ke sungai seperti rutinitas bagi mereka yang memang tinggal di pinggir (kasarnya bantaran) sungai. Tahukah anda, padahal sudah diberikan fasilitas berupa tempat sampah, yah walaupun memang jauh dari rumah. Maka yang terjadi kemudian adalah perilaku spontan, yaitu balik kanan, terlemparlah sampah ke sungai. Apa yang akan terjadi dengan sampah itu tidak mereka pedulikan, cuma diingat saja saat musim hujan mulai tiba. Tidak tahu kan harus disalahkan atau tidak perlikau itu, kan mereka bertindak spontan? Ya, banyak orang bilang mereka begitu karena tidak diberi penyuluhan (kasarnya tidak berpendidikan). Lantas bagaimana, sudah sifat mereka begitu. Ironis memang...hhmm...
Tarik nafas lagi..
Tanpa disadari, perilaku bermotif "serba spontan" itu berdampak sistemik, lho. Bermacam dampaknya, tapi intinya cuma 1, mencari keuntungan. Lantas keuntungan orang yang buang sampah sembarangan apa? Ya mereka tidak mau capek-capek memikirkan sampah itu. Sampah kan bau, menjijikkan, bernilai rendah, tidak berguna. Dengan mereka buang, selesai sudah pikiran mereka yang "menguras tenaga" tentang si sampah. Dibuang ke sungai, kata mereka, "itu hak saya, kan belakang rumah saya sungai". itu contohnya..
Dengan dicekoki televisi yang memberikan berbagai macam "keindahan", mereka yang dari berawal berprinsip hidup spontan pastinya tergiur. Berbondong-bondonglah mereka ikut ajang pencarian bakat (bahkan untuk masuk kuliah, bakat juga diuji, haha..), ikut casting, ikut sana, ikut sini..yang penting 1, mereka bisa tampil di TV dan dilirik orang, bagaimana orang meliriknya, itu hak masing-masing. Maka dengan mudahnya diprediksi, muncullah orang-orang bayaran. Kenapa mudah diprediksi? Ya wajar saja, dari dulu kita sudah mengenal Jame Bond, kan? Seorang agen rahasia bayaran karangan Ian Fleming. Walaupun tidak disebut bayaran, tapi dengan resiko nyawa seperti di film-filmnya, masak tidak dibayar?
Maka muncullah penonton bayaran, pengemis (bukan bayaran, tapi digerakkan agar mereka dibayar orang yang bersimpati), preman bayaran, bahkan...demonstran bayaran (untuk yang terakhir, bakal di bahas di salah satu acara).
Ya, tidak semua orang tahu hal-hal seperti itu. Menurut saya itu terjadi karena besarnya harapan rakyat kepada pemerintah, ya lapangan pekerjaanlah, kesejahteraanlah, kalau bisa semua digratiskan (kalau bisa..)
Jadilah barisan sakit hati itu mencari celah untuk bekerja. Acara hiburan televisi butuh penggembira agar dikatakan "meriah", terbuka celah para pencari penonton bayaran itu. Dan si pencari sekaligus pengerah penonton itu, asal anda tahu saja, gajinya bisa mengalahkan gaji insinyur atau wisudawan lulusan universitas dan kerja mapan. Dari mana si pengerah penonton itu dapat uang? Dari hasil narik (boleh saya katakan upeti) dari para penonton bayaran acara televisi (layaknya budak) itu yang biasanya dibayar selembar uang berwarna hijau (masih rupiah, bukan Dollar). Orang yang berunjuk rasa, atau apapun itu yang selalu bermodalkan arahan massa juga berubah dan melenceng dari tujuannya, karena ajakan tetangga karena di situ rame (entah melakukan apa) dan BAGI BAGI DUIT, dengan mengerikan ribuan orang langsung bergerak. Luar biasa kekuatan uang itu, padahal nilai mata uang kita itu sebenarnya menyedihkan, boleh dikatakan banci, seperti Andrea Hirata katakan.
Bukan bermaksud merendahkan mereka yang melakukan, tapi itulah realita di kehidupan negara kita. Negara lain? Tidak tahu juga. Mari bertanya kepada rumput yang bergoyang (kalau masih ada rumput).

Sedikit ironisme untuk direnungkan

Ironis...
Disaat banyak anak terancam busung lapar, dengan mudahnya uang sebayak 6,7 triliun rupiah digelontorkan untuk menyelamatkan sebuah bank gagal kelola.
Ironis..
Warga di belahan bumi selatan kelaparan karena ternaknya mati sedangkan warga di belahan bumi utara kelaparan karena untuk keluar mencari makanpun tidak bisa karena ekstremnya cuaca..
Seperti analogi roda, ada saat di atas ada juga saat di bawah
Ada siang dan malam
Ada si kaya dan si miskin
Itu semua hanya sebagian ironisme yang mudah dilihat. Tujuannya hanya 1
Menunjukkan kuasa Sang Pencipta
Sang Maha Segalanya
Si kaya dengan mudahnya bisa saja bernasib seperti si miskin
Si perkasa dengan mudahnya dapat terkapar selamanya di atas pembaringan
Semua telah diatur olehNya

Ternyata kita (harusnya) bisa

Melihat judul di atas, pasti udah bisa ditebak kalo posting membahas 1 hal: pemerintah :D
100 tahun (jangan lupakan 5 tahunnya juga) pemerintahan negara kita menyiapkan (kembali) fondasinya untuk 5 tahun ke depan (semoga kesampaian 5 tahun). Tapi saya gak mau ngomentarin orang yang di atas sekarang, tapi orang-orang di bawah mereka tapi di atas garis-garis kemiskinan. Ingat kan kalo bangsa kita pernah dijajah berabad-abad? Secara tidak langsung, hal itu menurut saya membentuk masyarakatnya. Culture stelsel, romusha, dan segala jenis pemerasan tenaga dilakukan penjajah. Hal ini membuat bangsa kita menjadi pekerja keras. Ya, kita jadi bekerja keras kalo DIPAKSA!! Pasti anotasi ini membuat telinga anda panas dan berhasrat mencari penulis posting ini dan ingin segera menggorok lehernya. Tapi itu kenyataan kan?  Oke kita cari bahasan lain. Apa ya? Oh, saya ingat
Bangsa kita yang dulu terdiri dari berbagai kerajaan yang berganti-ganti kehadirannya, punya beberapa warisan untuk kita. Bukan warisan fisik seperti candi dan prasasti lho. Tapi adalah warisan sifat. Apa itu? Bangsa kita (seperti sebelumnya), susah diajak untul bekerja oleh masing-masing raja mereka. Bangsa kita menganggap cukup dengan pemberian, atau hadiah, atau sedikit kemewahan yang dibagikan orang kerajaan saja mereka sudah makmur. Ya, memang makmur, tapi tidak sepenuhnya definisi "makmur" itu mereka raih. Karena mereka tetap saja miskin. Lha, kalau makmur kan bisa bikin kerajaan tandingan kan? Nah, kalau mereka merasa gak makmur, pasti akan merasa sangat kesal, tapi tidak pernah diungkapkan, yang pada akhirnya sering kita sebut "dendam kesumat". Emangnya gak boleh ya orang kesal? Ya boleh  saja, tapi dendam kesumat itulah yang memudahkan bule-bule sok ramah yang dalam sejarah kita kenal sebagai kompeni itu memprovokasi orang untuk melakukan pemberontakan yang pada akhirnya makin memperpecah bangsa. Makin banyak, dan terus bertambah jumlah kerajaan yang muncul, yang saya jamin juga membuat anda pusing belajar sejarah. Warisan itu masih ada sampai sekarang. Pemerintah selalu dituntut mensejahterakan rakyat, yang jujur saja sulit untuk menyejahterakan SEMUA walaupun harus mengubah Undang-Undang yang membolehkan bule memimpin negeri ini alias mempersilahkan penjajah datang lagi.
Makin tinggi tensinya, ya...
Sesuai judul, coba kita renungkan sifat kita yang pertama, yaitu bekerja keras kalau dipaksa. Cobalah kata "kalau" diganti dengan "tanpa". Harusnya kita sudah makmur tuh dari dulu.
Untuk mencapai inti dari tulisan ini, saya malah menyeret moyang kita ya...maka dari itu maafkan segala kesalahan dalam membuat tulisan ini, karena sesungguhnya cuma bermotif untuk memotivasi diri saya sendiri khususnya dan anda pembaca sekalian pada umumnya (serasa dakwah Jum'at ya :D)

Ternyata ada "misi terselubung" dari serangan Israel..

http://www.mer-c.org/images/stories/banner-palestine%28468x90%29.jpg

sampe malem gw buat blog ini, udah 12 hari Israel dengan enaknya mengepung jalur Gaza. Kemajuan di hari ini cuma Israel ngasih kesempatan 3 jam (saja) untuk rehat juga memberi kesempatan buat masuknya bantuan kemanusiaan dari seluruh dunia. Seperti kita tahu, Israel itu adalah negara bonekanya Amerika Serikat yang tujuannya menurut gw cuma 1, yaitu mendirikan sebuah negara Yahudi, tidak non-Yahudi yg jadi warga negaranya. Awalnya, mereka ga punya tuh yang namanya wilayah negara, sebagai salah satu syarat agar negaranya diakui dunia. 

Daripada kepanjangan juga, langsung aja kita lihat hal-hal terselubung dari Israel dari serangannya ke Gaza..
kenapa Israel mengelar operasi besar-besaran ke Jalur Gaza??Nah, jawaban paling logis berdasarkan analisadaily.com karena bentar lagi pemilu, dan para politisi Israel 'cuma' pengen nunjukin ke rakyat2nya klo mereka adalah pelindung rakyat Yahudi. Isu berkaitan yang paling gampang buatnunjukinnya sikap itu bisa kita rujukkan ke wilayah2 yang terancam, contohnya di Sderot.

Sderot, kota kecil di selatan Israel yg jaraknya cuma beberapa mil dari Gaza, cuma punya 15 detik buat nyari perlindungan klo tiba2 ada raungan suara sirene tiap ada serangan roket dari Hamas. Dan selama hampir 5 tahun, keadaan itu jadi siksaan juga cobaan berat dalam keseharian kehidupan mereka (walopun mereka Israel-negara perang-namanya juga manusia pasti trauma berat dikit2 diserang roket)..halte2 bus di kota itu udah diperkuat spesial untuk tempat berlindung lengkap dengan senjata bila tiba2 ada serangan dari Gaza.

Pemilu di Israel yg jadwalnya 10 Februari nanti membuat tidak ada pejabat pemerintahan Palestina yg nyuekin ancaman2 dari Gaza, terutama karena pejuang Palestina punya roket2 dengan kemampuan jarak jauh dan hulu ledak yang lebih besar, yang berdasarkan info dari berbagai sumber, senjata2 Hamas itu kebanyakan peninggalan Fatah dari Amerika, pembelian dari Soviet, bahkan ada semacam "secret weapon" berupa roket dengan jarak tempuh sekitar 50an kilometer.

Jadi, udah bisa diduga klo hampir setengah juta warga Israel tinggal dalam jangkauan roket Gaza. Adanya unsur2 politis untuk bertindak konkrit terletak di balik keputusan Israel untuk nyerang Gaza. Dan nyaris semua pemikiran itu adalah dari Tzipi Livni, sang menteri luar negeri juga partai tengah Kadima, serta Ehud Barak, menteri pertahanan juga ketua partai Buruh.

Nah, mereka berdua itu berjuang untuk melawan Benjamin Netanyahu, mantan PM dari partai Likud sayap kanan dalam pemilu nanti. Jika mereka masuk ke pertarungan di dalam pemilu, gak ada dari mereka yg akan mampu nampilin sesuatu kecuali sikap agresif seperti menghadapi perang. Sekarang, walaupun kesannya seperti nyuekin, dapat dipastikan kalo Israel dengerin semua kecaman juga kutukan dari dunia internasional. Kita lihat saja, dalam 2 hari terakhir ini, 300 warga Palestina tak berdosa sudah mendahului kita dengan syahid di medan perang, walau mayoritas dari mereka hanyalah warga sipil. Bedanya, roket2 dari Gaza selama 7 tahun terakhir HANYA membunuh 17 sipil Israel. Sejak Israel menarik pasukannya dari Gaza September 2005 lalu, 150 warga sipil Palestina terbunuh UNTUK SETIAP KEMATIAN WARGA SIPIL ISRAEL. Diadepin dengan rasio kayak gitu, pemerintah Israel gak akan bisa bantah kalo responnya dari Gaza akan sebanding.

Lagian , alesan dari konflik Gaza itu kegagalan dari kebijakan pihak Israel maupun Hamas. Sejak Hamas nguasain Gaza dari Juni 2007, taktik satu2nya dari Hamas cuma menembakkan roket ke selatan Israel, sehingga mancing respon keras-yang tentu semua orang dapet memprediksinya. Sementara, Israel udah blokir Gaza terhadap apapun kecuali untuk pasokan kemanusiaan yg penting juga melancarkan serangan militer dengan teratur.

Pada berbagai kesempatan yg amat sangat langka saat pos perbatasan dibuka, para pejuang Palestina kadangkala menyerang tentara Israel, hingga memaksa Israel untuk kembali menutup dan mengisolasi Gaza lagi.

Karenanya, praktis 1,5 juta warga Gaza jadi tawanan. Tahun lalu, gencatan senjata yg diatur Mesir membuat keadaan cukup tenang. Tapi keadaannya jadi hancur lagi di tengsh tuduh-menuduh tentang siapa yg salah dan harus dipersalahkan.

Satu-satunya harapan terletak di gencatan senjata. Namun, apapun kemajuan yang ingin dicapai secara politik sepertinya harus menunggu hasil pemilu di Israel. Sementara, mau tidak mau agresi tetap berlangsung, dan kita sebagai warga dunia juga saudara seiman dari para pejuang Palestina harus merelakan satu persatu pejuang syuhada mati syahid membela tanahnya, tanah Palestina....

http://www.mer-c.org/images/stories/banner-palestine%28468x90%29.jpg