D' Cinnamos - So Would You Let Me Be



we’ve get along together
i should have known
you’re the best that i can love
till now it’s hard for me to face it
why didn’t we meet each other soon

i left them all behind you, only for you
would you believe me
i put my trust on you
but deep inside i realize
that i can’t, no i can’t

they were all my brother
my cry and happiness

*
so would you let me be myself
reach all my my dreams and hopes
i know you’ve known me better
i know you love me, you do

your eyes says more than anything
that really means to me
so darling would you now
would you set me free

Kesibukan Para Malaikat Di Surga

Seseorang bercerita, aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku serta menunjukkan keadaan di surga. 

Memasuki suatu ruang kerja yang penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata," 


Ini adalah Seksi Penerimaan. 
Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah, diterima". 

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia. 

Kemudian,.... 
aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang. lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua. 

Malaikat-ku berkata, 
"Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. 
Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses 
dan dikirim ke manusia-manusia yang masih 
hidup yang memintanya". 

Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. 
Ada banyak malaikat 
yang bekerja begitu keras karena ada begitu 
banyaknya permohonan yang 
dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi. 

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil. 


Yang sangat mengejutkan aku, 

hanya ada satu malaikat yang duduk 
disana, hampir tidak melakukan apapun. 
"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikatku pelan. 
Dia tampak malu. 

"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan 
disini?", tanyaku. 

Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. " 
Setelah manusia menerima rahmat 
yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang 
mengirimkan pernyataan terima kasih". 


"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas Rahmat Tuhan?", tanyaku. 

"Sederhana sekali", jawab Malaikat. 

"Cukup berkata, 
'ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN, 
Terima kasih, Tuhan' ". 


"Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri?”, tanyaku. 

Malaikat-ku menjawab, 

"Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, 
Pakaian yang menutup tubuhmu, 
atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, 
Maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini. 

"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, 
dan uang-uang receh, 
maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia. 

"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu, 
engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu. 

Juga.... 
Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan ... 
engkau lebih dirahmati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini. 

"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat ....Maka,engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia". 

"Jika,........ 
engkau dapat menghadiri Masjid atau pertemuan religius tanpa ada 
ketakutan akan penyerangan, penangkapan, penyiksaan,atau kematian ... 
M a k a,....engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang didunia. 

"Jika,....orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan ... 
Maka,.....engkau termasuk orang yang sangat jarang. 

"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, 
maka,..... 
engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, 
engkau unik dibandingkan emua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan. 

"Jika,...engkau dapat membaca pesan ini, 
maka engkau menerima rahmat ganda yaitu 
bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu, berpikir bahwa engkau 
orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa, engkau lebih dirahmati 
daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali". 

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah Allah anugerahkan kepadamu. 

Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua 
teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa 
dirahmatiNya kita semua. 

"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, 
'Sesungguhnya jika kamu 
bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak 
nikmat kepadamu' ". 
(QS:Ibrahim (14) :7 )

Cukup Diam Saja Jika Belum Siap :)


Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam …
karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya …
kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..
karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu.. menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..
karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu …
ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan ALi ?
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan …
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah
karena dalam diammu tersimpan kekuatan … kekuatan harapan …
hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata …
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padanya ?
dan jika memang ‘cinta dalam diammu’ itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam …
jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus ‘cinta dalam diammu’ itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat …
biarkan ‘cinta dalam diammu’ itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu …
NB. Postingan temannya Aldiansyah
(Share by: Arytha Rusianty)

Inception. Makna baru dari Masterpiece (i hope) :)

Awal saya melihat dan penasaran dengan film ini adalah saat saya tengah menunggu untuk menonton Capitalism: A Love Story. Posternya cukup mengesankan dan menarik untuk saya (seperti bisa kita lihat disamping). Dan siapa yang bermain di sana? Dia Leonardo Dicaprio, yang menurut saya beberapa film yang dia bintangi cukup impresif, seperti Titanic, The Aviator, Blood Diamond, dan Body of Lies. Ada juga Ken Watanabe, yang bermain di The Last Samurai, Batman Begins, Memoirs of a Geisha, dan Letters from Iwo Jima (salah satu film terbarunya yang lain, Shanghai, juga akan rilis hampir bersamaan dengan Inception). Ada juga Ellen Page, aktris muda yang kita kenal lewat X-Men: The Last Stand, Juno, dan Smart Peoplenya itu. Dengan cerita yang ditulis serta arahan langsung dari seorang Christopher Nolan, yang sukses dengan Batman Begins dan The Dark Knight, imajinasi saya seketika bermain, bahwasanya film ini akan se-spektakuler dan segelap The Dark Knight. Mungkin akan lebih spektakuler lagi dengan adanya Leonardo Dicaprio. Entahlah, namanya juga imajinasi.

Film ini juga bersetting di beberapa lokasi yang cukup banyak, seperti di London, Paris, Los Angeles, California, dan juga Tokyo. Sehingga mata kita akan sangat dimanjakan oleh view yang indah.

Mari kita telusuri sedikit ceritanya. Dom Cobb, seorang pencuri yang terampil dan hebat (diperankan Leonardo Dicaprio) mempunyai kemampuan sangat langka, yaitu mencuri rahasia berharga dari mimpi seseorang. Cukup aneh memang kemampuan itu. Dengan "keanehannya", Cobb terkenal sebagai pencuri bergengsi kelas dunia, yang membuatnya terpaksa meninggalkan semua yang ia cintai dan menjadi orang paling dicari di seluruh dunia.
Seperti film The A-Team (semoga anda sudah menonton film ini), Cobb mendapat "kesempatan kedua". Dia diberikan kesempatan untuk bebas dan kembali ke kehidupan normalnya, tapi tentu dengan sebuah syarat, yaitu sebuah "tugas akhir". Tugas itu sendiri, sesuai dengan judul film ini, adalah Cobb diminta untuk menanamkan memori baru ke dalam alam bawah sadar targetnya. Tugas yang aneh, memang, dan tentu saja "dibuat" lebih sulit. Karena tentu target tersebut sangat waspada akan ancaman dari Cobb dan timnya, sedangkan tidak ada perencanaan serta keahlian yang cukup dari "partner kerja" Cobb untuk menghadapi target ini, target yang hanya bisa dilihat oleh Cobb.
Kesan orang yang mendengar cerita ini tentunya satu arah:"bingung, ribet, ruwet, pusing, dan tentu saja PENASARAN."
Bukti lain yang memberikan film ini akan sangat dahsayat adalah user rating yang sangat bagus, hingga mencapai 9,6 dari 10 di imdb.com. Bisa kita bilang, aroma Oscar sudah bisa tercium bahkan sebelum film ini tayang perdana, tanggal 16 Juli besok.
Film ini masterpiece? Mungkin saja :)

Haji Backpacker - Perjalanan Spiritual Tingkat Tinggi

Pasti anda bertanya-tanya, siapa yang pergi haji sambil backpacker-an? Jawabannya jelas bukan saya hehe :p

Saat Orang Sinting Berteori :p

Yap, mendadak malam ini saya mendapat insipirasi yang sedikit gila. Mengapa gila? Just enjoy my writing then hehehe
Di sebuah acara tv, saya mendapat informasi bahwasanya tarif listrik dan bensin kita adalah yang termurah di Asia Tenggara. Dan tebak apa. Saya kaget, tersentak! Padahal informasi ini tergolong rahasia umum, sangat goblok bila ada yang tidak sadar (berarti kita semua kecuali pemerintah dan PLN serta Pertamina hahaha). Lalu sayapun berpikir, kenapa tarifnya tidak disesuaikan saja dengan tetangga-tetangga kita di ASEAN saja? Terdengar sangat zhalim memang, karena yaa tentu saudara-saudara kita yang hidup prihatin bakal makin prihatin saja hidupnya. Terdengar kejam juga, karena ini berarti secara tidak langsung memaksa kita supaya berperilaku layaknya binatang sebagai suatu bangsa, karena yang tidak dapat beradaptasi otomatis mati pelan-pelan. Tapi apa iya keadaan harus selalu disalahkan? Maka dari itu tercetuslah pemikiran gila ini. Naikkan saja tarif listrik, bensin, atau apapun itu hajat hidup orang banyak. Awalnya semua pasti teriak-teriak, ya wajar aja sih. Tapi nantinya toh pasti ada penyesuaian. Semua orang pasti makin berpikir keras buat menutupi defisit belanja mereka. Yang bekerja dengan otot, bakal kerja makin keras. Yang kerja pake otak, bakal kerja makin keras juga. Dan tebak apa? Kita semua bakal lebih pintar dan kreatif di bidang masing-masing lho! Dan bakal makin sehat juga! Dan makin rajin beribadah juga pastinya! Kenapa? Karena ustadz-ustadz makin getol juga ceramahnya buat memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan juga makin banyak orang yang mencari “pelarian” dengan beribadah makin baik J Ya karena kita bekerja makin keras karena semua jadi mahal. Tempat kita bekerja juga tentu senang saat prestasi kerja kita meningkat, dan apa imbalannya? Pendapatan pasti naik dong, kecuali bos anda seorang diktator idiot hehehe. Makin rajinnya kita bekerja di bidang masing-masing, termasuk pelajar, tentunya membuat kita membutuhkan penyegaran yang cukup, dan karena semua sibuk bekerja, tontonan di televisi secara tidak langsung akan meningkat mutu tayangannya, karena tidak semua orang sempat menonton TV lama-lama, ataupun buang-buang waktu buat browsing internet misalnya kecuali memang sangat butuh banget. Secara aspek sosial, tidak ada lagi orang-orang yang buang-buang waktu, tidak ada waktu buat main-main. Semua orang, ya benar semuanya, akan menjadi super-super produktif karena keadaan, yang tidak bekerja malah jadi malu. Hebat kan? Lalu, tarif yang semuanya serba mahal itu juga bakal merepotkan mereka yang punya kendaraan pribadi, dan jadilah kita semua naik kendaraan umum karena keadaan. Semua orang naik kendaraan umum, tentunya menyebabkan kendaraan-kendaraan umum itu fasilitasnya bisa terus meningkat, karena tentunya semua orang butuh, dan orang maunya naik yang nyaman aja kan? Dan tebak apa? Jalanan tidak macet, pekerja makin rajin bekerja, pengangguran makin kreatif buka usaha, pelajar makin rajin belajar karena biayanya mahal, ibadah semua orang jadi rajin karena semua “mengharapkan belas kasihan Tuhan.” :p  Yes, Indonesia menjadi Negara maju! Semua karena keadaan! Itu kan yang kita harapkan, menjadi Negara maju? Dengan begitu kita juga bisa dengan sukses mewujudkan cita-cita Pancasila. Itu menurut saya, karena dalam 1 waktu kita sukses menyatukan misi liberalisme dengan sosialisme, inti dari Pancasila. Walaupun akhirnya menjadi kejam memang, karena yang tidak mampu bertahan saat itu juga akan berguguran. Memang benar apa kata orang, tidak ada satupun kebijakan yang bisa menguntungkan semua pihak, tidak ada win-win solution untuk semua orang. Mesti ada yang mengalah. Mengalah untuk menang J

Toy Story 3: the history of making and a review

Awalnya Toy Story 3 tidak dimaksudkan sebagai garapan Pixar. Ketika hubungan Disney dan Pixar memburuk di tahun 2004, CEO Michael Eisner memamerkan gigi finansial Disney dengan membuat Toy Story 3 tanpa campur tangan Pixar. Walaupun Woody dan Buzz Lightyear lahir dari jari-jari kreatif Pixar, kontrak menjamin bahwa hak milik semua karakter dipegang seutuhnya oleh Disney. Mereka harus ikhlas melepas mainan mereka untuk dikuasai Disney, yang dalam dekade itu filmnya selalu buruk.
Studio yang akan mengerjakan Toy Story 3 adalah Circle 7 Studio, yang merupakan unit baru Disney Studios di bidang animasi 3D. Di tangan studio seumur jagung ini, seri ketiga Woody dkk adalah tentang penyelamatan Buzz yang ditarik masal oleh pabriknya.
“Untunglah” angin berbaik hati dan berubah arah. Kampanye “Save Disney” yang dikomandoi Roy Disney sukses mendepak Eisner dari kursi CEO, sekaligus menempatkan Robert Iger sebagai nahkoda baru di sana. Kemampuan Iger meluluhkan hati CEO Pixar, Steve Jobs, berbuah merger Disney-Pixar yang disahkan pada medio 2006.
Merger ini menempatkan sutradara Toy Story dan Toy Story 2, John Lasseter ke posisi Direktur Kreatif Disney. Dan langkah pertama yang ia lakukan adalah mencabut produksi Toy Story 3 dari Disney Circle 7, dan mengembalikannya ke rumah tempat Woody dan Buzz dilahirkan: Pixar. Ceritanya tidak lagi tentang Buzz yang ditarik pabriknya, tapi tentang mainan-mainan itu ketika dipensiunkan oleh Andy.
Maka, ketika nanti lampu teater dipadamkan, animasi kastil diputar, dan lampu Luxo meloncat-loncat; sebetulnya Anda akan menonton sebuah film yang nyaris digarap oleh tangan yang salah.


Review:
Mainan di kamar tidur Andy tidak hanya merasa aman karena dipakai dengan baik. Mereka juga merasakan sayang, karena bagi Andy kecil, mainan-mainan itu adalah bagian penting dari imajinasi seorang anak yang gembira. Sebelas tahun sejak Toy Story 2 berlalu, Andy telah lulus SMA, dan menuju bangku kuliah; Woody dkk harus menemui kenyataan pahit bahwa mereka tidak lagi penting.
Tetapi manakah yang lebih penting? Menjadi mainan yang membuat gembira anak-anak, atau bersembunyi di loteng rumah demi aman dari kerusakan? Buzz, Jessie, Mr Potato Head, dan Hamm memilih pindah ke taman penitipan anak-anak Sunnyside, di mana mereka tidak akan pernah lagi diabaikan. Walaupun Woody (Tom Hanks) bersikeras bahwa gagasan itu berbahaya, tetapi sambutan hangat dari tetua Sunnyside, Lotso Bear membuat mantap keputusan itu.
Memperhatikan seluloida Toy Story 3 berpendar di layar dan mendengar “You Got a Friend in Me” melantun di teater, seperti membuka buku favorit atau album foto lama. Kita menemukan kembali bagian-bagian yang mengesankan dan kenangan-kenangan yang bagus. Akan tetapi, bisakah kita (dan mainan) menjadi utuh atas kenangan sebuah pernah?
Di seri ke-tiga Toy Story ini, Lee Unkrich menuntaskan petualangan mainan-mainan konyol itu dengan rapi, manis, dan sempurna.


sumber: hermansaksono.com

Capitalism: A Love Story

The film alternates between a fierce critique of the status quo, personal portraits of the suffering caused by the recent economic crisis, and comical social satire. The film begins a series of security footages of bank robberies (one of the robbers was even on a crutch) accompanied by Louie, Louie. Moore then uses an Encyclopædia Britannica archive video to compare the modern-day America with the Roman Empire. The film then depicts home videos of families being evicted from their homes, as well as the "Condo Vultures", a Florida real estate agent whose business flourished with the increasing number of foreclosures.
The film then cuts back to the past "golden days" of American capitalism following World War II, and a "bummer" speech by President Jimmy Carter warning Americans of the dangers of "worship(ping) self-indulgence and consumption." In the following Reagan years where the policies of Don Regan "turned the bull loose" for free enterprises, corporations gained more political power, unions were weakened, and socioeconomic gaps were widened. The film then cuts to the Luzerne County court scandal, Captain Sullenberger's congressional testimony regarding airline pilots' poor treatment, and the expose of "dead peasant insurance" policies that have companies profiting from the deaths of their employees. Moore then interviews several Catholic priests, including Bishop Thomas Gumbleton (Archdiocese of Detroit), all of whom consider capitalism contrary to the teachings of Christianity. The film then presents a mockery of what would happen if Jesus was a capitalist who wanted to "maximize profits", to "deregulate the banking industry" and wanted the sick to "pay out of pocket" for their "pre-existing condition", in contrast with several news pundits who proclaim the success of various capitalist enterprises as being a "blessing from God."
The film then features an internal Citigroup memo[4] happily declaring the United States a "plutonomy" (a society "where economic growth is powered by and largely consumed by the wealthy few"), with the top 1% of the population controlling more financial wealth than the bottom 95% combined. The same report also raises the concern of "societies demanding a more 'equitable' share of wealth". Moore then interviews columnist Stephen Moore, who believes "capitalism is a lot more important than democracy". The film then cuts to codetermination worker cooperatives like Wisconsin's Isthmus Engineering and California's Alvarado Street Bakery, which are owned and run democratically by its employees, as alternative models to the current capitalist system.
After referring to Dr. Jonas Salk, who selflessly gave away the patent of the polio vaccine for the public good ("Would you patent the sun?"), Moore wonders about how the brightest of America's young generation are attracted into finance instead of science. Moore then goes to Wall Street seeking technical explanation about derivatives and credit default swaps, only to be advised "don't make any more movies". Eventually Marcus Haupt, a former VP of Lehman Brothers, agrees to help but fails at clearly explaining these terms. Harvard professor Kenneth Rogoff similarly fails ("These are pretty exotic"). Moore eventually concludes that the complex system and terminology are merely there to confuse and "get away with murder", and Wall Street is just "an insane casino".
Moore then explores the role of Alan Greenspan and the U.S. Treasury in leading up to the United States housing bubble that devastated the American middle class. Moore also interviews a former employee at Countrywide Financial responsible for their VIP program for "FOAs" and details how many members of Congress and political figures received favorable mortgage rates under the program. Moore then discusses with William Black, who analogizes to the build-up of the collapse of a dam. The film then shows the series of events leading up to the passing of 2008 bailout proposed by Treasury Secretary Hank Paulson (also the former CEO of Goldman Sachs). Moore then speaks with several Members of Congress, with Ohio congresswoman Marcy Kaptur supporting Moore's comment that the passing of the bailout is a "financial coup d'état".
Moore interviews Elizabeth Warren, the head of the US Congressional Oversight Committee, the government agency serving as a watchdog for Congress' wrong-doing and investigating Congressional "oversights" (mistakes). He asks her, "Where's our money?", referring to the $700 billion bailout money which Congress gave to the big banks and Wall Street investment companies. There is a dramatic pause and the committee head replies, "I don't know." Advised by Warren to contact Paulson's office for answer, Moore's call is promptly disconnected upon recognition of his identity. He then goes to Wall Street demanding to "get the money back for the American people", but is denied entry into every office building of the major banks.
The film then shows the events leading up to the 2008 U.S. election, where branding of capitalism as socialism occurs as part of the scare campaign. Moore expressing hope that the election of Barack Obama might turn things into the right track. The film then contrasts the present economic reality in America with the policy of US president Franklin D. Roosevelt, who supported the Flint Sit-Down Strike in 1936. Moore also includes a long-lost archival footage of FDR calling for a Second Bill of Rights that would guarantee all Americans "a useful job, a decent home, adequate health care, and a good education."
Moore discusses his own spiritual beliefs as a Catholic, and questions whether Jesus would belong to a hedge fund or sell short. His conclusion, which he elaborated on in more detail after the film's release, is that "you can't call yourself a capitalist and a Christian, because you cannot love your money and love your neighbor."
The documentary features a number of positive portrayals, which include bailout watchdog Elizabeth Warren, Wayne County Sheriff Warren Evans, who put forth a moratorium on home evictions, and Ohio Representative Marcy Kaptur, who on the floor of the US Congress encouraged Americans to be "squatters" in their own homes, and refuse to vacate.
The film closes with Moore placing police lines around numerous banks, and lastly, Wall Street itself. Moore's closing remarks are the following: capitalism is an evil which can only be eliminated, in its place, a better system is that of democracy - rule by the people, not by money.

Kisah Seorang Teman

Cerita ini merupakan pengalaman seorang teman..mudah-mudahan ada hikmah yang bisa diambil :)

Pada sebuah siang di kampus tersohor, berkumpullah 6 orang anak muda yang tengah berdiskusi untuk mengerjakan tugas mereka. Salah satu dari mereka kebetulan berumur 2 tahun lebih tua dari yang lain dan pernah mencicipi dunia perkuliahan di kota lain sebelum masuk di kampus tersohor tersebut. Jadi bisa dibilang manusia yang satu ini sudah tahu bagaimana rasanya jadi mahasiswa.
Kebetulan, tugas yang harus mereka selesaikan itu adalah membuat esai bertema "bentuk pengabdian mahasiswa kepada bangsa dan negara." Tentunya, 5 orang diantara mereka pastilah sangat bingung, karena mereka baru saja lulus sekolah menengah, tepatnya SMA. Di sini, diskusi lebih banyak berisi tentang pembelajaran, karena sebenarnya mereka diminta untuk menyerap semangat Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa di masa transisi Orde Lama menuju Orde Baru itu. Dan, jelas sangat sulit bagi mereka berenam untuk mengerjakan esai itu, karena jelas dunia SMA dengan dunia perkuliahan itu sangat berbeda.

Maka, beruntunglah mereka yang dapat mencicipi dunia pendidikan tinggi, yang diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan diberi kesempatan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

Makan banyak atau jihad, Pak?

(WARNING ADVISORY: BAGI YANG PUNYA PENYAKIT JANTUNG, SEDANG DALAM PROGRAM DIET, TIDAK KUAT MAKAN BANYAK, PUNYA PENYAKIT IRI DENGKI TINGKAT AKUT, saya do'akan menyusul saya makan di tempat ini :D )

Hobi makan sushi sebenarnya dimulai dari kedengkian melihat adik saya yang cukup sering pergi ke PIM bersama temannya, tidak lain tidak bukan adalah makan Sushi. Tentu anda tahu restoran apa yang saya maksud. Dari situ, saya terus melakukan observasi ke beberapa tempat makan sushi yang bisa saya jangkau, tidak lupa sering bertanya ke Google mengenai di manakah sushi terbaik di atas kota Jakarta bisa ditemukan. Akhirnya saya mendapatkan sebuah nama, yaitu POKE SUSHI. Dan proses penelusuran mengenai restoran satu ini pun akhirnya mendapat angin segar melalui Facebook dan Twitter. Di sana, saya cukup sering bertanya kepada manajemennya, kenapa sekarang tidak ada lagi di PIM misalnya, hingga pada akhirnya saya mendapat berita kalau minggu ini, tanggal 7 hingga 13 Juni 2010, Poke Sushi yang salah satunya berlokasi di Darmawangsa Square mengadakan promo khusus buy 1 get 1 untuk ala carte dan All You Can Eat. Saya yang kebetulan menyembah filosofi jawara-jawara makan dunia (makanlah untuk hidup, efisienlah saat makan) tentu sangat tergiur dengan apa yang mereka tawarkan. All You Can Eat, semua bisa anda makan, all items kecuali minum, dan teman yang anda ajak mendapat berkah luar biasa, MAKAN GRATIS!

Karena "megaproyek" ini sangatlah mendadak, maka mau tidak mau saya mengajak adik saya sendiri, dan harus sabar menunggu dia selesai mengikuti ujian semesternya yang berakhir hari Kamis. Menunggu hari itu tiba, sungguh saya tidak bisa tidur, parahnya saya baru bisa tertidur setelah shalat subuh, entah mengapa. Jam 9 pun saya bangun, online sebentar sambil menunggu timing yang pas untuk siap-siap sambil menunggu our lucky girl. Parahnya, dia baru pulang jam setengah 1, maklum juga, namanya baru selesai ujian, pasti banyak cerita-cerita dengan temannya. Jadi, kami berdua dengan ditemani supir resmi meluncur dari rumah jam 1, dan kesabaran saya serta adik saya (dia tidak makan dari pagi, jadi laper banget) diuji selama di jalan karena daerah Darmawangsa memang cukup padat. Akhirnya kami tiba di lokasi "perang", pukul 2 tepat.

Dengan inisiatif saya yang memperkirakan kalau tempat non-smoking pastilah sangat ramai, maka saya pilih di lantai bawah saja, tepatnya di sushi bar, sedikit mojok biar makannya tenang :p
Lalu kami diberikan buku menu yang cukup tebal, dan sebuah KERTAS yang diatasnya bertulis impian jutaan manusia, ALL YOU CAN EAT. Sebenarnya, saya sudah mengobservasi kalau sebaiknya memesan satu-satu saja saat makan, tapi dengan alokasi waktu yang terbatas mengingat pada pukul 4 saya sudah harus di Benhil, jadilah saya seperti banteng mengamuk, memesan 11 (baca: SEBELAS) menu yang ada sekaligus secara random, dari appetizer, soup, all item pokoknya (kecuali main course, saya cuma memesan fried chicken yang porsinya sangat luar biasa sedikit demi menghindari nasi, karena siang itu saya tengah "jihad")

Maka, terpilihlah the lucky eleven, mereka adalah Sushi & Sashimi Combo, Super Crunchy Spicy Roll, Spicy Tuna Roll, Philadelphia Roll, Fried Chicken (main course paling tidak saya rekomendasi), Fried Udon Special, Egg Soy Bean Paste Soup (cuma ada 2 sup, dan ini yg paling mantap karena ada telur), Crunchy Spicy Salmon Roa Roll, Crunchy Dragon Roll, 2 porsi Chef's Special Salmon Salad (appetizer paling spesial), dan California Hand Roll. Ya, 12 porsi dalam 11 menu. Berarti 1 orang "bertugas" menghabiskan 6 porsi, secara teori. Pada prakteknya, saya yang menghabiskan 11 menu, karena orang yang saya ajak makan ini seperti tidak tepat untuk saya ajak berjihad, walaupun dari pagi ia tidak makan. Oh ya, tentunya selama bertempur kami membutuhkan pelicin, yakni minum. Adik saya memilih ocha dingin, dan saya memilih ocha hangat supaya perut saya tetap hangat seperti mesin :D.

Karena saya memesan semua menu sekaligus, 3 chef di depan saya bekerja seperti buruh pabrik, selama 30 menit tidak henti-hentinya membuat hampir 70 roll (lebay sih, tapi mungkin malah lebih). Dimulai dengan appetizer yaitu Salmon salad yang diracik oleh chef nya langsung. Tidak sampai 3 menit, 2 appetizer itu sudah habis. Dan dalam waktu seketika (untunglah tidak mendekati kecepatan cahaya), kami pun dibombardir oleh pasukan sushi dari 3 chef bertangan dewa. 2 waiters yang melayani kami (mungkin yang melayani semua costumer mestinya, tapi kebetulan di lantai bawah sangat-sangatlah sepi) pun kewalahan, tiap 10 menit berganti mengantar pesanan kami, mengambil piring kosong (kalau tidak habis kena charge soalnya), merefill ocha kami masing-masing (tanpa anda minta, mereka berinisiatif sendiri, anda cukup duduk manis "berjihad" saja, dan ini gratis). Tidak banyak detail yang bisa diceritakan, yang jelas saya tidak henti-hentinya mengunyah dan "mengiba" kepada adik saya untuk mau kooperatif menghabiskan semuanya, atau kami kena charge. Dan dengan kecepatan yang (sangat) mengerikan, tepat 1 jam semua menu tandas kami hantam, yang anehnya makanan yang kami santap adalah Egg Soy Bean Paste Soup (sup mestinya dimakan setelah appetizer, tapi malah diantar terakhir), mungkin mereka bermaksud memancing selera makan saya kembali, yang, luar biasa aneh juga, malah bangkit. Sayangnya saya mesti realistis dengan perut saya sendiri, dan adik saya, rekan seperjuangan, yang sudah lemas. Waiters pun sebenarnya juga ikut serta memancing saya untuk memesan ronde ke-2, dengan tak henti-hentinya me-refill ocha kami. Akhirnya, saat waiters me-refill ocha gelas ke 4, saat itu juga saya mengangkat bendera putih dengan meminta bill. Kami berdua pun langsung menghabiskan ocha terakhir ini, mungkin saja sore ini kiamat, dan minuman itu minuman kami yang terakhir. Wallahu 'alam.

Mengingat All You Can Eat bertarif 195 ribu ++(adik saya malah makan gratis), bayar 2 gelas ocha @15 ribu (sebenarnya 8 gelas, tapi refill itu gratis 100%), bayar pajak 10% (warga yang baik taat pajak :D), dan service 5,5% (malah saya tambahin, kasihan mereka karena kami siksa), jatuhlah bill dari langit sebesar 260 ribu. Mahal memang, tapi sangat-sangatlah sesuai dengan apa yang adik saya (karena dia makan gratis, sedangkan saya tidak T_T) dapat. Mungkin lain kali saya akan mengajak semua teman SMA saya yang terkenal barbar (sudah di-blacklist Miyazaki Dago Bandung karena menghabiskan stok 1 hari), dan mungkin saya akan di-blacklist juga dari Poke Sushi (jangan sampai)..

Jadi, begitulah...awas tumpah!! (lap lah mulut anda sekarang, mungkin sudah ada yang tumpah dari tadi :p)

Kenapa ngotot sih?

Sebelumnya, tulisan ini hanya sekedar pendapat penulis yang hanya sekedar warga Indonesia biasa, yang prihatin dengan pihak-pihak yang tidak tahu tujuannya itu apa. Bagi anda yang malah menolak apa yang saya tulis dan mendukung mereka, komentar anda tidak saya butuhkan, tapi silahkan buat tulisan yang lebih baik ya :)

Oke, kita mulai. Sekarang saya mau ngomongin Dana Aspirasi DPR. Pada tahu kan? yah buat mereka yang up to date pasti tahulah, walaupun banyak yang gak peduli. Nah, dana itu, yang jumlahnya cukup mengerikan bagi saya (15 miliar per anggota DPR per daerah pemilihan). Ya memang benar bentuknya pasti program-program dan bentuknya bukan uang mentah. Memang benar bisa membantu program-program daerah karena Pemda-Pemada gak perlu lagi mampir ke Senayan supaya proyek mereka goal. Tapi apa mereka yang mengusung "proyek" dana aspirasi ini pada gak sadar klo dana aspirasi ini malah tidak adil (menguntungkan pembangunan Pulau Jawa maksudnya). Loh kok bisa begitu? Asal anda tahu saja, di DPR sana, Pulau Jawa diwakili 306 dari 550 kursi, yang tersebar di 39 daerah pemilihan. Bandingkan dengan di luar Jawa sana, mereka hanya diwakili 254 kursi dari 38 daerah pemilihan saja. Jadi jelas sekali kan ketimpangannya?

Tapi, saya menyadari sesuatu yang cukup janggal dari Partai Golkar. Eh jadi sebut merk :p. Hahaha gak apa-apalah sekali-sekali ini. Katanya sih, Partai Golkar ini sebenarnya dari awal udah punya "backingan" dari partai koalisi lainnya, katanya begitu..jadi wajar deh mereka ngotot kan? Yang janggal itu, tentunya mereka pasti sadar dong kalau "proyek" ini tembus Pulau Jawa akan sangat "diuntungkan"? Nah, padahal jujur aja, Pulau Jawa (juga Bali) itu BUKANLAH BASIS Partai Golkar. Mereka malah punya basis yang kuat di Indonesia bagian timur. Kok bisa ya mereka "melupakan" konstituennya? Atau ini cuma strategi mereka aja untuk merebut kembali Pulau Jawa kembali? dan "meloloskan" target mereka untuk kembali "menguasai" Indonesia? (kok kasar banget ya bahasanya -.-")

Nah itu menurut saya lho, kita gak tahu apa isi otak mereka. tapi karena tidak ada lagi backingan untuk "proyek" dana aspirasi  yang mereka usung dari mitra koalisi, eh mereka malah punya "proyek" lain. Apa namanya? Katanya sih Dana Desa, besarnya berapa? 1 Miliar per desa, entah cuma sekali aja atau per tahun. Wah menarik nih buat warga desa, pasti banyak simpati sama mereka :p

Ah siapa bilang? Saya yakin kok mereka yang tinggal di desa tidak semudah itu dibodohi seperti dulu. Asal anda tahu saja, kalaupun dana desa ini tembus, semua desa yang jumlahnya 70 ribu ini akan dapat 1 miliar (andaikan tidak dipotong), berarti berapa anggaran yang keluar? Yak benar!! 70 TRILIUN saudara-saudara!! Ini uang lho, bukan daun. Betapa parahnya negara ini kalau "proyek" ini nantinya dikorupsi (seperti biasa). Ini namanya megaskandal! Namanya korupsi berjamaah!! Ada pepatah yang bilang, "mencegah lebih baik daripada mengobati". Untuk kasus ini, saya sangat-sangatlah setuju. Nah karena pada kenyataannya saya ini cuma warga biasa yang suaranya "tidak terlalu" didengar, kayaknya "proyek" ini bisa aja goal. Ya kesannya bagi masyarakat manis sih, pasti banyak yang dukunglah.

Nah, kebetulan saya bukan cenayang, dan masyarakat sekarang sudah pada pintar, ya walaupun yang peduli juga tidak semuanya. Pulau Jawa akan kembali diuntungkan menurut saya? Kenapa? Progress pembangunan di pulau ini, harus diakui lebih maju dari Pulau lain. Terlepas dari faktor dana itu akan rata atau tidak, dana ini cuma akan membuat Pulau Jawa makin makmur, dan pulau-pulau lain "baru mau" makmur. Belum untuk pulau-pulau terpencil, entah tersentuh dana triliunan ini atau tidak kita juga belum tahu. Saya bukannya ngejelek-jelekin Pulau Jawa atau bahkan sakit hati lho sama Jawa. Sebagian besar hidup saya malah dihabiskan di Pulau ini.

Lantas, kalau misalnya dana desa ini tembus, lalu buat apa kita mengadakan otonomi daerah kalo Pemda nya "dimanja" oleh anggota DPR? Tujuan otonomi kan jelas untuk "merangsang" semangat warga daerah. Biarkan saja Pemda datang ke Senayan, belajar me-lobi anggota Dewan supaya proyeknya goal. Nah kalo ada praktek makelar dan upeti-upeti dari Pemda ke DPR, sebenarnya itu cuma bentuk kebodohan anggota DPR saja yang lupa dengan posisinya. Tidak usah jugalah anggota DPR sok-sokan mengganggu ekonomi daerah. Yang ada wibawa anda sebagai wakil rakyat malah turun. Kan tujuan anda masuk DPR juga mencari prestise kan? Jujur ajalah kita, jangan ada dusta di antara kita :p

Jangan juga pertanyakan nasionalisme saya ini. Ya kalau misalnya tidak mau juga negara ini bersatu untuk yang benar, dibuang ke Kanada pun saya tidak menolak. Sudah cita-cita *curcol dikit*

John Legend - Someday (OST August Rush)


As days go by, and fade to nights
I still question why you left
I wonder how, it didn’t work out
but now you’re gone, and memories all I have for now
but no it’s not over
we’ll get older we’ll get over
we’ll live to see the day that I hope for
come back to me
I still believe that
we’ll get it right again , we’ll come back to life again
we won’t say another goodbye again
you’ll live forever with me
someday, someday
we’ll be together
someday, someday
we’ll be together
I heard someday, might be today
mysteries of destinies they are somehow
and are someway, for all we know
they come tomorrow
for today, my eyes are open
my arms are raised for your embrace
my hands are here to mend what is broken
to feel again to walk on the face
I believe there is more to life
oh I love you much more than life
and still
I believe I can change your mind
revive what is dying inside
and someday, someday
we’ll be together
someday, someday
we’ll be together
someday, someday
we’ll be together
we’ll be together
we’ll be together
someday

Selamat Jalan, Ibu bangsa!

Mantan ibu negara Ainun Habibie yang sempat terbaring kritis di rumah sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munchen, Jerman, akhirnya wafat pada pukul 17.30 waktu Jerman pada Sabtu, 22 Mei lalu. Hasri Ainun yang lahir di Semarang, 11 Agustus 1937, merupakan anak ke empat dari delapan bersaudara keluarga H Mohammad Besari.
Tidak banyak kenangan yang beliau ditinggalkan untuk saya secara pribadi sejujurnya. Tapi, jelas dia merupakan seorang sosok low profile dibalik kesuksesan BJ Habibie. Keharmonisan rumah tangga mereka selama 48 tahun bersama bisa terlihat dari betapa setianya seorang Habibie mendampingi jasad almarhumah hingga dimakamkan di Taman Makan Pahlawan. Ibu Ainun juga orang dibalik perjuangan pengakuan donor mata bagi para tuna netra. Beliau juga yang mendirikan Yayasan ORBIT, yang khusus untuk membiayai pendidikan anak-anak berprestasi yang kurang mampu. Kebetulan, beliau juga yang memberi nama ke sebuah SMA di bilangan Tangerang, Insan Cendekia. Tentu tulisan ini tidak bisa mengungkapkan bagaimana kehilangannya kita sebagai suatu bangsa. Bagaimana kehilangannya kita akan sosok keibuan, lemah lembut, penuh kasih sayang di balik kejeniusan seorang BJ Habibie. Tapi, dari kepergiannya, kita menjadi tahu bahwa, kematian itu adalah suatu kepastian yang akan kita semua alami, dan masih banyak pelajaran-pelajaran berharga lainnya yang kita petik. Terima kasih Ibu Ainun untuk segalanya...selamat jalan...

selamat jalan, Maestro!

Hari ini, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ke-102, pada pukul 18.10 malam, Indonesia telah ditinggalkan seorang penyair lagu hebat, Bengawan Solo, yaitu Bapak Gesang, atau lengkapnya Gesang Martohartono.
Sebelumnya, banyak berita bermunculan yang mengatakan bahwa beliau telah meninggal. Kebetulan saya sendiri mengetahuinya dari media jejaring sosial. Cukup menarik bagaimana begitu cepatnya berita yang tidak ada kebenarannya bisa cepat tersebar di dunia maya.
Gesang, yang lahir di Surakarta tanggal 1 Oktober 1917, terkenal lewat lagu Bengawan Solo ciptaannya, yang ia ciptakan ketika ia berusia 23 tahun. Ketika itu sedang duduk di tepi sungai Bengawan Solo, lalu terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu. Proses penciptaan lagu itu sendiri memakan waktu sekitar 6 bulan. Padahal, pada awalnya Gesang muda bukanlah seorang pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu  keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan saja di kota Solo.Lagu Bengawan Solo yang ia ciptakan itu ternyata juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama di Jepang. Bahkan Bengawan Solo sempat digunakan dalam salah satu film layar lebar Jepang, sehingga tak heran bila saat berita yang mengabarkan kalau beliau telah wafat juga sampai ke sana.
Selain Bengawan Solo, beliau juga menciptakan beberapa lagu, seperti Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan pada masa Perang Dunia II. Sayang, ketiga lagu itu kurang mendapat sambutan dari masyarakat.
Dan sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong, pada tahun 1983 Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.
Sayangnya, anak muda jaman sekarang jarang yang mengetahui lagu ini, termasuk saya :D
mari kita simak lagunya..
Dan selamat jalan, Pak Gesang! karya anda tak akan pernah hilang ditelan waktu :)


Kita tidak tahu

sebelum ruh kita dihembuskan Allah ke rahim ibu kita
Kita tidak tahu dimana kita akan dilahirkan
Kita tidak tahu akan menjadi anak siapa
Kita tidak tahu akan diajarkan apa oleh orang tua kita
Kita tidak tahu kemana nasib kita akan berjalan
Kita tidak tahu akan hidup di mana kelak
Kita tidak tahu akan bertemu dengan siapa di masa depan
Kita tidak tahu masalah apa yang akan menyambut kita kelak
Kita tidak tahu akan menjadi apa kita kelak
jadi presiden kah? atau pilot? atau orang kantoran? atau malah....
Kita bahkan tidak tahu kapan kematian mendatangi kita
Kita juga tidak tahu di mana dan dengan cara bagaimana kita mengakhiri hidup

Yang seharusnya kita tahu, tapi mungkin terlupa
adalah bahwasanya kita punya Tuhan, jauh sebelum ruh kita dihembuskan
kita punya Tuhan tempat kita bergantung
sayangnya...kita juga tidak tahu

Sejak...

Sejak aku terkunci di ruang sempit ini
Aku jadi banyak merenung
Bagaimana aku yang dulu pernah jadi putra terbaik bangsa
Sekarang jadi bertetangga dengan perampok pencuri dan pemerkosa
Hanya sementara katanya,
Sebelum aku dipindahken ke ”lubang tikus” lain entah di mana

Dulunya aku aktivis mahasiswa
Berjaket berikatkepala
penuh keyakinan kuteriakkan kata-kata ” Lawan !”
menyumpahi para serdadu bersepatu lars
menyerapahi para birokrat yang ber-monoloyalitas

Kutanggalkan jaketku saat kutinggalkan dunia mahasiswa penuh euphoria
Lalu kuaplikasikan ilmuku untuk mengejar setoran
Takpapa jadi tukang bagi raksasa kapital mancanegara
Yang jelas gaji 8 digit aku dapatkan di tahun ketiga
Buat modal melamar buah hati dari kampus tetangga

Umur 35 aku jadi direktur utama
Rumah tanah mobil semua aku punya
Dan tak lupa , tentu saja, ehm , sekertaris yang jelita

Bahkan sebelum paruh baya aku sudah hampir di puncak dunia
Saat itu sahabatku mengenalkan permainan yang baru
Kau dapat meraih segalanya, katanya, asalkan kau punya kuasa
Lantas aku jadi aktivis parpol ternama
Dan tak lama kemudian aku jadi dirut BUMN terkemuka

Tentu saja aku harus balas jasa pada ”mereka”
Kumainkan semua anggaran, demi mengejar setoran
Tak lupa kusisihkan barang 5-10 M untuk tabungan masa depan
Lantas suatu hari ada proyek raksasa
Dan tentu saja ”mereka ” segera meneriakkan titahnya
”Proyek ini harus jadi milik kita ”
Aku terpaksa menggunakan semua cara
Lobi sini lobi sana, sogok sini sogok sana
Mulai dari karaoke, panti pijat sampai ke Hotel Mulia

Entah siapa yang akhirnya bicara
Saat itu aku hendak setor ke salah satu anggota dewan
Tunai , cek perjalanan lengkap dengan bonus perawan
Tiba-tiba Punggungku ditepuk dari belakang
”Bapak kami tangkap , karena menyalahgunakn uang negara”
Dan besoknya aku jadi foto berita utama
Lengkap dengan seragam biru bertuliskan KaPeKa

Sejak aku terkunci di ruang sempit ini ....
Aku cuma bisa berdoa
Semoga putra dan putriku yang sekarang di Elektro dan Farmasi
tidak bernasib seperti ini....

(lamunanku terbuyar oleh teriakan sipir penjara,
”Pak , ditunggu pengacaranya di muka, katanya vonis bapak akan
dibacakan pukul tiga” )

Padi - Hitam

Campur aduk layaknya gado-gado yang enak

Rasanya saya pernah mengalami perasaan yang sama dulu. Sangat persis sama bahkan. Dua tahun yang lalu. Saat dimana hati dan logika saling beradu dan sama kuatnya. Dulu, saya sudah memilih, dan buktinya pilihan itu tidaklah yang terbaik bagi saya, karena kembali ke posisi yang sama. Seperti membuang 2% jatah hidup saja. Menyedihkan.
Saat ini, diri ini merasa belum mantap melangkah ke salah satu jalan. Bahkan untuk condong bergerak ke depan saja takut. Menyedihkan memang.
Memang benar finansial bukanlah masalah, karena walau bagaimanapun tentu rezeki sudah diatur olehnya. Tapi...apa iya semudah itu?
Memang benar bila yang satu sepertinya sangat menyakinkan untuk dipilih. Tapi...apa iya omongan orang harus selalu di dengar? Apa iya kita diciptakan untuk memuaskan orang lain saja? Sepertinya tidak...
Apa iya.........ah sudahlah.
Biarkan Dia saja yang memutuskan
Toh apa yang terjadi di atas muka bumi tiap detiknya sudah Ia atur di dalam mega blueprint di Lauhul Mahfudz
manut sajalah kita, tidak usah banyak bertanya-tanya, sami'na wa atha'na saja
lagipula belum tentu yang menurut kita bagus, terbaik di dunia bahkan di seluruh jagat raya, bagus juga menurut-Nya
"nurut aja, Bos!!", kata suruhan-Nya
because, just like what Albert Einstein said,"God doesn't play dice."
Believe!! 

Dilema

Dilema
Itu yang saya rasakan, hari ini, pagi ini.
Ingin rasanya membenamkan diri di bawah air terjun dan duduk seharian
Ingin rasanya duduk di pinggir pantai seharian melihat sunrise dan menunggu sunset
Ingin rasanya melempar granat di gedung miring DPR
Ingin rasanya melompat-lompat di Stredford End
Ingin rasanya terbang layaknya Superman dan berkeliling dunia saat ini juga
Ingin rasanya..berdiam diri, merenung..
Mempertanyakan apa yang saya cari 5 bulan terakhir ini
Mempertanyakan apa niat yang saya usung ini benar atau tidak
Mempertanyakan apa sih sebenarnya pilihan yang terbaik dari-Nya
Mempertanyakan apa tujuan saya hidup