Lalu, Kenapa Nokia?

Judulnya memang sedikit memprovokasi, jadi maaf-maaf saja. Yang jelas, era teknologi sekarang ini menjadikan sebuah ponsel wajib hukumnya untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Fiturnya mesti bagus dan mengena di hati, dan juga mesti didapat dengan harga yang sepadan dengan apa yang didapat. Dengan demikian, siapapun tidak akan menyesal membelinya. Betul, kan?

Post ini hanya membandingkan 2 produsen ponsel saja, yaitu SE (Sony Ericsson) dan Nokia. Jadi, mohon maaf apabila hanya 2 produk ini saja yang disoroti. Hal itu didasari dari kenyataan bahwa 2 produsen ponsel ini sangatlah merakyat di Indonesia, terutama Nokia. Berdasarkan survei, alasan yang kuat untuk seseorang tidak membeli SE (dan malah membeli Nokia) adalah harga jual kembali yang murah. Selain itu, tidak ada lagi keunggulan Nokia.
Ya, Nokia memang kaya fitur, tapi apakah fitur itu terpakai sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia yang tipenya "latah"? Terlalu banyak fitur yang mubazir dan jarang atau tak pernah dipergunakan. Seperti, apakah ada di antara kita yang pernah menggunakan fitur PTT di Nokia? Menu yang banyak dan ribet (saking kayanya), tapi tak memenuhi fungsinya. Belum lagi dengan virus yang mengancam hampir semua produk Nokia. Sedang SE, bisa kita sebut tidak mempan virus. Ya, meski yang terkena virus adalah jenis yang ber-OS, seperti P1 atau P990 misalnya, kenyataannya tidak berdampak apa-apa. Apalagi yang hanya ber-platform Java.
Di Eropa (ingat, Nokia berasal dari Eropa) dan Amerika, Nokia tidak ada apa-apanya. Ingat James Bond? Kenapa ponsel yang dipakainya selalu SE? Itu membuktikan kalau SE adalah produk canggih. Malah bisa dikatakan, kalau SE adalah pelopor kecanggihan sebuah handphone. Ingat K750i? Ialah ponsel pertama dengan kamera 2MP di Indonesia. Ingat K600i? Ya, dia adalah ponsel 3G pertama di Indonesia, bahkan jauh sebelum operator di Indonesia menggelar 3G. Ingat P800i? Smartphone ini adalah smartphone pertama di Indonesia, terlebih lagi menggunakan interface touchscreen. Kenapa Nokia tidak membuat touchscreen? Apakah karena kegagalannya memoles Symbian dengan touchscreen? Sampai saat ini baru 5800 Express Music yang touchscreen.
Dalam hal multimedia, belum ada yang dapat menandingi kedahsyatan performa musik dari SE dengan seri W-nya yang fenomenal. Teknologi stereo widening, SensMe, shake control, MegaBass adalah beberapa fitur yang banyak ditiru oleh merk lainnya. Untuk uji kamera pun, hanya beberapa seri dari dari Nokia yang mampu mengalahkan performa hasil jepretan Cybershot-nya. Koneksi internet yang stabil dan cepat, Wi-Fi juga ditemukan pertama di P990i, sebelum Nokia meluncurkan seri N dan E yang berfitur Wi-Fi. Belum lagi aplikasi dan game yang harus sesuai Symbian, karena isu kompatibilitas aplikasi dan game platform Java di Nokia. Sedang SE, platform Symbian dan Java sama mudahnya untuk dijalankan di sistemnya. Tes Java benchmark pun, hampir semua dimenangkan oleh SE.
Karena itu, kembali lagi saya tanyakan, seperti judul post ini "Lalu, Kenapa Nokia?"

Standar Hidup Islam

Islam bukan hanya bicara masalah ibadah, bukan Cuma bicara masalah iman dan amal soleh. Namun Islam adalah ajaran hidup yang lengkap dan sempurna. Termasuk dalam hal ekonomi dan keuangan pun Islam memberikan solusi. Dan ada banyak sekali pelajaran mengelola keuangan yang bisa kita ambil dari ajaran Islam. Dan salah satunya yang akan kita bahas kali ini adalah tips menabung dari Rasulullah Muhammad saw.

Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya. [HR Muslim & Ahmad]

Menyisihkan kelebihan atau menabung, dalam hadits ini dijelaskan maksudnya yaitu untuk berjaga-jaga pada saat miskin dan membutuhkan. Memang sudah menjadi hukum alam bahwa roda perekonomian terus berputar seperti roda pedati. Terkadang kita berada di atas, namun roda yang terus berputar bisa menempatkan kita pada posisi yang paling bawah.

Dan kalau lebih cermat lagi, ternyata ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari hadits ini. Yaitu rumus menabung ala Rasulullah saw, dimana dijelaskan bahwa orang yang mendapatkan rahmat Allah bisa menyisihkan kelebihan, yaitu orang yang berusaha dengan usaha yang baik dan membelanjakan uang secara sederhana. Ada dua syarat untuk bisa menabung, yaitu sumber penghasilan dari usaha yang baik, dan mengelola pengeluaran dengan sederhana.

Mari kita bahas satu-persatu syarat untuk menabung dengan baik ini. Syarat pertama, adalah sumber penghasilannya dari usaha yang baik. Percaya atau tidak hanya uang halal yang bisa ditabung. Sedangkan untuk yang haram tidak bisa atau sangat sulit sekali untuk diinvestasikan. Tidak percaya?

Coba simak pemberitaan di media masa, kemana para koruptornya menyimpan uang hasil korupsinya? Mereka tentunya tidak akan berani menyimpan aset atas namanya sendiri, bisa terlacak aparat nanti. Mereka ternyata menyimpan uangnya di luar negeri agar tidak mudah terlacak, kalupun disimpan di dalam negeri asetnya bukanlah atas nama sendiri, melainkan dibuat atas nama saudara atau orang lain agar tidak ketahuan. Intinya, uang haram sulit untuk disimpan.

Simak juga cerita kriminal yang bisa kita baca di surat kabar. Bagaimana dengan mudahnya polisi menciduk para pelaku kriminal seperti perampokan atau penjambretan. Yaitu dengan melacaknya di tempat mereka biasa minum atau bersenang-senang. Karena harta haram cenderung mudah sekali dihabiskan dengan berfoya-foya. Itulah kenapa para perampok ini tidak pernah kaya walaupun sudah mendapatkan mangsa besar, dan mereka juga harus terus merampok untuk mempertahankan hidupnya. Karena mereka tidak bisa menyimpan harta haram yang diperolehnya.

Itu kesimpulan kita pertama, bahwa hanya harta halal yang bisa disimpan atau diinvestasikan. Syarat kedua untuk bisa menabung dengan baik yaitu pengeluaran yang sederhana.

Pengertian sederhana mungkin sulit untuk ditentukan batasan rupiahnya. Seperti apa sih hidup yang sederhana itu? Katakanlah A memiliki penghasilan Rp 10 juta per bulan dan pengeluarannya Rp 8 juta, sedangkan B berpenghasilan Rp 3 juta dan semua penghasilannya dihabiskan bulan itu juga. Mana yang lebih sederhana, A atau B?

Lalu bagaimana dengan seorang komlomerat yang penghasilannya terus mengalir bukan cuma dalam hitungan bulan namun dalam hitungan hari. Apakah ia dikatakan sederhana atau mewah jika menggunakan mobil Jaguar yang tak sampai 1% dari total asetnya.

Ada sebuah kisah menarik berkaitan dengan hidup sederhana ini. Alkisah suatu hari pada masa kejayaan Islam, di bawah pemerintahan yang bijaksana, penduduk hidup dengan sejahtera. Bahkan konon dikabarkan dana zakat yang terkumpul demikian besarnya, dan sulit sekali mencari seseorang yang berhak untuk menerima zakat karena bisa dikatakan pada saat itu sulit untuk mencari orang miskin.

Standar hidup miskin pada saat itu pun demikian tingginya bahkan seseorang bisa dikatakan miskin jika ia hanya memiliki rumah, kuda, dan seorang pembantu rumah tangga tanpa harta lain yang berarti. Rumah adalah harta yang wajib dimiliki untuk tempat berteduh, kuda adalah alat transportasi utama yang semua orang membutuhkannya. Dan pembantu rumah tangga penting peranannya dalam sebuah keluarga. Ketiga komponen ini bisa dikatakan sebagai standar hidup sederhana karena semuanya adalah hal yang perlu dimiliki oleh semua keluarga.

Jika kita analogikan hal ini pada kehidupan sekarang di sekitar kita. Apakah pantas kita katakan bahwa standar hidup sederhana adalah memiliki rumah sendiri, mobil atau setidaknya sepeda motor sendiri, dan mampu menggaji seorang pembantu rumah tangga.

Sulit memang untuk menilai kesederhanaan. Dalam hal ini, pada umumnya ada dua batasan yang biasanya digunakan masyarakat dalam menilai seseorang itu hidup sederhana atau mewah.

Batasan pertama yaitu kemampuannya sendiri. Seseorang dikatakan hidup sederhana jika ia bisa hidup dalam batasan kemampuannya sendiri. Sebaliknya, seseorang akan dikatakan hidup mewah jika ia memaksakan diri dengan gaya hidup di luar batas kemampuannya.

Batasan kedua yang bisa kita katakan sebagai hidup sederhana adalah lingkungan. Walaupun seseorang mampu untuk membeli mobil merk apa saja berapapun yang ia mau, namun jika hal itu menimbulkan kesenjangan terhadap lingkungannya, maka bisa dikatakan itu bukanlah hidup sederhana.

Harapan di Masa Datang

Hasil perhitungan cepat aka. Quick Count, entah itu independen atau ditunggangi berbagai kepentingan, menempatkan pasangan nomor tengah dari ketiga calon presiden periode mendatang...memang belum final hasilnya, toh hasil dari Event Organizer aka. KPU juga belum keluar...tapi harapan dari saya simpel aja, toh tak didengarkan juga tidak apa-apa..

Pertama, siapapun yang memimpin nanti, entah pro rakyat, atau yang melanjutkan, atau yang lebih cepat, harus kembali mendeklarasikan Gerakan Disiplin Nasional aka. GDN. Memang gerakan itu adalah produk Orde Baru yang (sepertinya) dianggap hina, tapi toh gagasan ini (dulu) sangat bagus, walaupun (lagi-lagi) prakteknya sulit juga..minimal hal-hal kecil bisa diperbaiki, seperti menyeberang jalan di zebra cross atau jembatan penyeberangan, pendisiplinan jalur busway, sikap berkendara, dan lain-lain..intinya, mental masyarakat itu haruslah dibina, tentu bukan lagi dengan tipe doktrinisasi lagi seperti dulu, tapi lebih ke bimbingan yang persuasif, kecuali apabila masih ada yang melanggar ya itu urusan beda lagi, tetap hukum (yang berdasarkan Undang-Undang, bukan berdasarkan Rupiah) yang bertindak.
Kedua, menyambung harapan pertama, galakkan kembali Gerakan Nasional Orang Tua Asuh. Dan tentu gerakan ini bukan cuma terpusat di Jakarta saja, namanya juga nasional. Dalam UUD'45, landasan hukum kita dalam bernegara, memang urusan hidup orang-orang terlantar (fokus ini ke anak-anak saya minta, karena yang berusia kanak-kanak ilegal namanya bila dipekerjakan) dipelihara negara. Melihat bangsa ini yang sudah merdeka 60 tahun lebih, hal ini memang sulit terwujud karena banyak pos-pos belanja negara dari Sabang sampai Merauke. Jadi biarlah para dewasa-dewasa yang sudah mapan dan bahagia tapi masih merasa kurang bahagia dengan kehadiran buah hati yang menjaga anak-anak terlantar itu.
Ketiga, galakkan lagi (segalak-galaknya) program KB, dan bila perlu cara negara China menerapkan hal serupa kita tiru juga, yaitu ditindaknya orang-orang yang masih saja terus memenuhi bumi kita yang makin sempit. Berbagai alasan penolakan pasti ada, seperti melanggar hak oranglah, atau bahkan melanggar hidup mereka yang merasa kedinginan di malam hari sehingga butuh kehangatan (dan selanjutnya terserah anda). Program ini secepatnya harus sukses, karena tidak mungkin pertumbuhan ekonomi yang mengikuti hitungan deret saja harus meladeni kebutuhan manusia-manusia yang terus bertambah bak jamur (bukannya saya menghina makhluk Allah) yang tumbuh mengikuti deret eksponensial. Mengiringi program ini, harus disebarkan juga program Inisiasi Menyusu Dini aka. IMD, yaitu program dimana calon ibu diberi penyuluhan untuk menjadi ibu kelak, seperti ASI Eksklusif misalnya. Program ini (yang belum pernah disebarkan ke masyarakat) jelas sangat menguntungkan.
Biasanya, entah di rumah sakit bersalin atau bidan sekalipun, bayi yang baru lahir langsung dipisahkan dari ibunya, yang katanya (karena saya sendiri belum pernah mengalami punya anak) itu prosedur, seperti dimandikan, ditimbang, di-inkubator. Mulai sekarang, jangan lakukan proedur-prosedur itu dulu! Langsung letakkan bayi anda yang baru lahir ke bumi itu ke tubuh anda, dan biarkan bayi anda mencari jalan untuk menyusu (namanya jug inisiasi). Biasanya butuh 30-60 menit hingga bayi sukses menyusu, dan tentu butuh kesabaran dari sang ibu, tapi hal itu terbayar! Colostrum, zat penting yang hanya keluar dari susu ibu di beberapa menit setelah melahirkan bisa didapatkan bayi (sehingga lebih sehat nantinya), zat oksitosin di tubuh sang ibu pun bisa menghilangkan rasa nyeri setelah melahirkan, resiko kanker payudara sang ibu bisa menurun, si bayi pun mudah "memposisikan" dirinya saat akan menyusu lagi (dari pengalamannya bermenit-menit bergulat di atas tubuh sang ibu) sehingga sang ibu tak perlu repot-repot lagi, dan juga dapat menghemat anggaran sang ibu juga! FYI, apabila seluruh ibu di Indonesia mau menerapkan hal ini juga ASI Eksklusif, yang berarti tidak memberikan susu kemasan sama sekali sekitar 6-12 bulan atau lebih, uang yang dapat dihemat mencapai Rp 2 Triliun lebih! Itu dari anggaran untuk membeli susu saja, anggaran apabila si bayi sakit diare misalnya..tentu uang yang bisa dihemat bisa digunakana ke pos-pos belanja lain, atau bahkan ditabung!
Luar biasa, kan? Dan semua itu hanya sekedar harapan jika pemerintah tidak berinisiatif sama sekali.

Pohon buatan, serap emisi karbon 1000X lebih banyak dibanding pohon alami..!


Ide brilian bisa datang dari mana saja. Untuk tugas sekolah, sepuluh tahun lalu, Klaus Lackner menyarankan anak perempuannya membuat penyerap debu. Ternyata tugas sekolah sang anak memantik profesor geofisika di Universitas Columbia, Amerika Serikat, itu berpikir lebih jauh.
Dia lantas merancang alat penyerap karbon dioksida dari polusi kendaraan bermotor dan pabrik. Dinamai "pohon sintetis", alat itu bisa menyerap CO2 seribu kali lipat dari pohon alam.

Kini Laboratorium Global Research Technologies, Colorado, mengembangkan pohon sintetis berbahan aluminium. Dan Komisi Energi Amerika telah menyetujuinya. “Tujuan akhir proyek ini adalah menyingkat 100 ribu tahun penyerapan polusi oleh pohon menjadi 30 menit saja," kata Lackner kepada CNN pekan lalu.

Bentuk pohon sintetis mirip antena penyerap sinar ultraviolet--berukuran 30 x 5 meter. Dasar kerjanya sama, yakni menghadang karbon dioksida di udara. Seperti pohon asli, panel Lackner mampu mengembuskan oksigen. Sisa karbon bisa dipakai untuk mesin pengeboran minyak lepas pantai, hidrokarbon, atau avtur. Berikut cara kerjanya:


Satu pohon sintetis bisa menyerap karbon dioksida seluas satu hektare, atau setara dengan 90 ribu ton CO2 (emisi dari 15 ribu mobil) dalam setahun. Jika pohon sintetis bisa diproduksi massal dan efektif bekerja di negara-negara maju, emisi karbon di dunia bisa berkurang setidaknya seperlimanya.

Setiap tahun ada 29 miliar ton karbon dioksida terpompa ke atmosfer: 80 persen berasal dari kendaraan bermotor. Setiap 1 gram bensin menghasilkan 3,14 gram karbon dioksida. Di Indonesia, konsumsi bensin per tahun mencapai 584 juta barel per tahun. Artinya, ada 291,5 juta ton karbon dioksida yang kita hasilkan dalam satu tahun.