Masuk ITB itu.... MURAH!!

Sistem penerimaan mahasiswa-baru (maba) tahun 2011 di ITB menuai banyak pertanyaan dan tentu saja, keluhan. Bagaimana tidak, sekilas dari sekian banyak informasi yang diuraikan dalam situs penginformasian (http://usm.itb.ac.id/) mekanisme pendaftaran dan pembiayaan, ada salah satu poin yang seolah menjadi perhatian utama para pembaca –besar BPPM (Biaya Penyelenggarakan Pendidikan yang dibayar di Muka) yang dituliskan sebesar Rp 55juta. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan seputar jalur undangan: latar belakang, efektivitas, mekanisme penyeleksian, dan sebagainya.

Sedikit curhat, bagi siswa yang memang berasal dari keluarga yang benar-benar tidak mampu bahkan penghasilan orang tua di bawah UMR, mungkin hal itu tidak memberikan efek yang begitu besar. Karena baik besar BPPM dua tahun yang lalu maupun BPPM sekarang yang hampir dua kali lipatnya, sama saja tidak mampu membayar kecuali dengan beasiswa. Jadi, beasiswalah yang menjadi targetnya tanpa memperdulikan besar BPPM tersebut.

Lalu bagaimana dengan siswa yang berasal dari keluarga ‘pas-pasan?’ bagaimana nasib siswa yang berasal dari daerah namun tidak termasuk siswa dari kalangan tidak mampu? Teman-teman, ITB sebenarnya telah mempertimbangkan kekhawatiran tersebut.

100% SNMPTN: undangan dan tertulis
Berdasarkan Permendiknas no. 34 tahun 2010 Perguruan Tinggi wajib menerima paling sedikit 60% mahasiswa baru melalui pola penerimaan mahasiswa baru secara nasional (SNMPTN). Pada pasal berikutnya tertulis bahwa pola penerimaan tersebut dilaksanakan melalui ujian tertulis dan/atau undangan berdasarkan penjaringan prestasi akademik. ITB sendiri menentukan bahwa penerimaan mahasiswa baru tahun 2011 akan dilaksanakan 100% melalui jalur SNMPTN dengan komposisi 60% melalui jalur undangan dan 40% melalui tes tertulis dan/atau keterampilan. Artinya, ITB tidak lagi mengadakan Ujian mandiri (PMBP ITB).

Kritik dan keluhan beberapa kali terdengar baik melalui berbagai media mengenai penerimaan melalui jalur undangan ini. beberapa diantaranya mengkhawatirkan kualitas mahasiswa ITB tidak terjamin karena tidak ada tes, atau mengkhawatirkan siswa cerdas yang menempuh pendidikan bukan di sekolah yang berakreditasi sehingga tidak mendapat undangan. Mengenai hal ini, perlu diluruskan bahwa pada mekanismenya, bukan ITB yang mengundang sekolah tertentu untuk mendaftarkan siswanya mengikuti penyeleksian melalui jalur undangan, tetapi semua sekolah diberi kesempatan untuk mendaftarkan siswanya yang berprestasi sebanyak-banyaknya sesuai ketentuan berikut:
Akreditasi A (Aksel) : 100% terbaik di kelas
Akreditasi A (RSBI/Unggulan) : 75% terbaik di kelas
Akreditasi A (reguler) : 50% terbaik di kelas
Akreditasi B (reguler) : 25% terbaik di kelas
Akreditasi C (reguler) : 10% terbaik di kelas

Melihat ketentuan di atas, ITB telah berusaha memberikan porsi dengan adil dengan fleksibilitas persentase. Sekolah dengan tingkat persaingan lebih tinggi tentu diberikan persentase lebih besar. Walaupun pada pelaksanaannya ITB mempersilakan pihak sekolah untuk mendaftarkan lebih banyak siswanya dengan metode perankingan berdasarkan mata pelajaran yang disertakan dalam Ujian Nasional. Sayangnya, sampai saat penulis menerima informasi dari Kasubdit Penjaringan Mahasiswa (16/02/2011), dari jumlah 17.000 SMA di Indonesia, baru sekitar 500 SMA yang telah mendaftar untuk mengikuti SNMPTN jalur undangan ke ITB. kalau mengaku peduli, saya rasa di sini lah seharusnya kita berperan: memberikan informasi dan persuasi kepada –palingtidak—SMA-SMA di daerah asal agar mendaftarkan dirinya di jalur undangan, sebelum 12 Maret 2011.


Dengan adanya jalur undangan ini, diharapkan ITB dapat mensupport pelaksanaan keterpaduan pelaksanaan pendidikan secara horisontal (dari sabang-Merauke). Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Kita sadari bersama bahwa peminat ujian masuk ITB mayoritas merupakan siswa yang berasal dari daerah perkotaan, terutama dari sekolah-sekolah favorite di kotanya. Berdasarkan pengalaman penulis, tidak banyak siswa daerah yang –bahkan—percaya diri untuk mendaftar. Baik karena masalah kapasitas akademik maupun keuangan.

Kita tidak pernah tahu bahwa seseorang yang biasa-biasa saja dalam mengerjakan soal tes mungkin saja memiliki potensi yang sama atau bahkan lebih besar dari oang yang terampil dan lulus dalam mengerjakan soal tes karena telah terlatih dalam menghadapi soal-soal sejenis, mendapat support lebih besar dan memiliki waktu belajar yang lebih banyak. Sementara seorang yang lain mendapat pendidikan yang biasa-biasa saja –kalau tidak bisa dikatakan seadanya--, harus berusaha membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, dan jarang sekali menemukan soal sejenis itu. melalui jalur ini, kemendiknas mencoba bertindak lebih bijak dengan memberikan kesempatan melalui jalur undangan di mana para siswa dapat bersaing sesuai tingkatannya dengan mempertimbangkan prestasinya di SMA. Selain itu, dalam penyeleksiannya, diterima tidaknya mahasiswa melalui seleksi jalur undangan ini ditentukan oleh ITB dan bukan oleh Panitia Nasional. Dalam hal ini ITB bisa menggunakan kriteria tambahan lainnya disamping prestasi akademik, yang oleh ITB dianggap baik dan bermanfaat untuk masyarakat secara holistik, seperti pertimbangan kebutuhan daerah, kawasan tertinggal dll.nya.  (Hasanuddin Z. Abidin: 2010)

Jadi, saya kira tidak ada yang harus dikhawatirkan dengan adanya jalur undangan ini. tentunya pembuatan sistem ini telah mempertimbangkan berbagai hal termasuk kriteria calon mahasiswa yang dapat diterima. Terkait dengan kecurangan yang mungkin terjadi, panitia telah menetapkan untuk memberikan hukuman berupa pelarangan (blacklist) mengikuti SNMPTN ke perguruan tinggi manapun selama 2 tahun.

Biaya Pendidikan yang dibayar di Muka
Ini dia yang membawa kekhawatiran dan ketakutan yang besar. Pernyataan yang disampaikan ITB di situs penerimaan mahasiswa baru mungkin terdengar agak menakutkan dengan adanya kewajiban membaya BPPM sebesar minimal Rp 55 juta. Ternyata, aturannya tidak sesaklek itu, teman-teman. Ada banyak kesempatan untuk mahasiswa baru mendapatkan subsidi. ITB sendiri memiliki target dari 100% mahasiswa baru baik melalui jalur undangan maupun tes tertulis, minimal 20% mendapatkan kursi gratis alias dibebaskan dari BPPM dan BPPS, minimal 40% mendapat subsidi yang bervariasi antar 25%, 50% atau 75%, sedangkan 40% sisanya diharapkan dapat membayar BPPM lebih besar samadengan Rp55jt. tentu saja angka-angka tersebut merupakan hasil perhitungan berdasarkan data. Saya sendiri yakin, banyak dari calon mahasiswa nanti yang benar-benar mampu untuk membayar lebih besar dari Rp 55juta. Dengan adanya sistem penyesuaian BPPM berdasarkan keadaan ekonomi ini, diharapkan akan mewujudkan sistem pembayaran yang berkeadilan sehingga biaya masuk ITB bisa tetap terjangkau oleh semua kalangan.

Kriteria seperti apa yang berhak masuk ketiga kategori di atas memang belum ada kepastian, namun pendaftar dibebaskan mengisi form kesediaan membayar BPPM sesuai kemampuannya. (Dalam formulir kesediaan membayar BPPM, tertera ketiga pilihan di atas) Hanya saja paling tidak pendaftar mengisi pilihan sebesar 10% penghasilannya perbulan selama 2 tahun. Jika demikian, penghasilan di bawah Rp 5juta berarti  masih diperbolehkan untuk mendapatkan subsidi sebesar 75%. Yang pasti, setelah diterima di ITB, pendaftar akan dimintai beberapa berkas yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan termasuk jumlah tanggungan keluarga walaupun besar gaji sama akan menjadi bahan pertimbangan ke depannya.

Pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul di benak teman-teman adalah: “dari mana ITB akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk mensubsidi?”. SKD ITB mungkin perlu bekerja lebih keras untuk ini.  kita berdo’a dan ikut mengawasi sajalah, jangan sampai kebutuhan dana yang besar menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas ITB, tentunya dengan tetap mengupayakan adanya gerakan yang membantu teman-teman mahasiswa lain menuntaskan masalah pembiayaan kuliah. Mungkin teman-teman dari tim beasiswa telah memulai upayanya melalui GLB. Saya rasa sistem ini sudah baik. tinggal pelaksanaannya. Kalau perlu, kita ikut serta melakukan pengawasan dengan memerhatikan kesejahteraan KM ITB ke depannya. 

Beasiswa BIDIK MISI
Peminat beasiswa bidik misi (biaya kuliah+biaya hidup) dapat mendaftarkan diri ke sekolahnya masing-masing. Untuk selanjutnya kepala sekolah mendaftarkan siswa tersebut sebagai calon penerima beasiswa bidikmisi. Setelah pendaftar tersebut diterima barulah berkas-berkas yang diperlukan –jika ada—akan diminta. Begitu pula dengan beasiswa lain yang diselenggarakan oleh ITB.

Sebagaimana telah diutarakan di atas bahwa ITB menargetkan minimal 20% mahasiswa baru dibebaskan dari biaya kuliah, yang rencananya akan didapat melalui jalur undangan. Namun, apabila ternyata melalui jalur undangan ini jumlah mahasiswa yang berhak masih di bawah 20%, ITB masih membuka kesempatan melalui jalur tes tertulis.

Lalu apa yang dapat kita lakukan terkait isu ini?
Banyak siswa yang mungkin menjadi takut dengan besar BPPM yang disyaratkan ITB. Namun kita bisa meyakinkan mereka bahwa ada banyak beasiswa di ITB, dan selalu ada tempat untuk orang-orang yang mau berusaha mendapatkan apa yang dicitakan. Jangan perbesar image “MAHAL” nya, tapi tonjolkan bahwa mereka –adik-adik kita—bisa berkuliah di ITB dengan  segala potensi yang dimilikinya, termasuk taraf ekonominya. Biarlah protes kita akan biaya yang mahal –yang sebenarnya ditargetkan untuk mahasiswa dengan taraf ekonomi tertentu—hanya didengar pihak rektorat atau sesama mahasiswa saja. Namun perdengarkanlah kepada adik-adik kita segala kelebihan ITB, tentang cita-cita besarnya, tentang prestasi yang akan kita buat di kampus ini maupun di masyarakat, dan sebuah janji bahwa tidak akan ada mahasiswa yang DO karena permasalahan ekonomi. Karena kita akan selalu ada untuk kita. Dan bahwa rektorat juga manusia.
CMIIW

Sumber:
-          wawancara dengan Kasubdit Penjaringan Mahasiswa
-          Keterangan Wakil Rektor bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni
-          Itb.ac.id/usm-itb

Regards,
Karissa Mayangsunda Philomela – 15309008
bius 2009 / penkesma km itb 1011

Thanks for EVERYTHING, Gary Neville!

Ketika saya bangun pagi ini, saya mendapat kabar bahwa Gary Alexander Neville- atau yang biasa kita kenal Gary Neville- telah memutuskan untuk gantung sepatu dari karier sepakbolanya.
Memang, cukup mengejutkan bagi saya walaupun memang akhir-akhir ini ia jarang diturunkan oleh Sir Alex, mungkin dikarenakan kebugarannya yang tidak siap untuk diturunkan di dalam pertandingan.
Walaupun begitu, memutuskan untuk gantung sepatu adalah keputusan yang sangat besar dan tidak main-main, apalagi jika diputuskan di saat musim bertanding tengah berjalan. Benar-benar luar biasa. Seperti kata pepatah, "a real man knows when to quit."
Oh ya, mungkin teman-teman belum pernah mendengar siapa orang ini. Mari saya jelaskan :)
Gary Neville yang bernama lengkap Gary Alexander Neville ini lahir pada tanggal 18 Februari 1975. Ia memulai kariernya pada Juli 1991 dan juga telah bermain di sepanjang karier sepak bolanya di Manchester United, yang membuat dia menjadi seorang "one man club", seperti Paolo Maldini di AC Milan. Dia juga merupakan orang kedua yang paling lama bermain di Manchester United, dibelakang rekannya Ryan Giggs, dengan bermain di 602 pertandingan dan telah mencetak 7 gol.
Ia melakukan debut internasionalnya bersama timnas England pada tahun 1995 dan telah menjadi bagian penting dari Manchester United dan juga timnas England selama lebih dari 10 tahun. Dia bermain di posisi bek kanan, dan merupakan bek kanan yang paling banyak bermain untuk timnas England dengan 85 caps, dan juga pernah menjadi kapten tim Manchester United selama 5 tahun. what a man!
Mungkin anda pernah mendengar Phil Neville, kapten Everton? Benar, ia adalah saudara kandung Gary Neville. Saudarinya, Tracey Neville bermain netball untuk timnas England, ibunya, Jill, adalah seorang resepsionist di Bury F.C., dan ayahnya, Neville Neville adalah mantan pemain cricket untuk Lancashire.
Gaya permainannya yang penuh determinasi dan semangat tak kenal menyerah juga sangat terkenal, sehingga ia sangat disegani juga dihormati baik rekan satu tim ataupun lawannya. 
Arthur Albiston, mantan pemain Manchester United pada era 1974-1988 bertutur seperti dikutip dari manutd.com, 
"Gary’s stopped playing at the very top level. Credit to him for that – it’s not easy to play for Manchester United for almost 20 years, until you’re almost 36 years of age. He’s had a tremendous career. I just hope everybody realises how fortunate we’ve been to have watched him. Gary was one of the most consistent performers in the English league for many, many seasons and could always be relied upon in big games. He’s admitted on many occasions that he isn’t the most naturally gifted footballer, but I think he sells himself a bit short: you don’t play more than 600 games for the biggest club in the world without being a top, top player.It’s a sad day and I know a lot of United fans will be upset. Fans of other clubs? I’m not so sure! Gary always wore his heart on his sleeve and made no secret of his love for United. You could see how much it meant to Gary whenever the club won trophies. We’ll miss him, that’s for sure."
berikut beberapa video yang saya sadur dari Youtube
saat Gary Neville menerima Honorary Doctorate dari University of Bolton


dan ini sebuah video tribute untuknya. So, thank you, thank you for everything Gary Neville! :')

Where Are You, my First Lady?

Tidak terasa bahwa kita telah memasuki minggu ketiga di tahun baru ini. Sebelumnya saya mengucapkan selamat tahun baru untuk yang merayakannya, semoga tahun ini bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, amin.
Kebetulan tidak banyak hal-hal yang mau saya bahas sekarang, walaupun ada yang semestinya kita bahas bersama. Salah satunya tentang isu "kebohongan pemerintah." Saya yakin kalian lebih tahu tentang isu itu, karena kebetulan saya tidak terlalu mengikuti beritanya. Kasus Gayus Tambunan pun terus saja meluas ke berbagai hal, walaupun begitu secara kasat mata sangatlah jelas bahwa kasus ini dibuat agar tidak merembet kemana-mana, tentu karena ada pihak-pihak yang tak mau disalahkan walaupun mereka tahu bahwa mereka bersalah. Klasik memang. Mari kita terus awasi prosesnya.

Oke, sekarang lanjut ke topik yang mau saya bicarakan.
Pasti teman-teman pernah mendengar quote ini:
Behind every great man there stands a woman
menurut Cambridge Advanced Learner's Dictionary, arti quote diatas kira-kira 
said to emphasize that men's success often depends on the work and support of their wives
Benarkah begitu?
Menurut saya benar. Sehebat apapun seorang laki-laki, dia tidak akan memaksimumkan potensinya tanpa "bantuan" wanita. Mari saya tunjukkan contohnya.
Anda pasti tahu sosok bernama Barack Obama, Presiden AS yang kini tengah menjabat. Kesuksesan beliau menjadi presiden, yang semula diragukan untuk hanya menjadi capres Partai Demokrat AS hingga mencapai sukses tertingginya ini, tentu tidak akan terjadi jika tidak ada satu sosok dibelakangnya, sang First Lady, Michelle Obama. Sosok ini mungkin lebih terkenal di telinga kita karena gaya berbusananya yang (konon kabarnya) sangat anggun, menginspirasi banyak orang, dan bila tidak salah juga sudah menjadi icon fashion dunia. Tapi tentu tidak sampai disana saja peran beliau. Sebagai teman berdiskusi Mr. Obama, sosok Michelle bisa kita bayangkan sangat hebat, karena telah menjadikan Mr. Obama menjadikan orang yang begitu hebatnya. Dan menurut saya beliau juga seorang motivator ulung, karena pada masa-masa akhir kampanyenya, Mr. Obama dirundung duka mendalam karena kepergian neneknya (selengkapnya silahkan tonton film dokumenter dari HBO berjudul By the People: The Election of Barack Obama)

Michelle Obama hanyalah salah satu contoh sosok hebat dari begitu banyak sosok wanita hebat lain yang berdiri di belakang tokoh-tokoh hebat. Siapa yang tak kenal alm. Ainun Habibie (sosoknya bisa anda dalami dalam buku "Setengah Abad Prof. Dr.-Ing. B.J. Habibie" ataupun buku "Habibie dan Ainun)? Dan siapa juga yang tak kenal sosok seperti Siti Khadijah dan Siti Aisyah, dua di antara istri-istri Nabi Muhammad SAW?

Dan mengutip pernyataan dari seorang motivator ternama, bahwa untuk meraih sesuatu, sebelumnya kita harus "memantaskan diri" untuk meraihnya. Agak abstrak memang pernyataan ini. Juste moi et Dieu qui le comprend. Wallahu a'lam bish-shawab.

Rabbana hablana min azwajina wadzurriyyatina qurrata a'yuniw waj'alna lilmuttaqiina imaaman

ingin tahu?

PAK HABIBIE sebagai teknokrat indonesia, TERBUKTI
[dengan adanya teori-teori habibie dan menjabat MENRISTEK]

PAK HABIBIE sebagai suami yang romantis, TERBUKTI
[dengan adanya kisah kasihnya dengan ibu Ainun dan buku "ainun habibie"]

PAK HABIBIE punya konsep dan pemikiran tentang pendidikan??!!
Ingin tahu?

ikuti gelaran acaranya di www.insancendekia.org/summit

ikuti kami di twitter @ICsummit untuk mendapatkan info-info terbaru

It's time to change, PSSI!

Hari ini, tanggal 26 bulan 12 tahun 2010, tepat 6 tahun setelah bencana alam tsunami yang memporak-porandakan bumi Aceh. Dan hari ini pula, sebuah tragedi di dunia persepakbolaan nasional kembali terjadi, yang mencoreng nama bangsa kita di mata khalayak dunia.

Chaos terjadi di Stadion kebanggaan rakyat Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno. Ribuan orang terlibat kekisruhan saat mengantre untuk membeli tiket kategori 3 di final leg 2 AFF Suzuki Cup, yang mempertemukan 2 musuh bebuyutan, Indonesia dan Malaysia. Menurut saya, jelas emosi para penonton para penonton gampang tersulut, karena mereka terpaksa menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Namun, ketidakmampuan panitia ticketing yang koordinasinya diatur LOC dan juga PSSI jelas merupakan sumber dari semua masalah.

Kekisruhan ini juga jelas merupakan puncak kegagalan kerja PSSI di bawah Nurdin Halid yang memang kian lama desakan untuk mundur semakin membesar. Pemerintah sebagai pemegang aspirasi rakyat sebenarnya tidak diam seribu bahasa melihat masalah di PSSI. Melalui KSN beberapa waktu yang lalu, memang diharapkan ada perubahan yang dilakukan oleh PSSI. Namun, janji mereka untuk berubah hanyalah sekedar hembusan janji surga.

Hal ini mau tidak mau harus kita maklumi, karena bukan kepada pemerintahlah PSSI harus mempertanggungjawabkan kinerjanya, karena apa yang mereka lakukan hanyalah tunduk kepada otoritas sepakbola dunia atau FIFA. Bahkan, FIFA akan memboikot keterlibatan sebuah Negara di ajang internasional bila terbukti pemerintah Negara tersebut turut campur tangan atau melakukan intervensi ke otoritas sepakbola Negara bersangkutan. Maka, tidaklah heran jika SBY (yang bisa saya bilang sangat taat aturan yang jelas-jelas buruk) tidak banyak berkutik untuk mereformasi PSSI.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi masalah ini?
Kuncinya hanya satu. Menurut saya, jelas aturan FIFA diatas tentu harus segera direvisi. Dan semestinya kekisruhan yang terjadi baru-baru ini sudah menjadi alasan yang cukup bagi Sepp Blatter dan jajarannya. Atau, bila FIFA tidak merasa bahwa aturannya harus direvisi, kinerja Nurdin Halid dan jajarannya selama ini bisa menjadi pertimbangan.

Yah, miris memang, karena resikonya adalah kita tidak bisa mengikuti semua event internasional di bawah koordinasi FIFA. Namun, mengingat bahwa kualitas tim nasional kita (yang walaupun saat ini cukup baik dan membangkitkan euphoria masyarakat) kalah dari bangsa lain, ke-tidakterlibat-an kita di ajang internasional rasanya bukan menjadi masalah. Jika sudah begitu, intervensi PSSI langsung untuk direformasi adalah wajib hukumnya. Garuda di dada!!

HaHaHa

Seru aja denger lagunya. Dan ternyata maknanya (lirik kebetulan dalam bahasa Inggris) sangat memotivasi. So, enjoy it! ;)


hey sweetie, hey sweetie. don't give it up
hey sweetie, hey sweetie, don't give it up
haha
let's go

when it's tough, hahaha
everybody together, hahaha
laugh, yes yes, louder
hahahaha hahaha

today was another hard day
even when the world is noisy
if you just worry, nothing will get done
now, just shake everything off and stand up
if you open that door..

1,2. 1,2,3,4!

the main character on the skylight stage
that's us, it's you
i'm standing in the world
like a burning flame

when it's tough, hahaha
everybody together, hahaha
laugh, yes yes, louder
hahahaha hahaha

if you fall seven times, laugh eight times
even if nothing is working out
you can't just worry about it
now, stretch once, and try again

1,2. 1,2,3,4!

the main character on the skylight stage
that's us, it's you
i'm standing in the world
like a burning flame
the main character on the stage called life
that's us, it's you
i'm standing in the world

it makes you feel better when you laugh together
hahahahaha, like this
you can't just grin with only your eyes. laugh like me
hahahaha hahaha
hahahaha hahaha
laugh, yes yes, louder
hahahaha hahaha

when it's tough, hahaha
everybody together, hahaha
laugh, yes yes, louder
hahahaha hahaha

the main character on the skylight stage
that's us, it's you
i'm standing in the world
like a burning flame
the main character on the stage called life
that's us, it's you
i'm standing in the world

the main character on the skylight stage
that's us, it's you
i'm standing in the world
like a burning flame
(on the skylight stage)

My Way, by Robbie Williams

lagu bagus milik Frank Sinatra yang dibawakan dengan sangat baik oleh Robbie Williams.
Enjoy! :)

#pengakuan

1. Saya (sempat) malu kalau saya kidal
Well, sebenarnya saya sudah sepantasnya bersyukur dilahirkan dalam keadaan seperti ini. Tetapi terkadang, saya merasa sedih menjadi kidal,terutama saat masih kecil, karena saya juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang normal, menulis dengan tangan kanan, makan dengan sendok di tangan kanan seperti orang lain. Memang untuk masalah menggunakan sendok bahkan sumpit, saya sudah cukup mampu untuk menggunakan tangan kanan, walaupun sebenarnya ada sedikit penolakan dari tubuh saya sendiri di situasi tertentu, dan untuk itu saya sangat bersyukur pernah bersekolah di madrasah yang untuk urusan tata cara makan dan minum saja sangat diperhatikan. Coba saja bayangkan bagaimana sulitnya seorang anak normal yang tiba-tiba diperintahkan untuk menggunakan tangan kiri saat makan, tentu saja sult bukan? Karena itu pula, saya tidak bisa membawa kendaraan bermotor, seperti mobil dan motor. Seringkali saya menyalahkan ayah saya yang tidak memberi saya kesempatan karena beliau khawatir dengan keselamatan saya. Tapi di suatu kesempatan baru saya sadari bahwa keputusan itu adalah yang terbaik, ya karena kondisi saya yang kidal ini. Coba saja ada kendaraan bermotor khusus orang kidal, mungkin akan lain ceritanya.
2. Saya ini pendiam dan ansos
Tidak banyak orang yang berani secara frontal untuk menyebut kata-kata diatas sebenarnya, tetapi sebagai manusia yang punya perasaan tentu saya dapat merasakannya, walaupun memang untuk mengubah sifat ini saya akui hingga saat ini saya belum mampu. Jika saja saya boleh beralasan, mungkin masa kecil saya lah yang menjadikan saya seperti ini. Saat kecil, tidak seperti kebanyakan anak-anak yang mempunyai teman bermain di lingkungan rumahnya, saya cenderung menjadi anak rumahan karena saat lahir, karier ayah saya tengah berada dalam puncaknya, dan karena itu beliau sering berpindah-pindah tempat kerja. Sebagai anak kecil, saat itu saya tidak punya pilihan selain mengikuti kepindahan orangtua. Tidak banyak memang teman bermain saya di masa kecil, mungkin hanya adik perempuan saya, pengasuh, dan bawahan-bawahan ayah saya. Di saat itu bisa dibilang saya sangat asyik dengan dunianya sendiri aka. ansos. Di masa-masa seharusnya anak-anak yang sudah semakin besar asyik bersosialisasi, saya harus menghadapi kenyataan bahwa karir orang tua menurun karena konflik dengan rekan kerja. Walaupun orang tua saya sangat pandai menutupi hal ini, tetap saja saya dapat merasakannya. Apalagi saya diajarkan untuk tidak menjadi anak yang banyak cakap. Sudah pasti saya menjadi orang yang pendiam
3. Saya (nampaknya) sangat gampang ...
Mungkin banyak orang yang tidak menyangka, tetapi sahabat-sahabat terdekat yang sangat mengenal saya pasti sangat setuju bila saya mengakui hal ini. Tetapi, cukup banyak alasan mengapa saya tidak punya pacar, apalagi mencari. Selain menurut apa yang saya anut hal itu termasuk mengandung banyak mudharat, sifat ini pastinya juga akan menyakiti pihak perempuan. Ya tentu dong, pasti pihak perempuan sangat sakit hati apabila pihak laki-lakinya ada “rasa” dengan perempuan lain. Jadi, daripada saya menyakiti perasaan orang lain, lebih baik saya aja yang sakit hati ;)

Harry Potter and the Deathly Hallows

Finally, the time has come! Hey, it's not the time for blogging. It's the time to watch THE MOST ANTICIPATED FILM OF THE YEAR!

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 PosterTentu saja bukan Inception, yang alur ceritanya agak bikin pusing, yang saya maksud. Well, ini Harry Potter kawan, HARRY POTTER!
Iyap, Harry Potter yang punya sahabat bernama Ron Weasley dan Hermione Granger. Harry Potter yang sebentar lagi akan memasuki babak akhir hidupnya (berdasarkan novel karangan Bu JK Rowling, tentu saja), yang saking susahnya untuk difilmkan, hingga harus dibuat 2 part, dimana part terakhir (the grand finale of Harry Potter) ditayangkan tahun depan.
Well, saya harap teman-teman sudah membaca novelnya sendiri, jadi tidak perlu saya ceritakan bagaimana ceritanya.
And guys, guess what, film ini akan rilis di Indonesia BESOK tanggal 18 NOVEMBER 2010, tentunya tidak serentak di semua bioskop juga lah ya :p
Dirunut dari IMDB.com, film ini belum punya rating. Well it's not about the rating, right? :)
Tapi seperti apa ceritanya, apakah bagus atau biasa aja, nah sudah ada beberapa orang dari belahan dunia lain yang telah menonton, dan berbaik hati untuk memberi reviewnya.
I think the makers have finally succeeded in crafting a movie that was both fun to watch for casual viewers while also catering to the needs of the hard-core fans who know the books by heart. (Sofie-17, Belgia)
The biggest letdown is how the film doesn't just keep going. After two-and-a-half hours, it doesn't feel like the story's finished. (JeronimusW, Belgia)
Growing up with a series, especially a fantasy can be quite an intimate experience. Now I eagerly await the last part of the series,I'm sure it'll be sad for millions of fans when they bid farewell to this epic and memorable series. Harry, Ron and Hermoine will be forever etched in our minds. (harishkumar_0707, India)
the movie was great, it had a good flow to it, you become attached to the characters and the mystical world they live in, there is always something interesting going on.The interpretation of the 7th and final book is very accurate and does not leave out any major detail. I really enjoyed the movie, it has a runtime of about 145mins but I went into the theatre and it felt like the movie was about 20min long. Overall rating 9/10 (Justin Docherty, Kanada)
There are many twists and turns and highs and lows throughout to keep everyone entertained through to the end.  I took my niece along to this showing for her birthday (she being a Harry Potter expert) and she quotes that "this is the best of the series of films so far, and is actually the first to better the associated book" (Colin_coyne, UK)
Right from the very start, when the Warner Bros logo appears, this film feels different. It makes the first Chris Columbus movies feel like they are from a whole different universe. It is a film about emotions, about characters, about friendship first and foremost and it all happens to take place in a magical world. It's what every single avid Harry Potter reader has been waiting for years. I can see why this is JK Rowling's favourite movie. Summer 2011 cannot be here soon enough. And after that? Oh dear, I am already so sad that it's all going to be over. (Movie Geek, UK)
Ow ow ow...tak tahulah awak harus ngomong apalagi -.-a
Nonton trailernya dulu aja kali ya :)

Five For Fighting - All I Know

I just ... by John Ondrasik



Lonely, yeah that's the word
I leave my heart when I leave her
The days go on forever and the nights do too

One evening out on the road
A half a world away from home
I thought she was sleeping
When the call came through

I said, Darling, it's late, is everything ok
Silence took over the room
Til she said

I... I just Love You
I Don't Know Why, I Just Do
When are you coming home
I'm coming home soon
And I just love you too

Lonely lets me be
For a while she sets me free
I close my eyes and I dream of her

She's lost in my arms
Her head on my heart
And softly she whispers the words

I...I just Love You
I Don't Know Why, I Just Do
When are you coming home
I'm coming home soon
And I just love you too

I'll never stop being amazed
How my 4-year old girl knows exactly what to say

I, I just Love You
I Don't Know Why, I Just Do
When are you coming home
I'm coming home soon
Cause I just love you too

-untitled number 2-


I promise, never to take you for granted
Or utter a word unkind
Never allow my affections to be recanted
Or stop marveling at your behind
Also, marveling at your warmth, your wit
Your refusal to condone animal slaughter
Your wisdom, your laugh
Your inability to boil water
To be your best friend for the rest of my life
And, to thank the god you’re not sure about
For fooling you into being my wife

-Hugh Grant as Paul Morgan in “Did You Hear About the Morgans?”

Happy 5th Anniversary Ascarea Costadinova!!

I say As! it's hot in here! there's must be something in the atmosphere!
As! a....Co! a....Va! a...Ascova!! ONE wish, ONE spirit, ONE ASCOVA!!
Angkatan Sebelas CARe EAch other COaleSce To mAke D' InNOVAtion

everything start here...

"A photograph is like the recipe - a memory the finished dish." ~Carrie Latet



Kebersamaan...






Perjuangan...






Persahabatan...

"A good snapshot stops a moment from running away."  ~Eudora Welty







Keceriaan...













Kebanggaan...


















Time to Say Goodbye



Quando sono solo
Sogno all'orizzonte
E mancan le parole
Si lo so che non c'?luce
In una stanza
Quando manca il sole
Se non ci sei tu con me, con me.
Su le finestre
Mostra a tutti il mio cuore
Che hai acceso
Chiudi dentro me
La luce che
Hai incontrato per strada 


Time to say goodbye
Paesi che non ho mai
Veduto e vissuto con te
Adesso si li vivro.
Con te partiro
Su navi per mari
Che io lo so
No no non esistono piu
It's time to say goodbye.

Quando sei lontana
Sogno all'orizzonte
E mancan le parole
E io si lo so
Che sei con me con me
Tu mia luna tu sei qui con me
Mio sole tu sei qui con me
Con me con me con me 

Time to say goodbye
Paesi che non ho mai
Veduto e vissuto con te
Adesso si li vivro.
Con te partiro
Su navi per mari
Che io lo so
No no non esistono piu 
Con te io li rivivro.
Con te partiro
Su navi per mari
Che io lo so
No no non esistono piu 
Con te io li rivivro.
Con te partiro
Io con te. 

English version:


When I'm alone
I dream on the horizon
And words fail;


Yes, I know there is no light
In a room
Where the sun is not there
If you are not with me.
At the windows
Show everyone my heart
Which you set alight;
Enclose within me 
The light you
Encountered on the street.


Time to say goodbye, 
To countries I never 
Saw and shared with you,
Now, yes, I shall experience them,
I'll go with you
On ships across seas
Which, I know,
No, no, exist no longer;
With you I shall experience them.

When you are far away 
I dream on the horizon
And words fail,
And yes, I know
That you are with me;
You, my moon, are here with me,
My sun, you are here with me.
With me, with me, with me, 

Time to say goodbye, 
To countries I never 
Saw and shared with you,
Now, yes, I shall experience them,
I'll go with you
On ships across seas
Which, I know,
No, no, exist no longer;
With you I shall re-experience them.
I'll go with you
On ships across seas

Which, I know,
No, no, exist no longer;
With you I shall re-experience them.
I'll go with you,
I with you.